Di akhir zaman, menjadi seorang mukmin yang istiqamah bukanlah perkara yang ringan. Bukan karena kebenaran itu berubah, tetapi karena manusia semakin jauh darinya. Nilai-nilai agama dianggap asing, sunnah dipandang aneh, dan orang yang berusaha menjaga iman justru sering diperlakukan seolah-olah dia adalah orang yang salah.
Sahabat mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah menggambarkan kondisi ini dengan sangat dalam. Beliau berkata:
“Akan datang suatu zaman, dimana seorang mukmin (dianggap) lebih hina daripada budak wanita. Sebabnya tidak lain karena asingnya dia di tengah-tengah orang-orang yang rusak dari para pengikut syahwat dan syubhat.
“Sehingga mereka semua membencinya dan mengganggunya, karena dia menyelisihi cara hidup mereka, menyelisihi keinginan mereka, dan menyelisihi keadaan mereka.”
BACA JUGA: Kabut di Akhir Zaman
Perkataan ini benar-benar terasa nyata di masa kita. Hari ini, seseorang yang menjaga pandangan dianggap kuno. Wanita yang menutup aurat dengan baik dianggap berlebihan. Laki-laki yang menjaga shalat, menjauhi maksiat, dan berusaha hidup sesuai sunnah justru sering dicibir, dijauhi, bahkan direndahkan.
Mengapa hal ini terjadi? Karena seorang mukmin sejati tidak larut dalam arus kerusakan. Ia tidak mau ikut-ikutan hanya agar diterima. Ia memilih taat meskipun sendirian, memilih kebenaran meskipun dibenci, dan memilih jalan Allah meskipun terasa berat.
Di tengah fitnah syahwat dan syubhat yang begitu deras, seorang mukmin memang akan tampak asing. Namun justru di situlah kemuliaannya. Asing di mata manusia, tetapi mulia di sisi Allah. Diremehkan oleh dunia, namun dicintai oleh langit.
BACA JUGA: Tanda Akhir Zaman: Banyak Peperangan
Maka jangan sedih jika hari ini engkau merasa berbeda karena ingin taat. Jangan lemah hanya karena lingkungan tidak mendukung. Bisa jadi, rasa asing yang engkau rasakan adalah tanda bahwa engkau sedang berusaha berjalan di atas jalan para nabi, para sahabat, dan orang-orang saleh.
Di akhir zaman ini, yang dibutuhkan bukan popularitas, tetapi keteguhan hati. Bukan banyaknya teman, tetapi kokohnya iman. Sebab keselamatan bukan milik mereka yang mengikuti arus, melainkan milik mereka yang sabar bertahan di atas kebenaran.
Sumber: Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab (2/329) []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

