Hidup tak selalu lapang.
Hati sering terasa sempit.
Masalah datang bergantian.
Di saat seperti itu,
Islam tidak mengajarkan pelarian.
Tapi kembali.
Kembali kepada Allah.
Rasulullah ﷺ memberi jalan.
Sederhana.
Namun dalam.
“Barang siapa memperbanyak istighfar,
niscaya Allah melapangkan setiap kegundahannya,
melepaskan setiap kesempitannya,
dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(HR. Abu Dawud)
BACA JUGA: 3 Kalimat Istighfar
Istighfar bukan hanya ucapan.
Ia pengakuan.
Bahwa kita lemah.
Dan Allah Mahakuat.
Ia adalah bahasa orang yang sadar.
Bahwa dosa,
sering menjadi sebab sempitnya hidup.
Allah sendiri yang menjanjikan.
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepada-Nya,
niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu.”
(QS. Hud: 3)
Bukan sekadar cukup.
Tapi baik.
Dan diberkahi.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,
“Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah kalian,
di meja makan kalian,
di jalan-jalan kalian,
dan di pasar-pasar kalian.
Kalian tidak tahu,
di saat mana rahmat Allah turun.”
Istighfar membuka hati.
Menjernihkan pikiran.
Melapangkan dada.
Ia melepas simpul-simpul batin
yang tak mampu diurai oleh logika.
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata,
“Aku lebih membutuhkan istighfar
daripada banyak amal.”
BACA JUGA: Keistimewaan Istighfar di Dunia ataupun di Akhirat Kelak
Karena dosa yang kecil,
jika dibiarkan,
akan menjadi dinding.
Menghalangi pertolongan Allah.
Mengingat Allah memang tidak mudah.
Apalagi saat jiwa lelah.
Dan harapan terasa jauh.
Namun siapa yang bersungguh-sungguh kembali,
Allah tidak pernah ingkar janji.
Apa yang diniatkan karena-Nya,
takkan sia-sia.
Jika bukan di dunia,
maka di akhirat.
Di surga.
Allahu a‘lam. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

