Semangat beribadah adalah nikmat yang besar dari Allah. Seorang muslim hendaknya memiliki tekad yang kuat untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Namun, Islam juga mengajarkan bahwa semangat saja tidaklah cukup. Amal yang diterima bukanlah sekadar yang paling banyak atau paling melelahkan, tetapi yang paling benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad ﷺ.
Karena itulah para sahabat sangat menekankan pentingnya mengikuti sunnah dan menjauhi perkara-perkara baru dalam agama. Di antara nasihat yang sangat berharga adalah perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
الاقتِصادُ في السُّنَّةِ أحسَنُ منَ الاجتِهادِ في البدعةِ
“Sederhana (sedikit) dalam (mengerjakan) sunnah, lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam mengerjakan bid’ah.”
(Diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 358, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 41).
BACA JUGA: Sedikit tetapi Cukup Lebih Baik daripada Banyak namun Melalaikan
Perkataan yang singkat ini mengandung kaidah yang sangat agung dalam beragama. Amal yang sedikit tetapi sesuai sunnah memiliki nilai yang jauh lebih tinggi di sisi Allah daripada amal yang banyak namun dibangun di atas bid’ah atau tata cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Muhammad ﷺ.
Mengapa demikian? Karena diterimanya suatu ibadah memiliki dua syarat utama. Pertama, ikhlas hanya mengharap ridha Allah. Kedua, mutaba’ah, yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Muhammad ﷺ. Apabila salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka amal tersebut terancam tidak diterima.
Allah Ta’ala berfirman,
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Para ulama menjelaskan bahwa Allah tidak mengatakan “yang paling banyak amalnya”, tetapi “yang paling baik amalnya.” Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan bahwa amal yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Benar maksudnya adalah sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ.
Inilah yang sering kali dilupakan. Sebagian orang mengira bahwa semakin berat suatu amalan, semakin lama dikerjakan, atau semakin banyak jumlahnya, maka pasti semakin besar pahalanya. Padahal ukuran dalam syariat bukanlah banyaknya usaha semata, melainkan kesesuaiannya dengan petunjuk Nabi.
BACA JUGA: Empat Cara Agar Hati Lebih Mengutamakan Akhirat daripada Dunia
Lihatlah bagaimana Rasulullah Muhammad ﷺ beribadah. Beliau adalah manusia yang paling bertakwa, tetapi ibadah beliau selalu berada di atas keseimbangan. Ketika ada sahabat yang ingin beribadah secara berlebihan dengan berpuasa setiap hari, shalat malam tanpa tidur, atau tidak menikah selamanya, Rasulullah ﷺ meluruskan mereka seraya bersabda bahwa siapa yang membenci sunnah beliau, maka bukan termasuk golongannya.
Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang begitu bersemangat melakukan amalan-amalan tertentu yang tidak memiliki landasan syariat. Waktunya, tenaganya, bahkan hartanya dihabiskan untuk sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi ﷺ. Padahal seandainya semangat itu diarahkan kepada ibadah-ibadah yang benar, tentu akan jauh lebih bermanfaat.
BACA JUGA: Perubahan Fatwa Tidak Berarti Mengubah Ketentuan Allah
Perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga mengajarkan sikap tawadhu’. Jangan sampai seseorang merasa bangga karena banyaknya amal yang ia lakukan, sementara ia tidak pernah bertanya apakah amal tersebut sesuai dengan dalil. Seorang mukmin hendaknya lebih sibuk memperbaiki kualitas amal daripada sekadar memperbanyak kuantitasnya.
Karena itu, marilah kita menjadikan sunnah sebagai pedoman dalam setiap ibadah. Jangan tergesa-gesa mengamalkan sesuatu hanya karena terlihat baik atau banyak dilakukan orang. Ukurlah setiap amalan dengan Al-Qur’an dan sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat dan ulama salaf.
Ingatlah, di sisi Allah, sedikit amal yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai sunnah jauh lebih bernilai daripada amal yang melimpah tetapi tidak memiliki tuntunan. Sebab, dalam agama ini, kebenaran selalu lebih utama daripada sekadar semangat, dan mengikuti sunnah selalu lebih mulia daripada berlebih-lebihan dalam perkara yang tidak diajarkan. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

