Manusia mungkin bisa menutup mulutnya, tetapi hati dan pikirannya tidak pernah benar-benar berhenti.
Setiap saat, kita sedang mengisi diri dengan sesuatu. Jika bukan dengan kebaikan, bisa jadi dengan keburukan. Jika bukan dengan dzikir, bisa jadi dengan perkataan yang sia-sia.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
فَإِنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَسْكُتُ الْبَتَّةَ: فَإِمَّا لِسَانٌ ذَاكِرٌ وَإِمَّا لِسَانٌ لَاغٍ وَلَا بُدَّ مِنْ أَحَدِهِمَا، فَهِيَ النَّفْسُ إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا بِالْحَقِّ شَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ، وَهُوَ الْقَلْبُ إِنْ لَمْ تُسَكِّنْهُ مَحَبَّةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سَكَنَهُ مَحَبَّةُ الْمَخْلُوقِينَ
“Manusia itu tidak akan pernah benar-benar diam. Adakalanya lisannya berdzikir, dan adakalanya lisannya melakukan perkara yang sia-sia. Jiwa itu, jika tidak disibukkan dengan kebenaran, ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan. Dan hati itu, jika tidak ditenangkan dengan mencintai Allah ‘Azza wa Jalla, ia akan dipenuhi dengan kecintaan kepada makhluk.” (Al-Wabilush Shayyib)
BACA JUGA: Jatuh di Mata Allah, Jatuh di Hati Manusia
Perhatikan kalimat ini.
Jika jiwa tidak disibukkan dengan kebenaran, ia akan disibukkan dengan kebatilan.
Inilah mengapa kita perlu mengisi waktu dengan perkara yang bermanfaat.
Sebab waktu yang kosong tidak selalu membuat kita beristirahat. Jika tidak dijaga, waktu kosong justru bisa menjadi pintu masuk bagi berbagai hal yang tidak berguna.
Lisan yang tidak dibiasakan berdzikir akan mudah digunakan untuk membicarakan orang lain.
Waktu yang tidak diisi dengan membaca Al-Qur’an bisa habis untuk menggulir layar tanpa tujuan.
Pikiran yang tidak diarahkan kepada ilmu dan kebaikan dapat dipenuhi prasangka, kecemasan, atau berbagai keinginan yang tidak terkendali.
Begitu pula hati.
Jika hati tidak menemukan ketenangan dalam mencintai Allah, ia akan terus mencari sesuatu untuk dicintai dan digantungkan. Padahal tidak semua yang kita cintai mampu memberikan ketenangan.
Saudaraku, kita memang tidak akan pernah bisa benar-benar diam dari aktivitas batin.
BACA JUGA: Doa Memohon Istri dan Anak sebagai Penyenang Hati
Maka pertanyaannya bukan, “Apa yang sedang aku lakukan?”
Tetapi, “Dengan apa aku sedang mengisi diriku?”
Isi lisan dengan dzikir.
Isi waktu dengan amal saleh.
Isi pikiran dengan ilmu.
Dan isi hati dengan kecintaan kepada Allah.
Sebab jika kita tidak memilih kebaikan untuk mengisi diri, tanpa sadar keburukanlah yang akan mencari tempat di dalam diri kita. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

