Mengapa Allah Ta’ala membiarkan Iblis hidup dan berusaha menyesatkan manusia?
Bukankah Allah Mahakuasa untuk menghentikannya?
Pertanyaan semacam ini perlu dijawab dengan penuh adab kepada Allah Ta’ala.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, seorang Muslim wajib meyakini bahwa setiap ketetapan Allah mengandung hikmah yang agung, meskipun tidak semua hikmah tersebut mampu kita ketahui.
Demikian pula dengan ketetapan Allah terhadap Iblis.
Allah membiarkan Iblis berusaha menyesatkan manusia bukan tanpa tujuan.
Di balik ketetapan tersebut terdapat hikmah yang besar.
Sebagian hikmah itu dapat kita pahami berdasarkan dalil-dalil syariat, sementara sebagian lainnya mungkin tidak akan pernah kita ketahui secara sempurna.
BACA JUGA: Talbis Iblis atas Orang Awam Terkait Majelis Dzikir
Para ulama telah menjelaskan beberapa hikmah di balik ketetapan tersebut.
1. Menjadi Ujian untuk Membedakan yang Baik dan Buruk
Allah Ta’ala menjadikan Iblis sebagai salah satu sarana untuk menguji manusia.
Dengan adanya godaan dan bisikan setan, akan tampak siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang mengikuti hawa nafsunya.
Orang yang baik akan berusaha melawan godaan tersebut.
Sedangkan orang yang buruk akan mengikuti bisikan setan dan berpaling dari petunjuk Allah.
Dengan demikian, keberadaan Iblis menjadi bagian dari ujian kehidupan manusia.
Ia menjadi sebab tampaknya perbedaan antara orang-orang yang baik dan orang-orang yang buruk.
Melalui ujian tersebut, orang-orang beriman dapat dibersihkan dari sifat-sifat kemunafikan.
Allah juga memberikan balasan kepada manusia berdasarkan amal yang mereka lakukan, bukan semata-mata berdasarkan ilmu Allah yang telah mengetahui sebelumnya apa yang akan mereka kerjakan.
Allah memang telah mengetahui segala sesuatu sejak dahulu.
Namun, Allah menampakkan amal tersebut dalam kehidupan nyata sehingga manusia mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.
Seandainya tidak ada godaan Iblis dan ujian yang menyertainya, tidak akan tampak berbagai bentuk perjuangan, ketundukan, dan kesabaran manusia.
2. Agar Para Nabi dan Wali Allah Mencapai Tingkatan Penghambaan yang Tinggi
Di antara hikmah lainnya adalah agar para nabi dan orang-orang yang dekat dengan Allah dapat mencapai tingkatan ‘ubudiyyah, yaitu penghambaan kepada Allah, melalui perjuangan melawan setan.
Seorang mukmin tidak hanya beribadah ketika keadaan mudah.
Ia juga belajar melawan musuh yang nyata, yaitu setan dan para pengikutnya.
Ia berusaha menentang bisikan setan.
Ia tidak mengikuti ajakannya.
Ia berusaha membuat setan gagal dalam menggoda dirinya.
Ia juga berlindung kepada Allah dari kejahatan setan dan tipu dayanya.
Ketika seorang hamba menyadari kelemahannya di hadapan godaan setan, ia akan semakin membutuhkan pertolongan Allah.
Ia akan semakin sering berdoa.
Ia akan semakin banyak berlindung kepada Allah.
Ia akan semakin bergantung kepada-Nya.
Dengan demikian, perjuangan menghadapi setan dapat menjadi sebab munculnya banyak bentuk penghambaan kepada Allah yang bermanfaat bagi seorang mukmin, baik di dunia maupun di akhirat.
3. Agar Orang Beriman Meraih Kesabaran dan Keteguhan
Hikmah berikutnya adalah agar orang beriman dapat meraih berbagai sifat mulia seperti kesabaran, keteguhan, dan perjuangan di jalan Allah.
Semua itu merupakan bagian dari ‘ubudiyyah kepada Allah.
Seorang mukmin membutuhkan kesabaran untuk melawan godaan.
Ia membutuhkan keteguhan agar tidak mengikuti bisikan setan.
Ia membutuhkan perjuangan untuk menjaga hatinya tetap berada di atas ketaatan.
Setiap kali setan membisikkan keburukan, seorang mukmin belajar menolaknya.
Setiap kali hawa nafsu mengajaknya kepada maksiat, ia belajar mengendalikannya.
Setiap kali ia tergelincir, ia belajar kembali kepada Allah.
Perjuangan tersebut tidak mudah.
Namun, justru melalui perjuangan itulah berbagai sifat mulia dapat tumbuh.
Jika Iblis tidak ada dan tidak ada godaan untuk melawannya, seorang mukmin tidak akan memperoleh sebagian tingkatan penghambaan tersebut melalui perjuangan menghadapi setan.
