Home MuhasabahHati-hatilah, Jadi Orang yang Paling Banyak Kenyang di Dunia

Hati-hatilah, Jadi Orang yang Paling Banyak Kenyang di Dunia

Jika engkau menjadikannya sebagai kenikmatan, niscaya engkau akan binasa.” Perkataan ini menunjukkan bahwa makan bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk beribadah.

by Abu Umar
0 comments 162 views

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat menggugah jiwa dalam sabdanya:

فإن أكثر الناس شبعاً في الدنيا أطولهم جوعاً يوم القيامة

“Sesungguhnya orang yang paling banyak kenyang di dunia adalah yang paling panjang laparnya di hari kiamat.” (HR. Ath-Thabrani dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Hadits ini bukan larangan untuk makan atau menikmati rezeki Allah. Kenyang pada asalnya adalah perkara yang mubah. Bahkan makan dengan niat menjaga kekuatan untuk beribadah bisa bernilai pahala. Namun, Islam datang untuk meluruskan sikap: ketika kenyang menjadi kebiasaan tanpa kendali, di situlah bahaya bermula.

BACA JUGA: Adab Berkumpul untuk Makan

Kenyang yang terus-menerus sering kali melahirkan hati yang berat untuk taat. Badan terasa malas, mata mengantuk, dan langkah enggan menuju masjid. Perlahan, seseorang lebih sibuk memikirkan menu makanan, ragam pakaian, dan kenikmatan dunia lainnya, hingga lupa bahwa hidup ini hanyalah persinggahan sementara.

Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadits hasan: “Seburuk-buruk umatku adalah orang-orang yang diberi kenikmatan, mereka makan aneka ragam makanan, memakai bermacam-macam pakaian, dan berbicara dengan sombong.”

Ulama salaf sangat memahami bahaya kenyang yang berlebihan. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Wahai anak Adam, makanlah sekadar untuk menegakkan tulang punggungmu. Jika engkau menjadikannya sebagai kenikmatan, niscaya engkau akan binasa.” Perkataan ini menunjukkan bahwa makan bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk beribadah.

BACA JUGA: Doa Lelaki Miskin yang Kelaparan

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikenal hidup sangat sederhana. Beliau berkata, “Sedikit makan akan melembutkan hati, sedangkan banyak makan akan mematikannya.” Hati yang mati akan sulit menangis karena dosa, sulit khusyuk dalam shalat, dan berat untuk menerima nasihat.

Sebaliknya, lapar yang terkontrol justru melahirkan kejernihan jiwa. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menahan diri dari kenyang, karena takut hatinya menjadi keras. Bagi para salaf, perut yang ringan adalah kunci kekhusyukan dan kedekatan dengan Allah.

Ramadhan hadir sebagai madrasah ruhani. Sebulan penuh kita dilatih menahan lapar dan dahaga. Bukan sekadar menahan makan, tetapi menundukkan nafsu. Lapar di dunia ini, jika disertai iman dan kesabaran, diharapkan menjadi sebab diringankannya lapar di padang mahsyar kelak. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119