Tipuan paling berbahaya adalah tipu daya setan. Ia tidak datang dengan tulisan “ini jalan sesat”. Ia justru datang dengan wajah nasihat, pembenaran, dan alasan yang terdengar baik.
Bukankah begitu cara setan menipu Nabi Adam ‘alaihis salam? Ia bersumpah seolah-olah tulus menasihati, hingga akhirnya Adam tergelincir.
Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kalian tertipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga.” (QS. Al-A’raf: 27)
Maka jangan heran jika maksiat sering kali dibungkus dengan istilah:
“ini demi kebebasan,”
“ini hak pribadi,”
“yang penting hati baik,”
“semua orang juga begitu.”
Padahal bisa jadi itu semua hanyalah cara setan memoles dosa agar tampak wajar.
BACA JUGA: Di Akhir Zaman, Tak Ada yang Sanggup Menjadi Imam Shalat
Zaman Ketika Orang Receh Bicara Soal Umat
Salah satu tanda “tahun-tahun penuh tipuan” yang paling terasa hari ini adalah ketika orang-orang dangkal justru menjadi rujukan publik.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipuan; pada masa itu pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan, pengkhianat dipercaya, orang amanah dianggap khianat, dan الرويبضة (ruwaibidhah) berbicara.”
Para sahabat bertanya, “Siapakah ruwaibidhah itu?”
Beliau menjawab:
“Orang rendahan yang berbicara tentang urusan publik.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani)
Bukankah ini sangat nyata hari ini?
Orang yang minim ilmu, miskin adab, dan dangkal pemahaman bisa tampil percaya diri membahas agama, umat, politik, pendidikan, bahkan halal-haram—lalu didengar oleh jutaan manusia hanya karena terkenal.
Sementara ulama yang lurus, orang-orang berilmu, dan para penyeru kebenaran justru sering dipinggirkan.
Inilah zaman ketika popularitas mengalahkan kualitas, dan ketenaran dianggap lebih penting daripada kebenaran.
Jangan Tertipu Karena yang Salah Itu Banyak
Salah satu jebakan yang sering membuat manusia kalah adalah ucapan:
“Semua orang juga begitu.”
Padahal, banyaknya pengikut tidak pernah menjadi bukti bahwa sesuatu itu benar.
Kebenaran tetaplah kebenaran, walaupun yang mengikutinya sedikit. Dan kebatilan tetaplah kebatilan, walaupun dibela oleh banyak orang.
Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu.” (QS. Al-Ma’idah: 100)
Maka seorang Muslim yang cerdas tidak menjadikan mayoritas sebagai kiblat. Ia menjadikan wahyu sebagai kompas, dan para nabi, orang-orang jujur, para syuhada, serta orang-orang saleh sebagai teman perjalanan.
BACA JUGA: Kabut di Akhir Zaman
Penutup: Jadilah Muslim yang Sulit Ditipu
Di zaman yang penuh kemasan ini, kita sangat butuh mata hati. Sebab tidak semua yang indah itu baik, tidak semua yang ramai itu benar, dan tidak semua yang populer itu layak diikuti.
Maka jagalah hati, luruskan niat, kuatkan ilmu, dan dekatilah Al-Qur’an serta Sunnah. Karena hanya dengan cahaya wahyu, seorang hamba bisa selamat dari gelapnya zaman.
Jangan tertipu oleh dunia.
Jangan tertipu oleh syubhat.
Jangan tertipu oleh media.
Jangan tertipu oleh banyaknya pengikut kebatilan.
Dan jangan pula tertipu oleh dirimu sendiri.
Sebab keselamatan bukan milik orang yang paling terkenal, paling kaya, atau paling dikagumi manusia.
Keselamatan adalah milik mereka yang tetap jernih di tengah zaman yang menipu. []
SUMBER: AR-ISLAMWAY.NET
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

