Home MuhasabahMengapa Ujian Nikmat Lebih Berat daripada Ujian Derita?

Mengapa Ujian Nikmat Lebih Berat daripada Ujian Derita?

lalai dari Al-Qur’an, dan sibuk dengan dunia setelah hidupnya lapang. Kenikmatan yang tidak disikapi dengan syukur dapat berubah menjadi sebab kehancuran.

by Abu Umar
0 comments 5 views

Manusia sering mengira bahwa ujian paling berat dalam hidup adalah kesedihan, kemiskinan, sakit, atau kehilangan. Padahal dalam banyak keadaan, ujian berupa kenikmatan justru lebih berat daripada ujian penderitaan. Sebab ketika seseorang berada dalam kesulitan, biasanya ia lebih mudah mengingat Allah, lebih banyak berdoa, dan lebih sadar akan kelemahannya. Namun ketika hidup dipenuhi kelapangan, manusia sering lalai dan merasa aman dari hukuman Allah.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya.” ((QS. Al-Anbiya: 35)

Ayat ini menunjukkan bahwa nikmat juga merupakan ujian. Harta, jabatan, kesehatan, pujian manusia, bahkan waktu luang, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

BACA JUGA: Ujian dan Musibah yang Menimpamu

Sebagian ulama berkata: “Ujian kesempitan bisa disabari oleh orang baik maupun orang jahat, namun tidak ada yang mampu bersabar menghadapi ujian kelapangan kecuali seorang Shiddiq.” Ikhtiyar al-Aula

Maksudnya, banyak orang mampu bersabar ketika tidak memiliki apa-apa, karena keadaan memaksanya untuk bertahan. Tetapi ketika seseorang diberi kekayaan, kemudahan, dan kenyamanan, tidak semua mampu menjaga hatinya tetap tawadhu, tetap bersyukur, dan tetap taat kepada Allah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa sabar dalam kenikmatan berarti menahan diri dari kesombongan, dari menggunakan nikmat untuk maksiat, dan dari hati yang lalai kepada Allah. Inilah bentuk kesabaran yang sangat berat.

BACA JUGA: Ujian dan Kesabaran Nabi ﷺ

Betapa banyak manusia yang tetap rajin beribadah ketika hidupnya sulit, tetapi mulai meninggalkan shalat, lalai dari Al-Qur’an, dan sibuk dengan dunia setelah hidupnya lapang. Kenikmatan yang tidak disikapi dengan syukur dapat berubah menjadi sebab kehancuran.

Para ulama salaf dahulu sangat takut terhadap fitnah dunia. Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah berkata, “Kami diuji dengan kesulitan lalu kami bersabar, tetapi ketika diuji dengan kelapangan, kami tidak mampu.”

Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak hanya meminta diangkat dari penderitaan, tetapi juga memohon agar diberi hati yang kuat ketika mendapatkan nikmat. Sebab banyak orang mampu menangis saat susah, namun sedikit yang tetap tunduk kepada Allah ketika hidupnya dipenuhi kemudahan. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119