Shalat Syuruq dan shalat Dhuha merupakan shalat sunah yang dikerjakan pada waktu pagi, setelah matahari terbit. Keduanya memiliki keutamaan dan sering kali dianggap sebagai dua shalat yang berbeda. Namun, apakah shalat Syuruq memang berbeda dengan shalat Dhuha?
Secara umum, shalat Syuruq sebenarnya merupakan shalat Dhuha yang dikerjakan pada awal waktunya, yaitu setelah matahari terbit dan meninggi, ketika waktu yang dilarang untuk shalat telah berakhir. Karena itu, sebagian ulama menyebutnya sebagai shalat Isyraq, sedangkan shalat Dhuha mencakup waktu yang lebih luas hingga menjelang matahari tergelincir.
Terdapat hadis yang menjelaskan keutamaan amalan ini. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat rakaat pada awal siang, niscaya Aku akan mencukupimu pada akhir siang.” (HR. Abu Dawud no. 1289 dan At-Tirmidzi no. 475, dengan pembahasan penilaian hadis di kalangan ulama).
BACA JUGA: Waktu Shalat Syuruq
Ada pula hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa shalat Subuh berjamaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah.” (HR. At-Tirmidzi no. 586). Hadis ini dinilai hasan oleh sejumlah ulama.
Dengan demikian, shalat Syuruq bukanlah shalat yang sepenuhnya terpisah dari shalat Dhuha. Perbedaannya lebih terletak pada waktu pelaksanaannya dan penyebutan yang digunakan. Shalat yang dikerjakan sesaat setelah matahari terbit dan meninggi disebut shalat Isyraq atau Syuruq, sedangkan shalat Dhuha dapat dikerjakan sepanjang waktu Dhuha.
Waktu pelaksanaannya dimulai setelah matahari terbit dan telah meninggi, umumnya sekitar 15–20 menit setelah terbit, hingga beberapa saat sebelum masuk waktu Zuhur. Adapun waktu yang lebih utama untuk shalat Dhuha adalah ketika matahari telah terasa panas, sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang shalat al-awwabin (HR. Muslim no. 748).
BACA JUGA: Tahajud, Lanjut Dhuha
Sementara itu, keutamaan shalat Isyraq sebagaimana disebutkan dalam hadis At-Tirmidzi berkaitan dengan rangkaian amalan: shalat Subuh berjamaah, duduk berzikir hingga matahari terbit, kemudian melaksanakan dua rakaat. Rangkaian tersebut merupakan amalan yang memiliki keutamaan tersendiri, tetapi duduk berzikir setelah Subuh bukan syarat sah shalat Dhuha.
Jadi, seorang Muslim dapat melaksanakan dua rakaat pada awal waktu Dhuha dengan niat shalat Dhuha, dan berharap memperoleh keutamaan shalat Isyraq. Yang terpenting, memahami bahwa keduanya berada dalam waktu shalat sunah yang sama, serta menjaga pelaksanaannya sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

