Home NasihatRabbani, Bukan Ramadhani

Rabbani, Bukan Ramadhani

Orang rabbani adalah orang yang dididik oleh Al-Qur’an, mendidik dirinya dengan keteguhan, dan membiasakan hari-harinya dengan ketaatan.

by Abu Umar
0 comments 82 views

Ramadan telah berlalu…
Setelah menara-menara masjid kita berhias dengannya, hati-hati kita hidup karenanya, dan pelataran serta masjid-masjid kita dipenuhi berkah dan cahayanya.

Ramadan telah pergi, setelah ia membagi manusia menjadi tiga golongan:
ada yang menzalimi dirinya sendiri,
ada yang pertengahan,
dan ada yang berlomba-lomba dalam kebaikan dengan izin Allah.

Sesungguhnya nikmat Allah kepada kita dengan mempertemukan kita dengan Ramadan, lalu menyempurnakan nikmat itu dengan memberi kita kesempatan menuntaskannya, adalah karunia ilahi yang tak ternilai harganya.

Ibadah kita di bulan Ramadan bukanlah sekadar kenangan sesaat, atau musim yang datang lalu berlalu. Ia adalah “pengumuman kemenangan” ruh atas materi, tekad atas syahwat, dan iman atas kelalaian.

Benar, baru kemarin kita mengucapkan selamat tinggal kepada malam-malam qiyam, menutup lembaran-lembaran puasa, dan bergembira di hari raya dengan berbuka kita. Dan insyaAllah, kita pun akan bergembira kelak saat bertemu Allah karena puasa kita, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu Rabb-nya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

BACA JUGA:  Untuk Mereka yang Masih Berat Menunaikan Shalat Subuh

Maka pada hari raya, kita berdiri di pelataran karunia, menyambut pemberian dari Dzat Yang Maha Mulia dengan hati yang beriman. Kita bersyukur kepada Allah atas sempurnanya bilangan hari puasa, lengkapnya nikmat, dan kita mengagungkan-Nya atas petunjuk yang Dia berikan, sebagaimana firman-Nya:

“Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Namun, berlalunya Ramadan bukan berarti berakhirnya ibadah. Justru itu adalah ujian bagi kejujuran penghambaan kita. Seorang mukmin yang telah dididik di madrasah Ramadan tidak akan menanggalkan pakaian takwanya ketika matahari Ramadan terbenam. Ia akan membawa cahaya Ramadan untuk menerangi bulan-bulan setelahnya.

Pertama: Istiqamah dalam Ibadah

Kaum muslimin telah sepakat bahwa jawaban dari pertanyaan: “Apa yang harus dilakukan setelah Ramadan?” adalah: istiqamah.

Dalam hadits Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Aku berkata: Wahai Rasulullah, katakan kepadaku dalam Islam suatu ucapan yang aku tidak perlu lagi bertanya kepada siapa pun selain engkau.”
Maka beliau bersabda:
“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah.”
(HR. Muslim)

Allah juga berfirman kepada Nabi-Nya:

“Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan.” (QS. Hud: 112)

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

Ayat yang mulia ini menegaskan bahwa ibadah tidak memiliki batas waktu selain kematian.

Jika Allah telah mengaruniakan kepadamu puasa Ramadan, maka jangan tinggalkan puasa setelah Ramadan.
Jika Allah telah memberimu taufik untuk qiyamul lail di Ramadan, maka jangan putuskan setelah Ramadan.
Jika Allah telah memudahkanmu membaca Al-Qur’an di dalamnya, maka jangan tinggalkan Al-Qur’an setelah Ramadan.
Begitu pula seluruh amal saleh dan ibadah yang dahulu engkau lakukan di bulan itu, jangan sampai engkau terlepas darinya setelah Ramadan.

Karena Rabb-nya Ramadan adalah Rabb-nya Syawal, dan Rabb seluruh bulan sepanjang tahun.

Adapun orang yang hanya beribadah kepada Allah di musim-musim tertentu saja, maka itulah orang yang hanya mengenal Allah saat momentum datang.
Jangan menjadi “Ramadhani”, tetapi jadilah “Rabbani”.

Kedua: Di Antara Tanda Diterimanya Amal adalah Berlanjutnya Amal Itu

Berakhirnya Ramadan dan datangnya hari raya bukan berarti melupakan janji kepada Allah. Justru itu adalah kebahagiaan karena sempurnanya nikmat, sekaligus awal fase baru dalam ketaatan dan penghambaan.

Seorang mukmin tidak berhenti beribadah selama napas masih berhembus.

Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang amalan Nabi ﷺ, beliau menjawab:

“Amal beliau itu terus-menerus.” (HR. Bukhari)

Dan Nabi ﷺ bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus, walaupun sedikit.” (Muttafaq ‘alaih)

Para salafus shalih adalah orang-orang yang paling takut terhadap futur setelah amal, dan paling keras memperingatkan dari ibadah musiman.

Bisyru Al-Hafi rahimahullah pernah ditanya tentang suatu kaum yang rajin beribadah di bulan Ramadan, lalu ketika Ramadan berakhir mereka pun meninggalkannya. Maka beliau berkata:

“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadan. Sesungguhnya orang saleh adalah yang beribadah dan bersungguh-sungguh sepanjang tahun.”

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah juga berkata:

“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batas akhir amal seorang mukmin selain kematian.”

Lalu beliau membaca firman Allah:

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

Maka kesinambungan dalam amal saleh adalah bukti nyata bahwa puasa Ramadan benar-benar membuahkan hasil dalam menyucikan jiwa dan memperbaiki perilaku.

Ibnu Rajab dan ulama lainnya menyebutkan bahwa di antara tanda diterimanya satu kebaikan adalah adanya kebaikan setelahnya, dan satu ketaatan disusul dengan ketaatan berikutnya.

Ketiga: Pedoman untuk Terus Berjalan

Seorang hamba tidak dituntut setelah Ramadan untuk tetap berada pada ritme ibadah yang sama persis seperti di bulan Ramadan. Sebab, kemudahan-kemudahan dan faktor pendorong ibadah yang ada di Ramadan tidak sama dengan bulan-bulan lainnya.

Namun, ia tetap dituntut agar tidak memutus tali hubungan dengan Allah.

Dua rakaat di tengah malam,
puasa ayyamul bidh,
serta wirid harian berupa Al-Qur’an dan zikir,
sudah cukup untuk menjaga bara iman agar tetap menyala.

Telah sahih dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa beliau berkata:

“Amal yang paling dicintai Rasulullah ﷺ adalah amal yang terus dijaga oleh pelakunya walaupun sedikit.”

Jadi, yang terpenting bukan banyaknya semata, tetapi kesinambungan dan keikhlasan.

Penutup: Jadilah Orang Rabbani

Allah Ta’ala berfirman:

“ولكن كونوا ربانيين”

“Akan tetapi, jadilah kalian orang-orang rabbani.” (QS. Ali ‘Imran: 79)

Ini adalah kalimat agung yang mengandung makna pendidikan, keteguhan, kesinambungan, dan keterikatan yang terus-menerus dengan Allah.

Orang rabbani adalah orang yang dididik oleh Al-Qur’an, mendidik dirinya dengan keteguhan, dan membiasakan hari-harinya dengan ketaatan.

Orang rabbani bukanlah anak musim, melainkan anak dari sebuah tujuan hidup. Sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Al-An’am: 79)

Seorang rabbani tidak beribadah kepada Allah selama tiga puluh hari saja, lalu kembali kepada kelalaian yang nyaman. Tetapi ia beribadah kepada Rabb-nya di Ramadan dan setelah Ramadan.

BACA JUGA: Menghadiri Shalat Subuh, atau Bersama Orang-orang Munafik?

Dalam setiap waktu, hatinya tidak mengenal kalender, tetapi mengenal kiblat.

Ramadan adalah madrasah, bukan ijazah kelulusan.
Ia adalah kamp pelatihan ruhani, bukan akhir dari perjuangan.

Di dalamnya kita belajar sabar, agar kita bisa sabar setelahnya.
Di dalamnya kita merasakan manisnya qiyamul lail, agar kita terus menjaganya di malam-malam berikutnya.
Di dalamnya kita menahan lisan, agar kita tidak melepaskannya tanpa kendali setelah Idulfitri.

Karena orang rabbani memahami bahwa jalan menuju Allah bukanlah festival tahunan, melainkan perjalanan seumur hidup.

Maka seruan abadi yang harus terus bergema dalam jiwa kita adalah:

“Jadilah Rabbani, bukan Ramadhani.”

Jadilah bersama Allah dalam setiap keadaan.
Jadikan istiqamahmu setelah Ramadan sebagai bentuk syukur nyata atas taufik Allah yang telah Dia berikan kepadamu di bulan itu.

Jika Ramadan telah menyalakan bara ibadah dalam dirimu, maka jagalah agar ia tidak dipadamkan oleh angin syahwat setelahnya.

Karena ukuran keberhasilan bukan hanya semangat sesaat, tetapi ketulusan arah, kesinambungan langkah, dan kesetiaan pada janji hingga kita berjumpa dengan Allah dalam keadaan Dia ridha kepada kita. []

SUMBER: ISLAMWAY.NET

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119