4. Menampakkan Kesabaran, Hikmah, Ampunan, dan Pengampunan Allah
Di antara hikmah lainnya adalah Allah Ta’ala menampakkan sebagian sifat-Nya kepada hamba-hamba-Nya melalui berbagai peristiwa yang terjadi.
Di antaranya adalah sifat Halim atau Maha Penyantun, Mahabijaksana, Maha Pemaaf, dan Maha Pengampun.
Manusia terkadang tergelincir karena godaan setan.
Namun, ketika ia menyadari kesalahannya, ia dapat kembali kepada Allah dengan bertaubat dan memohon ampunan.
Allah kemudian mengampuni hamba-Nya yang benar-benar bertaubat.
Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menggantikan kalian dengan kaum yang berbuat dosa, kemudian mereka memohon ampun kepada Allah, lalu Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim, no. 2749)
Hadis ini bukan berarti seorang Muslim boleh sengaja berbuat dosa dengan alasan Allah Maha Pengampun.
Bukan demikian.
Seorang mukmin tetap wajib menjauhi dosa.
Namun, apabila ia tergelincir, ia tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.
Ia harus segera bertaubat.
Ia harus memohon ampun.
Ia harus memperbaiki kesalahannya.
Dan di situlah seorang hamba dapat menyaksikan betapa luasnya ampunan Allah bagi orang yang kembali kepada-Nya.
Iblis adalah Musuh, Bukan Alasan untuk Bermaksiat
Semua penjelasan di atas tidak berarti bahwa keberadaan Iblis adalah sesuatu yang baik dari sisi perbuatannya.
Iblis tetaplah musuh manusia.
Ia berusaha menyesatkan manusia.
Ia mengajak kepada kekufuran dan kemaksiatan.
Allah Ta’ala telah mengingatkan:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fathir: 6)
Karena itu, seorang Muslim tidak boleh mengatakan, “Kalau Iblis memang memiliki hikmah dalam penciptaannya, berarti tidak masalah mengikuti godaannya.”
Ini adalah pemahaman yang keliru.
Yang menjadi hikmah adalah ketetapan Allah membiarkan adanya ujian melalui Iblis, bukan bahwa kekufuran dan kemaksiatan yang dilakukan Iblis merupakan sesuatu yang diridai Allah.
Allah tidak memerintahkan manusia untuk mengikuti setan.
Justru Allah memerintahkan manusia untuk memusuhinya.
Kita Tidak Harus Mengetahui Semua Hikmah
Penjelasan para ulama mengenai hikmah keberadaan Iblis merupakan upaya memahami sebagian hikmah yang dapat diketahui melalui dalil-dalil syariat.
Namun, jangan mengira bahwa daftar tersebut mencakup seluruh hikmah yang Allah kehendaki.
Tidak ada seorang pun yang mampu mengetahui seluruh hikmah Allah.
Ilmu Allah sempurna.
Ilmu manusia terbatas.
Bisa jadi ada hikmah lain yang belum kita ketahui.
Bahkan, bisa jadi ada hikmah yang baru akan kita pahami di akhirat.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah membahas persoalan ini secara panjang dalam kitabnya Syifa’ al-‘Alil fi Masa’il al-Qadha’ wal-Qadar wal-Hikmah wat-Ta’lil.
Beliau menjelaskan berbagai sisi hikmah di balik penciptaan Iblis dan ketetapan Allah yang berkaitan dengannya.
Pembahasan tersebut dapat dilihat dalam Syifa’ al-‘Alil, jilid 2, mulai halaman 245 dan seterusnya.
Lihat pula Mukhtashar Ash-Shawa’iq al-Mursalah, halaman 245 dan seterusnya.
BACA JUGA: Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah
Jangan Sibuk Mempertanyakan Allah, Sibuklah Menyelamatkan Diri
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah:
“Mengapa Allah membiarkan Iblis menyesatkan manusia?”
Tetapi:
“Apa yang sudah aku lakukan untuk melindungi diriku dari godaan Iblis?”
Sebab, Iblis telah bersumpah untuk menyesatkan manusia.
Dan kita diperintahkan untuk menjadikannya sebagai musuh.
Maka, seorang mukmin hendaknya memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, memperkuat iman, dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan.
Kita mungkin tidak memahami seluruh hikmah di balik keberadaan Iblis.
Namun, kita tahu satu hal dengan pasti:
Allah Mahabijaksana.
Tidak ada ketetapan-Nya yang sia-sia.
Dan kewajiban kita sebagai hamba adalah tetap tunduk kepada-Nya, menjauhi jalan setan, serta memohon kepada Allah agar diberi keteguhan hingga akhir hayat.
Wallahu a’lam. []
SUMBER: ISLAMQA
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

