Bencana alam sering kali membuat manusia takut. Gempa bumi mengguncang, angin kencang menerjang, banjir melanda, dan berbagai peristiwa alam lainnya dapat mengingatkan manusia betapa lemahnya dirinya.
Bagi seorang Muslim, musibah bukan hanya sesuatu yang harus dihadapi dengan rasa takut. Ia juga menjadi kesempatan untuk kembali kepada Allah, memperbanyak doa, memperbaiki diri, dan memperbanyak istighfar.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:
الْوَاجِبُ عِنْدَ الزَّلَازِلِ وَغَيْرِهَا مِنَ الْآيَاتِ وَالْكُسُوفِ وَالرِّيَاحِ الشَّدِيدَةِ وَالْفَيَضَانَاتِ الْبِدَارُ بِالتَّوْبَةِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ، وَالضَّرَاعَةُ إِلَيْهِ، وَسُؤَالُهُ الْعَافِيَةَ، وَالْإِكْثَارُ مِنْ ذِكْرِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ
“Kewajiban ketika terjadi gempa bumi dan berbagai tanda lainnya seperti gerhana, angin kencang, dan banjir adalah segera bertaubat kepada Allah, merendahkan diri kepada-Nya, memohon keselamatan kepada-Nya, serta memperbanyak zikir dan istighfar.” (Majmu‘ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi‘ah, 150/152–159)
BACA JUGA: Bencana Kekeringan dan Kelaparan sebelum Dajal Muncul
Nasihat ini mengajarkan bahwa ketika terjadi peristiwa yang menakutkan, seorang mukmin tidak hanya sibuk mencari perlindungan secara fisik, tetapi juga segera mencari perlindungan kepada Allah.
Bertaubat.
Berdoa.
Berzikir.
Beristighfar.
Dan memohon kepada Allah agar diberikan keselamatan.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak hanya melihat musibah dari sisi duniawi, tetapi juga menjadikannya sebagai bahan introspeksi.
Sudahkah kita bertaubat?
Sudahkah kita memperbaiki shalat?
Sudahkah kita meninggalkan maksiat?
Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita zalimi?
Sudahkah kita memperbanyak istighfar?
Tentu, tidak setiap bencana boleh dipastikan sebagai hukuman atas dosa seseorang. Kita tidak mengetahui perkara gaib dan tidak boleh sembarangan menuduh korban sebagai orang yang sedang dihukum Allah. Musibah dapat menjadi ujian, peringatan, penghapus dosa, atau bentuk ketetapan Allah yang mengandung hikmah yang hanya Dia ketahui.
Namun, bagi diri kita sendiri, setiap musibah seharusnya menjadi momentum untuk melakukan muhasabah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan.”
BACA JUGA:
Bencana-bencana Ilmu serta Penjelasan antara Ulama Su; dan Ulama Akhirat
Maka, ketika bumi berguncang, langit menggelap, angin bertiup kencang, atau air meluap, jangan hanya sibuk menyelamatkan harta.
Selamatkan pula iman kita.
Kembalilah kepada Allah sebelum kita dipanggil menghadap-Nya.
Perbanyak istighfar:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”
Sebab, ketika manusia merasa tidak berdaya, di situlah ia seharusnya semakin menyadari bahwa dirinya memiliki Rabb Yang Mahakuasa.
Bencana hendaknya membuat kita semakin dekat kepada Allah, bukan semakin jauh dari-Nya. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

