Imam Malik bin Anas rahimahullah dikenal sebagai salah satu imam besar dalam Islam. Namun, kebesaran ilmu tidak membuat beliau merasa selalu benar. Sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Wahab menunjukkan bagaimana Imam Malik menerima kebenaran ketika mendengar dalil yang sebelumnya belum beliau ketahui.
Ibnu Wahab berkata, “Aku mendengar Malik ditanya tentang menyela-nyela jari-jari kedua kaki ketika wudhu. Ia berkata, ‘Orang-orang tidak diwajibkan akan hal itu.’”
Ibnu Wahab kemudian menunggu hingga orang-orang yang hadir tinggal sedikit. Ia berkata kepada Imam Malik, “Kami memiliki hadis tentang masalah itu.”
Imam Malik bertanya, “Apa itu?”
BACA JUGA: Imam Malik, Orang yang Paling Alim
Ibnu Wahab menjawab, “Al-Laits bin Sa‘d, Ibnu Luhai‘ah, dan Amr bin Al-Harits telah memberitahukan kepada kami, dari Yazid bin Amr Al-Mu‘afari, dari Abu Abdurrahman Al-Hubli, dari Al-Mustaurid bin Syaddad Al-Qurasyi, ia berkata, ‘Aku melihat Rasulullah ﷺ menggosok dengan jari kelingkingnya sela-sela antara dua jari kaki beliau.’”
Mendengar hadis tersebut, Imam Malik berkata, “Ini adalah hadis hasan. Sungguh, aku belum pernah mendengarnya kecuali sekarang.”
Setelah itu, Ibnu Wahab mendengar Imam Malik ditanya tentang menyela-nyela jari kaki ketika wudhu. Beliau pun memerintahkan agar jari-jari kaki disela-sela.
Kisah ini memberikan pelajaran penting tentang sikap seorang ulama terhadap dalil. Imam Malik tidak mempertahankan pendapatnya setelah mendengar hadis yang sebelumnya belum beliau ketahui. Beliau menerima kebenaran dan mengubah pendapatnya sesuai dengan dalil yang sampai kepadanya.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa ilmu bukanlah sekadar memiliki pendapat, melainkan kesediaan untuk mengikuti kebenaran. Seorang penuntut ilmu hendaknya tidak menjadikan pendapat pribadi sebagai sesuatu yang tidak boleh dikoreksi.
BACA JUGA: Imam Malik: Setiap Pendapat Harus Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah
Kisah ini juga mengajarkan pentingnya adab dalam menyampaikan ilmu. Ibnu Wahab tidak terburu-buru menyanggah Imam Malik di hadapan banyak orang. Ia menunggu hingga suasana lebih tenang, kemudian menyampaikan hadis yang dimilikinya. Dengan demikian, kebenaran dapat disampaikan tanpa mengurangi penghormatan kepada seorang ulama.
Semoga kita dapat meneladani Imam Malik rahimahullah dalam menghormati dalil, menerima kebenaran, dan tidak malu untuk memperbaiki pendapat ketika menemukan ilmu yang lebih kuat. []
Sumber: Shahih Fiqhu As-Sunnah (Shahih Fiqih Sunnah (Jilid 1)/ Penulis: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim / Penerbit: Insan Kamil / Cetakan: Cet. 1: Nopember 2021 / Rabiul Akhir 1443 H
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

