Minggu, 8 November 2026

Shalat Tasbih dan Hikmah Larangan Shalat pada Waktu Tertentu

Jumlah Rakaat Shalat

Islam memberikan tuntunan ibadah yang luas bagi umatnya. Selain salat wajib, terdapat berbagai salat sunah yang dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan memperbanyak zikir kepada-Nya. Salah satunya adalah salat tasbih, yaitu salat yang di dalamnya terdapat bacaan tasbih dalam jumlah tertentu.

Di samping itu, Islam juga mengatur waktu-waktu tertentu yang dilarang untuk melaksanakan salat sunah. Larangan tersebut mengandung hikmah dan pelajaran bagi seorang muslim. Dengan memahami tuntunan ini, kita dapat menjalankan ibadah dengan lebih baik serta mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.

BACA JUGA: Dia Tidak Shalat, tetapi Orangnya Baik

Daftar isi
  1. Tuntunan Salat Tasbih
  2. Salat Sunah pada Waktu-Waktu Terlarang
  3. Tiga Hikmah Larangan Shalat pada Waktu Tertentu
  4. Mengapa Larangan Dikhususkan pada Salat?
  5. Penutup

Tuntunan Salat Tasbih

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya:

“Wahai pamanku, maukah engkau aku berikan sesuatu, aku anugerahkan kepadamu, dan aku ajarkan kepadamu? Engkau mengerjakan salat empat rakaat. Pada setiap rakaat, engkau membaca Al-Fatihah dan satu surah dari Al-Qur’an.

Apabila engkau telah selesai membaca, ketika masih berdiri, bacalah:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

‘Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Mahabesar.’

Bacaan tersebut diulang sebanyak lima belas kali. Kemudian engkau rukuk dan membacanya sepuluh kali. Setelah bangkit dari rukuk, bacalah sepuluh kali. Ketika sujud, bacalah sepuluh kali. Setelah bangkit dari sujud, bacalah sepuluh kali. Kemudian sujud kembali dan bacalah sepuluh kali. Setelah mengangkat kepala dari sujud, bacalah sepuluh kali sebelum berdiri.

Dengan demikian, jumlahnya menjadi tujuh puluh lima kali dalam satu rakaat. Lakukan hal tersebut pada setiap rakaat hingga selesai empat rakaat.

Jika engkau mampu, kerjakanlah salat ini setiap hari sekali. Jika tidak mampu, kerjakanlah setiap Jumat sekali. Jika tidak mampu, kerjakanlah sebulan sekali. Jika masih tidak mampu, kerjakanlah setahun sekali. Jika tetap tidak mampu, kerjakanlah sekali seumur hidup.”

(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Salat tasbih dalam riwayat tersebut mengandung banyak bacaan zikir. Melalui ibadah ini, seorang hamba diajak untuk memperbanyak tasbih, pujian, dan pengagungan kepada Allah.

Namun, perlu diketahui bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan hadis salat tasbih dan pensyariatannya. Karena itu, pembahasan tentang salat ini hendaknya disampaikan dengan memperhatikan perbedaan pendapat tersebut.

Salat Sunah pada Waktu-Waktu Terlarang

Pada waktu-waktu tertentu, seorang muslim dilarang melaksanakan salat sunah yang tidak memiliki sebab. Salat tasbih termasuk salat sunah yang tidak terikat dengan sebab tertentu.

Adapun salat yang memiliki sebab, seperti salat tahiyatul masjid ketika masuk masjid dan salat gerhana ketika terjadi gerhana, memiliki pembahasan tersendiri. Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehannya pada waktu-waktu terlarang.

Perbedaan ini menunjukkan pentingnya memahami dalil dan penjelasan para ulama sebelum menentukan hukum suatu ibadah. Seorang muslim hendaknya tidak hanya memperhatikan keinginan untuk memperbanyak ibadah, tetapi juga memastikan bahwa ibadah tersebut dilakukan sesuai tuntunan syariat.

Tiga Hikmah Larangan Shalat pada Waktu Tertentu

Larangan melaksanakan salat pada waktu-waktu tertentu mengandung sejumlah hikmah. Dalam penjelasan ulama yang menjadi dasar naskah ini, terdapat beberapa alasan yang dapat direnungkan.

Pertama, menghindari keserupaan dengan penyembah matahari.

Sebagian kaum yang menyembah matahari melakukan peribadatan pada waktu matahari terbit dan tenggelam. Larangan salat pada waktu-waktu tersebut menjadi salah satu bentuk penjagaan agar kaum muslimin tidak menyerupai praktik peribadatan mereka.

Kedua, menghindari waktu yang berkaitan dengan tanduk setan.

Dalam hadis Rasulullah ﷺ disebutkan bahwa matahari terbit dan tenggelam di antara dua tanduk setan. Karena itu, beliau melarang salat pada beberapa waktu tertentu, termasuk ketika matahari terbit dan ketika hampir tenggelam.

Penjelasan ini berkaitan dengan perkara gaib yang disampaikan melalui hadis. Seorang muslim hendaknya mengimaninya sebagaimana yang diberitakan Rasulullah ﷺ tanpa mereka-reka hakikatnya.

Ketiga, memberikan variasi dalam pelaksanaan ibadah.

Manusia memiliki kecenderungan merasa bosan apabila melakukan suatu kegiatan dengan pola yang sama secara terus-menerus. Adanya waktu-waktu larangan salat dapat menjadi salah satu hikmah yang mengarahkan manusia untuk mengatur dan memvariasikan ibadahnya.

Meskipun demikian, hikmah ini tidak boleh dianggap sebagai alasan utama yang berdiri sendiri untuk menetapkan hukum. Ketentuan larangan salat tetap harus didasarkan pada dalil syariat.

Mengapa Larangan Dikhususkan pada Salat?

Pada waktu-waktu yang dilarang untuk salat, seorang muslim tetap diperbolehkan melakukan berbagai bentuk zikir, seperti membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahmid, dan beristigfar.

Hal ini karena larangan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan salat pada waktu-waktu tertentu, bukan larangan untuk mengingat Allah secara mutlak.

Salat memiliki rangkaian gerakan khusus, mulai dari berdiri, rukuk, i‘tidal, hingga sujud. Karena itu, ketentuan waktu dalam pelaksanaannya memiliki aturan tersendiri yang harus diperhatikan.

Dengan memahami hal tersebut, kita dapat membedakan antara larangan melaksanakan salat dan anjuran untuk tetap menghidupkan hati dengan zikir kepada Allah.

BACA JUGA: Termasuk Larangan Wanita Haid

Penutup

Memperbanyak ibadah merupakan amalan yang mulia. Namun, semangat beribadah harus selalu disertai dengan ilmu agar setiap amalan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Salat tasbih mengajarkan kita untuk memperbanyak zikir dan mengagungkan Allah. Sementara itu, larangan salat pada waktu-waktu tertentu mengingatkan bahwa ibadah memiliki aturan yang harus dihormati.

Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang senantiasa mengingat-Nya, dan kemampuan untuk beribadah sesuai dengan petunjuk Rasulullah ﷺ.[]

Tinggalkan komentar