Home KajianIlmu Tidak Boleh Diambil dari 4 Orang Ini

Ilmu Tidak Boleh Diambil dari 4 Orang Ini

Dari empat golongan ini, kita belajar bahwa menuntut ilmu bukan sekadar mendengar, tetapi juga memilih siapa yang didengar. Ilmu agama adalah warisan para nabi, bukan warisan orang yang hanya pandai berbicara.

by Abu Umar
0 comments 104 views

Imam Malik rahimahullah berkata:

لَا يُؤْخَذُ الْعِلْمَ عَنْ أَرْبَعَة: سَفِيْهٍ مُعْلِن السَّفَهِ, وَصَاحِبِ هَوَى يَدْعُوْ إِلَيْهِ وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالكَذِبِ فِي أَحَادِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لَا يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْلِ صلى الله عليه وسلم , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلَاحٌ لَا يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ

“Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang:

(1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya,
(2) Shahibu hawa (pengikut hawa nafsu) yang mengajak agar mengikuti hawa nafsunya,
(3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah ﷺ,
(4) Seorang yang mulia dan saleh yang tidak mengetahui hadis yang dia sampaikan.”

[Jami’ Bayan Al-‘Ilmi hlm. 348]

Ucapan ini menjadi peringatan bagi setiap penuntut ilmu agar tidak sembarangan mengambil ilmu dari sembarang orang. Dalam hal ini, para ulama salaf memberikan panduan yang sangat berharga tentang siapa saja yang tidak boleh dijadikan sumber ilmu. Mereka menyebutkan empat golongan yang harus dihindari, karena ilmu yang diambil dari mereka justru dapat menjerumuskan ke dalam kesesatan.

BACA JUGA:  Maksiat menghalangi masuknya ilmu

1. Orang Bodoh yang Nyata Kebodohannya

Golongan pertama adalah orang yang bodoh dan nyata kebodohannya. Orang seperti ini berbicara tentang agama tanpa ilmu, menafsirkan Al-Qur’an dan hadis dengan hawa nafsu, serta sering berbicara tentang perkara yang tidak diketahuinya.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Ilmu agama bukan sekadar kemampuan berbicara, tetapi cahaya yang ditanamkan Allah dalam hati orang yang beriman dan beramal saleh. Karena itu, mengambil ilmu dari orang yang tidak berilmu adalah kesalahan besar. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata:

“Barang siapa belajar kepada orang bodoh, maka kebodohannya akan bertambah.”

Ilmu yang benar harus datang dari ulama yang mendalam ilmunya, bukan dari orang yang hanya mengandalkan logika tanpa dasar wahyu.

2. Pengikut Hawa Nafsu yang Mengajak kepada Hawa Nafsu

Golongan kedua adalah pengikut hawa nafsu (shahibu hawa), yakni orang yang menjadikan perasaannya, kelompoknya, atau kepentingan dirinya sebagai dasar beragama. Mereka mengajak manusia kepada pendapat dan golongan, bukan kepada kebenaran.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Tidak ada sesuatu yang lebih merusak agama seseorang melebihi hawa nafsunya. Karena hawa nafsu menutup mata dari melihat kebenaran dan menutup telinga dari mendengarnya.”

Orang yang dikuasai hawa nafsu akan memelintir ayat dan hadis untuk membenarkan pendapatnya. Mereka menjadikan ilmu sebagai alat pembenaran diri, bukan sebagai jalan menuju Allah. Karena itu, ilmu yang diambil dari mereka bukan membawa cahaya, tapi justru kegelapan.

3. Pendusta dalam Perkataan, Walau Tidak Berdusta atas Nama Nabi ﷺ

Golongan ketiga adalah orang yang dikenal dusta dalam ucapannya, walaupun ia tidak berdusta atas nama Rasulullah ﷺ. Mengambil ilmu dari pendusta adalah kesalahan besar, karena kebohongan akan merusak kepercayaan dan mencemari kebenaran.

Imam Malik rahimahullah berkata:

“Tidak boleh diambil ilmu dari orang yang dikenal suka berdusta, walaupun dia berkata ‘Saya tidak berdusta atas nama Nabi.’”

Kebenaran dalam ucapan adalah tanda kejujuran hati. Orang yang biasa berdusta kepada manusia tidak bisa dipercaya untuk menyampaikan amanah ilmu. Sebab ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu tidak akan masuk ke dalam hati yang gelap oleh kebohongan.

4. Orang Saleh yang Tidak Mengetahui Hadis yang Ia Sampaikan

Golongan keempat tampak aneh bagi sebagian orang — yaitu seorang yang saleh dan mulia, namun tidak mengetahui hadis yang ia sampaikan. Walaupun niatnya baik dan ibadahnya banyak, jika ia tidak memahami dengan benar apa yang diajarkannya, maka ia tetap tidak layak dijadikan sumber ilmu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan:

“Kebaikan niat tidaklah cukup dalam urusan agama, sampai benar pula jalannya (ilmunya).”

Kebaikan niat tanpa ilmu bisa menjerumuskan kepada kebid’ahan. Orang yang saleh tetapi tidak berilmu, ketika menyampaikan sesuatu yang salah, akan menyesatkan orang lain tanpa ia sadari. Karenanya, keikhlasan harus disertai dengan ilmu yang benar.

BACA JUGA:  Berbahagialah Orang yang Berilmu dan Mengamalkannya

Penutup: Ambillah Ilmu dari Ahlinya

Dari empat golongan di atas, kita belajar bahwa menuntut ilmu bukan sekadar mendengar, tetapi juga memilih siapa yang didengar. Ilmu agama adalah warisan para nabi, bukan warisan orang yang hanya pandai berbicara.

Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata:

“Ilmu tidak akan hilang dengan hilangnya catatan dan buku, tetapi dengan wafatnya para ulama. Jika ilmu diambil dari selain mereka, maka binasalah umat.”

Maka berhati-hatilah, wahai penuntut ilmu. Carilah ilmu dari para ulama yang lurus akidahnya, jujur lisannya, kokoh ilmunya, dan selamat manhajnya. Sebab dari merekalah cahaya ilmu akan menerangi hati, membawa kepada amal, dan menuntun kita menuju ridha Allah Ta’ala. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119