Home Tanya JawabBagaimana Allah Menyiksa Orang yang Berbuat Makslat, Padahal Dia Telah Menaqdirkannya kepada Manusia?

Bagaimana Allah Menyiksa Orang yang Berbuat Makslat, Padahal Dia Telah Menaqdirkannya kepada Manusia?

Jika demikian engkau harus meniti dalam kehidupan akhirat sebagaimana engkau berusaha memilih yang terbaik dalam meniti kehidupan dunia.

by Abu Umar
0 comments 147 views

Pertanyaan: Asy-Syaikh yang mulia, ada masalah yang datang kepada sebagian manusia, yaitu: bagaimana Allah menyiksa orang yang berbuat maksiat padahal Dia telah mentaqdirkannya kepada manusia?

Jawaban: Sebenarnya ini bukan suatu masalah, yaitu bahwasanya seseorang yang melakukan perbuatan buruk kemudian disiksa karenanya. Ini bukanlah masalah, sebab seseorang yang melakukan perbuatan buruk berarti dia melakukan dengan pilihannya, maka tidak ada seseorang yang menghunus senjata didepan wajahnya dan berkata “Berbuatlah kemungkaran ini,” bahkan dia mengerjakannya dengan pilihannya.

Allah berfirman:

إنا مديناء السيل إما شاكرا وإنا كفورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. al-Insaan: 3)

Orang yang bersyukur dan orang yang kufur, mereka semua telah diberi petunjuk Allah kepada jalan yang lurus, menjelaskan dan menerangkannya. Akan tetapi diantara manusia ada orang yang memilih jalan ini dan ada yang tidak memilihnya. Penjelasan hal itu, yang pertama dengan memberikan konsekuensi dan yang kedua dengan penjelasan.

BACA JUGA:  Apakah Basmalah Termasuk Ayat dalam Surat Al-Fatihah?

Adapun memberikan konsekuensi maka kita katakan kepada seseorang. perbuatanmu untuk dunia dan akhirat adalah sama, dan tekadmu untuk melakukannya juga sama, sudah dimaklumi bahwa seandainya disodorkan kepadamu dua proyek di antara amal dunia salah satunya engkau pandang untuk dirimu baik, yang kedua engkau pandang buruk untuk dirimu, maka sudah pasti engkau akan memilih proyek yang pertama karena itu adalah proyek yang baik di dalamnya dan tidak mungkin selamanya engkau memilih yang kedua karena itu adalah proyek yang buruk didalamnya.

Lalu engkau mengatakan bahwa taqdir telah mengharuskan aku dengan yang pertama. Jika demikian engkau harus meniti dalam kehidupan akhirat sebagaimana engkau berusaha memilih yang terbaik dalam meniti kehidupan dunia.

Kami katakan, Allah telah menjadikan dihadapanmu anal-amal akhirat dua perkara, perkara untuk keburukan yaitu analan yang menyelisihi syari’at, dan perkara untuk kebaikan yaitu amalan yang sesuai dengan syari’at. Jika engkau berhadapan dengan perkara dunia engkau memilih yang baik, maka mengapa dalam perkara akhirat engkau tidak memilih yang baik, sesungguhnya adalah suatu konsekuensi atasmu untuk berusaha memilih yang terbaik dalam urusan akhirat sebagaimana engkau berusaha untuk memilih yang terbaik dalam urusan dunia. Inilah yang dinamakan thariqul ilzaam.

Adapun thariqul bayan maka kita katakan: “Kita tidak mengetahui apa yang ditakdirkan Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وماتدري نفس ماذا تكست عدا

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok.” (QS. Luqmaan 34)

Manusia ketika melakukan suatu amalan, dia melakukannya dengan pilihan, yang tidak mengetahui bahwa Allah telah mentaqdirkan baginya menundukkan dirinya atas amalan tersebut. Karena itu sebagian ulama’ berkata: “Sesungguhnya takdir itu rahasia yang telah ditetapkan.”

Kita semua tidak mengetahui bahwa Allah telah mentaqdirkan demikian sampai perbuatan itu terjadi Kalau begitu ketika kita melakukan suatu perbuatan tidaklah kita melakukannya atas dasar, bahwa perbuatan tersebut telah ditetapkan bermanfaat bagi kita atau bahkan membahayakan kita. Hanya saja kita melakukannya sesuai pilihan kita, ketika sudah terjadi, maka kita mengetahui bahwa Allah telah mentaqdirkannya kepada kita. Oleh karena itu, manusia tidak boleh beralasan dengan takdir kecuali setelah terjadinya perbuatan namun tidak ada hujjah baginya dalam hal itu.

Disebutkan dari Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radiyallahu anhu sebuah kisah -yang mungkin shahih dan mungkin tidak-bahwasanya dihadapkan kepada beliau seorang pencuri yang sudah memenuhi syarat untuk dipotong tangannya.

Ketika ‘Umar memerintahkan untuk dipotong kedua tangannya, la berkata “Sebentar wahai Amirul Mukminin! Dia akan memberikan alasan mengapa dia mencuri harta kaum muslimin,” (alasan) yang memungkinkan ‘Umar untuk bisa membantah alasannya dengan takdir Allah dan syari’at karena syari’at memerintahkannya untuk memotong tangannya, sementara dia tidak memungkinkan baginya untuk berhujjah melainkan dengan qadar jika benar hujjah yang dia gunakan.

BACA JUGA:  Apakah Neraka Itu Ada Dua?

Berdasarkan hal ini, maka tidak mungkin bagi seseorang beralasan dengan taqdir untuk mempertahankan perbuatan maksiatnya. Dan memang dalam kenyataannya tidak ada hujjah baginya dalam hal itu Allah berfirman:

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ فَلا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةُ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا {١٦٥}

“(Mereka Kami utus) sebagai rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu…” (QS. an-Nisan’: 165)

Manusia tidak ada yang mengetahui tentang takdir Allah setelah para rasul, seandainya taqdir itu boleh digunakan sebagai hujjah maka tidak ada gunanya diutus para rasul Oleh karena itu, jelas bagi kita baik secara dalil naqli atau aqli bahwa tidak ada hujjah bagi pelaku maksiat dengan gedhe dan qadar Allah, karena dia tidak dipaksa dalam hal itu. Hanya Allah semata yang memberikan taufiq

(Majmun Fataawan asy-Syaikh 2/89) []

Sumber: Al-Fatawa Al-Muhimmah (Fatwa-fatwa Penting dalam Sehari-hari jilid 1) / Penulis: Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin / Penerbit: Pustaka as-Sunnah / Cetakan 2, Maret 2012

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119