Berbakti kepada kedua orang tua merupakan salah satu amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala. Setelah perintah untuk mentauhidkan-Nya, Allah berkali-kali memerintahkan manusia agar berbuat baik kepada ayah dan ibu. Namun, sebesar apa pun usaha seorang anak, ternyata jasa kedua orang tua hampir mustahil untuk dibalas.
Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau bersabda,
لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدًا إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ
“Seorang anak tidak dapat membalas budi kedua orang tuanya kecuali jika dia menemukannya dalam keadaan diperbudak, lalu dia membelinya kemudian membebaskannya.” (HR. Muslim no. 1510)
Hadits ini menunjukkan betapa besarnya hak orang tua atas anaknya. Bahkan, andaikata seorang anak telah mengorbankan harta, tenaga, dan waktunya untuk merawat orang tuanya, tetap saja hal itu belum sebanding dengan pengorbanan yang telah mereka berikan sejak anak masih berada dalam kandungan hingga tumbuh dewasa.
BACA JUGA: Berbuat Baik pada Orang Tua dan Menyambung Silaturahim
Kisah yang mengharukan juga diriwayatkan dari Abu Burdah. Beliau melihat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma sedang thawaf di Ka’bah. Saat itu ada seorang laki-laki dari Yaman yang menggendong ibunya di atas punggungnya sambil bersenandung,
إِنِّي لَهَا بَعِيرُهَا الْمُذَلَّلُ إِنْ أُذْعِرَتْ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ
“Sesungguhnya aku adalah tunggangan ibuku yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari ketakutan, maka aku tidak akan lari.”
Setelah selesai thawaf, lelaki itu bertanya kepada Ibnu Umar,
ثُمَّ قَالَ: يَا ابْنَ عُمَرَ أَتَرَانِي جَزَيْتُهَا؟
“Wahai Ibnu Umar, menurutmu apakah aku telah membalas budi ibuku?”
Ibnu Umar pun menjawab dengan kalimat yang sangat menyentuh,
لَا، وَلَا بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ
“Belum, bahkan belum sebanding dengan satu tarikan napas yang ia keluarkan ketika melahirkanmu.”
Kemudian Ibnu Umar melaksanakan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim dan berkata,
يَا ابْنَ أَبِي مُوسَى، إِنَّ كُلَّ رَكْعَتَيْنِ تُكَفِّرَانِ مَا أَمَامَهُمَا
“Wahai Ibnu Abi Musa, sesungguhnya setiap dua rakaat akan menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya.”
(HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 11, sanadnya shahih).
BACA JUGA: Ketika Anak Durhaka, Luka Orang Tua Tak Selalu Terlihat
Jawaban Ibnu Umar bukan berarti usaha seorang anak sia-sia. Justru sebaliknya, beliau ingin menanamkan rasa tawadhu’ agar seorang anak tidak pernah merasa telah cukup berbakti kepada orang tuanya. Pengorbanan seorang ibu ketika mengandung, melahirkan, menyusui, begadang merawat anak, serta kasih sayang seorang ayah yang bekerja keras demi keluarganya adalah nikmat yang sangat besar.
Karena itu, selama kedua orang tua masih hidup, manfaatkan setiap kesempatan untuk membahagiakan mereka. Berbicaralah dengan lembut, penuhi kebutuhan mereka, doakan mereka setiap hari, dan jangan pernah menyakiti hati mereka dengan ucapan maupun perbuatan.
Jika mereka telah wafat, pintu bakti belum tertutup. Teruslah mendoakan mereka, memohonkan ampunan kepada Allah, menyambung silaturahmi dengan kerabat dan sahabat-sahabat mereka, serta bersedekah atas nama mereka. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

