Dalam shalat, seorang Muslim membaca kalimat Assalamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh ketika tasyahud. Kalimat ini merupakan salam yang ditujukan kepada Rasulullah ﷺ. Namun, apa makna salam tersebut, terlebih ketika beliau telah wafat dan kaum Muslimin berada jauh dari Madinah?
Makna Salam kepada Rasulullah ﷺ
Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa salam kepada Rasulullah ﷺ memiliki makna memohon keselamatan dan perlindungan bagi beliau.
Kata As-Salam juga merupakan salah satu nama Allah, yang menunjukkan bahwa Allah Mahasuci dari segala kekurangan. Dengan demikian, ucapan Assalamu ‘alaika dapat dimaknai sebagai doa agar Allah senantiasa menjaga, melindungi, dan memberikan keselamatan kepada Rasulullah ﷺ.
BACA JUGA: Apakah Shalat Syuruq dan Shalat Dhuha Itu Sama?
Makna lainnya, salam merupakan bentuk penghormatan dan doa keselamatan. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).
Mengapa Mendoakan Keselamatan Nabi ﷺ?
Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa kita masih memohon keselamatan bagi Rasulullah ﷺ, padahal beliau telah wafat?
Syekh Ibn ‘Utsaimin menjelaskan bahwa doa keselamatan tidak terbatas pada kehidupan dunia. Masih ada berbagai peristiwa besar yang akan dihadapi manusia pada hari kiamat. Bahkan, para rasul pun berdoa memohon keselamatan ketika manusia melewati shirath.
Karena itu, salam kepada Rasulullah ﷺ juga mengandung doa agar beliau mendapatkan keselamatan dari berbagai kengerian pada hari kiamat.
Selain itu, makna keselamatan dapat mencakup penjagaan terhadap syariat dan sunnah beliau. Umat Islam memohon agar ajaran yang dibawa Rasulullah ﷺ tetap terpelihara dari perubahan, penyimpangan, dan upaya merusaknya.
Salam Bukan Percakapan Biasa
Ucapan Assalamu ‘alaika ketika tasyahud bukanlah percakapan biasa sebagaimana seseorang berbicara langsung kepada orang lain. Kalimat tersebut merupakan doa kepada Allah agar memberikan keselamatan kepada Rasulullah ﷺ.
Syekh Ibn ‘Utsaimin menjelaskan bahwa para sahabat juga mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ dalam tasyahud, meskipun beliau tidak selalu berada di hadapan mereka. Bahkan, salam tetap diucapkan oleh kaum Muslimin yang tinggal jauh dari Madinah dan hidup pada masa setelah beliau wafat.
Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa ketika seorang Muslim mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ, ia menghadirkan ingatan dan kecintaannya kepada beliau, seolah-olah sedang berada di hadapannya. Hal itu tidak berarti bahwa ucapan tersebut merupakan percakapan manusia biasa yang membatalkan shalat.
BACA JUGA: Hukum Memegang Mushaf Saat Shalat
Menghidupkan Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ
Salam kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar bacaan dalam tasyahud. Di dalamnya terdapat doa, penghormatan, dan pengakuan atas kedudukan beliau sebagai utusan Allah.
Kecintaan tersebut semestinya diwujudkan dengan mengikuti sunnah, menjaga ajaran beliau, dan menjadikan petunjuknya sebagai pedoman hidup.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan keselamatan dan kemuliaan kepada Rasulullah ﷺ, menjaga kita di atas sunnahnya, serta mengumpulkan kita bersama beliau di surga kelak.
Wallahu a’lam. []
SUMBER: ISLAMQA
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

