“Dia memang tidak shalat, tetapi orangnya baik. Suka menolong, ringan tangan, sopan kepada orang lain, dan tidak pernah mengganggu siapa pun.”
Kalimat seperti ini terkadang kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Kebaikan akhlak memang patut dihargai. Namun, apakah akhlak yang baik dapat menggantikan kewajiban shalat?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang yang bersedekah, baik dalam pergaulan, berakhlak mulia, menyambung silaturahmi, dan melakukan berbagai kebaikan, tetapi meninggalkan shalat, tidak mendapatkan manfaat dari amal-amal tersebut di sisi Allah sebagaimana mestinya. (Lihat Majmu‘ Fatawa wa Rasa’il karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).
BACA JUGA: Menghadirkan Hati dalam Shalat: Meraih Kekhusyukan dan Kedekatan kepada Allah
Nasihat ini mengingatkan kita bahwa kebaikan akhlak tidak boleh dijadikan alasan untuk meremehkan shalat.
Shalat bukan sekadar salah satu amal saleh di antara banyak amal lainnya. Shalat lima waktu merupakan kewajiban utama seorang Muslim yang telah balig dan berakal. Ia adalah bentuk penghambaan kepada Allah yang tidak dapat digantikan dengan sedekah, keramahan, ataupun kebaikan kepada sesama.
Allah berfirman, “Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103).
Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2621; dinilai sahih oleh sejumlah ulama).
Hadis ini menunjukkan betapa seriusnya perkara meninggalkan shalat. Para ulama berbeda pendapat mengenai status orang yang meninggalkan shalat karena malas tetapi masih mengakui kewajibannya. Karena itu, persoalan ini tidak boleh dijadikan alasan untuk sembarangan menghakimi individu tertentu.
Lantas, bagaimana seharusnya kita bersikap?
Jika ada saudara, teman, atau anggota keluarga yang dikenal baik tetapi tidak menjaga shalat, jangan merendahkan kebaikannya. Namun, jangan pula diam seolah-olah meninggalkan shalat bukan masalah. Nasihatilah dengan lembut, tunjukkan kepedulian, dan ajaklah ia kembali menunaikan kewajibannya kepada Allah.
BACA JUGA: Menjaga Pandangan dan Meraih Kekhusyukan dalam Shalat
Bagi diri sendiri, jangan merasa cukup dengan menjadi orang baik di hadapan manusia. Kita juga harus memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah yang diwajibkan-Nya.
Jangan sampai kita sibuk berbuat baik kepada manusia, tetapi melalaikan kewajiban kepada Allah. Akhlak yang mulia dan ketaatan dalam beribadah semestinya berjalan beriringan.
Semoga Allah menjaga shalat kita, memperindah akhlak kita, dan menjadikan kita hamba yang baik di hadapan manusia sekaligus taat kepada-Nya. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311