Wahai saudara-saudaraku, pada masa Rasulullah Muhammad ﷺ, pernah wafat salah seorang sahabat. Kaum Muslimin pun memandikan, mengkafani, dan menyalatkannya, lalu membawanya ke pemakaman Baqi’.
Ketika hendak dimakamkan, Nabi ﷺ melihat liang lahadnya belum rata, maka beliau bersabda: “Ratakanlah lahad ini.”
Para sahabat merasa heran dan mengira itu adalah kewajiban syariat. Maka beliau menjelaskan:
“Sesungguhnya hal ini tidak memberi manfaat atau mudarat bagi mayit, tetapi Allah mencintai jika seseorang melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.”
Inilah prinsip besar dalam Islam: bekerja dengan itqān (kesempurnaan dan profesionalitas), baik dalam urusan agama maupun dunia.
Itqān: Sifat Allah dan Jalan Keberhasilan
Cukuplah bagi kita mengetahui bahwa kesempurnaan adalah sifat Allah Ta’ala:
“(Itulah) ciptaan Allah yang menyempurnakan segala sesuatu.”
Segala yang kita lihat—langit, bumi, manusia, hingga makhluk terkecil—semuanya diciptakan dengan ketelitian dan kesempurnaan luar biasa.
BACA JUGA: Apa Hukum Bekerja di Bank?
Karena itu, setiap pekerjaan yang kita lakukan—mengajar, memimpin, mengobati, berdagang, atau melayani masyarakat—harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Amanah pekerjaan menuntut hasil terbaik.
Pentingnya Ikhlas dan Itqān
Allah tidak menerima amal kecuali yang ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi ﷺ. Namun, amal juga harus dilakukan dengan baik dan benar.
Dalam hadits tentang orang yang salah shalatnya, Nabi ﷺ menyuruhnya mengulang shalat berkali-kali karena belum dilakukan dengan benar, hingga beliau mengajarkannya tata cara shalat yang sempurna.
Ini menunjukkan bahwa ibadah tanpa kesempurnaan pelaksanaan bisa tertolak.
Itqān dalam Kehidupan
Kesempurnaan dalam bekerja adalah sebab kemajuan dan keberhasilan. Sebaliknya, kelalaian dan kecerobohan hanya akan membawa kerusakan dan kemunduran.
Pesan ini berlaku untuk semua:
Petani
Guru
Dokter
Pedagang
Pekerja apa pun
Semua dituntut untuk bekerja dengan sebaik-baiknya.
Menempatkan Orang yang Tepat
Dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda bahwa jika amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran. Ketika ditanya bagaimana amanah disia-siakan, beliau menjawab:
“Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya.”
Ini menunjukkan pentingnya profesionalitas dan spesialisasi. Allah juga berfirman:
“Maka bertanyalah kepada ahlinya jika kalian tidak mengetahui.”
Contoh nyata adalah ketika adzan pertama kali disyariatkan. Meskipun ada beberapa sahabat yang siap melakukannya, Nabi ﷺ memilih Bilal karena suaranya lebih merdu dan lebih tepat untuk tugas tersebut.
BACA JUGA: Niat saat Bekerja
Penutup
Wahai kaum Muslimin, kemunduran sering terjadi karena hilangnya rasa tanggung jawab dan tidak adanya kesungguhan dalam bekerja.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
Kesimpulan:
Itqān (kesempurnaan kerja), keikhlasan, dan penempatan yang tepat adalah kunci keberhasilan dunia dan akhirat.
Semoga Allah memperbaiki keadaan kita, membimbing kita untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, dan memberikan akhir yang baik dalam segala urusan. []
SUMBER: AR-ISLAMWAY.NET
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

