Home NasihatMalu Berasal dari Kata “Hidup”: Tanpa Malu, Hatimu Mati

Malu Berasal dari Kata “Hidup”: Tanpa Malu, Hatimu Mati

Hati yang hidup akan selalu dihiasi rasa malu, sehingga lisan terjaga, pandangan tertunduk, dan anggota badan enggan melakukan kemaksiatan.

by Abu Umar
0 comments 9 views

Rasa malu adalah salah satu akhlak paling indah yang Allah tanamkan dalam hati seorang mukmin. Ia bukan tanda kelemahan, bukan pula penghalang untuk berbuat baik. Justru rasa malu adalah bukti bahwa hati masih hidup, peka terhadap dosa, dan masih memiliki cahaya keimanan.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan hubungan yang sangat menarik antara kata al-hayaa’ (malu) dan al-hayah (kehidupan). Beliau berkata:

والحياء مشتق من الحياة، والغيث يسمى حيا – بالقصر – لأن به حياة الأرض والنبات والدواب، وكذلك سميت بالحياء حياة الدنيا والآخرة، فمن لا حياء فيه فهو ميت في الدنيا شقي في الآخرة

“Kata al-hayaa’ (rasa malu) diambil dari kata al-hayah (kehidupan). Hujan disebut hayy karena dengannya bumi, tumbuhan, dan hewan-hewan menjadi hidup. Demikian pula rasa malu disebut hayaa’ karena ia merupakan kehidupan dunia dan akhirat. Barang siapa tidak memiliki rasa malu, maka hakikatnya ia mati di dunia dan celaka di akhirat.” (Ad-Da’u wad Dawa’u, hlm. 69).

BACA JUGA: Doa Memohon Keteguhan Hati

Perumpamaan ini sangat dalam maknanya. Sebagaimana hujan menghidupkan bumi yang tandus, rasa malu menghidupkan hati yang kering. Tanpa hujan, tanah menjadi gersang dan tidak mampu menumbuhkan kehidupan. Begitu pula hati yang kehilangan rasa malu akan menjadi keras, gelap, dan lambat laun mati.

Orang yang masih memiliki rasa malu akan merasa berat ketika hendak berbuat maksiat. Ia malu kepada Allah yang selalu melihatnya. Ia malu kepada para malaikat yang mencatat amalnya. Ia juga malu kepada manusia jika keburukannya diketahui. Rasa malu inilah yang menjadi benteng pertama sebelum seseorang terjatuh ke dalam dosa.

Sebaliknya, ketika rasa malu hilang, pintu-pintu keburukan akan terbuka lebar. Seseorang tidak lagi peduli dengan perkataannya, pakaiannya, perbuatannya, bahkan tidak merasa bersalah ketika melanggar syariat Allah. Inilah tanda bahwa hati sedang kehilangan kehidupannya.

BACA JUGA: 5 Obat Hati Menurut Para Ulama

Karena itu, menjaga rasa malu sama artinya dengan menjaga kehidupan hati. Malu yang terpuji bukanlah sifat minder atau takut tampil di hadapan manusia. Malu yang dimaksud adalah rasa malu yang mendorong seseorang meninggalkan maksiat, menunaikan kewajiban, dan senantiasa menjaga kehormatan dirinya di hadapan Allah.

Sudah sepantasnya setiap muslim memohon kepada Allah agar dianugerahi hati yang hidup. Hati yang hidup akan selalu dihiasi rasa malu, sehingga lisan terjaga, pandangan tertunduk, dan anggota badan enggan melakukan kemaksiatan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memiliki rasa malu karena iman, sehingga hati tetap hidup di dunia dan memperoleh keselamatan di akhirat. Sebab, selama rasa malu masih bersemayam di dalam dada, masih ada harapan bagi hati untuk terus hidup dan kembali kepada Allah. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119