Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa dia menuturkan; Suatu ketika Rasulullah bersabda:
(( مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هُذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدُّ ))
“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami yang tidak ada padanya, maka ia tertolak.”
Dari Anas bin Malik, dari Rasulullah bahwasanya beliau pernah bersabda:
(( مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي ))
“Barangsiapa yang tidak suka terhadap sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.”
Dari Abdurrahman bin Amr as-Sulami dan Hujr bin Hujr, keduanya bertutur; Kami pernah mendatangi Irbadh bin Sariyah-seorang Sahabat yang diturunkan kepadanya firman Allah:
وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا
أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ ….
“Dan tidak ada (pula dosa) atas orang-orang yang datang kepadamu (Muhammad), agar engkau memberi kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata: ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” (QS. At-Taubah [9]: 92)
BACA JUGA: Waspada terhadap Fitnah dan Tipu Daya Iblis
Setelah itu kami mengucapkan salam, kemudian kami berkata: ‘Kami mendatangimu untuk berziarah, menjenguk serta mengambil hadits darimu. Maka Irbadh menuturkan:
صَلَّى بِنَا رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ، فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيْغَةً، ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، فَقَالَ قَائِلٌ : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدّعٍ، فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟ فَقَالَ: (( أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشُ مِنْكُمْ بَعْدِي، فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيَيْنَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوْا بِهَا، وَعَضُوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِدِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. ))
“Pada suatu hari, Rasulullah mengimami kami. Seusai shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami, kemudian menyampaikan nasihat yang amat mendalam sehingga membuat mata kami menangis dan hati kami merasa takut. Lalu seseorang berkata: ‘Ya Rasulullah, seakan-akan ini nasihat perpisahan. Apakah yang akan kau wasiatkan kepada kami?’ Beliau bersabda: ‘Aku mewasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah, senantiasa mendengar dan taat (kepada pemimpin), meskipun pemimpin kalian adalah seorang sahaya Habasyah. Sungguh, barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, maka niscaya dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Oleh karena itu berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang memperoleh petunjuk setelahku. Berpegang teguhlah kepadanya, dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu perkara agama yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara agama yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.”
Dari Ibnu Mas’ud, bahwasanya dia menceritakan; Rasulullah bersabda:
(( أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، وَلَيُخْتَلَجَنَّ رِجَالٌ دُوْنِي، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ أَصْحَابِي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ ))
“Aku akan mendahului kalian menuju ke al-Haudh (telaga Nabi ﷺ di Surga), serta akan ada orang-orang yang benar-benar dihalau dariku. Aku berkata: ‘Wahai Rabbku, mereka itu adalah para Sahabatku.’ Dan dikatakan (kepadaku): ‘Sungguh, engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan sepeninggal engkau.” (HR. Bukhari Muslim)
Dari Sufyan ats-Tsauri, dia berkata: “Bid’ah lebih disukai Iblis daripada maksiat, karena ahli maksiat itu lebih mudah bertaubat dari kemaksiatannya, sedang ahli bid’ah akan sulit bertaubat dari bid’ahnya.”
Dari al-Fudhail, dia mengatakan: “Apabila engkau bertemu dengan seorang ahli bid’ah di suatu jalan, maka ambillah jalan selainnya. Tidak ada satu amal pun dari ahli bid’ah yang akan diangkat kepada Allah. Bahkan barangsiapa yang menolong pelaku bid’ah, maka dia sama saja telah membantunya untuk menghancurkan Islam.”
BACA JUGA: Perintah Berpegang Teguh pada Sunnah Dan Tetap Berada dalam Jamaah
Aku pernah mendengar seorang laki-laki mengatakan sesuatu kepada al-Fudhail: “Barangsiapa yang menikahkan putri (anak perempuan)nya dengan seorang laki-laki fasik, maka sesungguhnya dia telah memutus hubungan silaturahim dengan anaknya itu.” Mendengar perkataan itu, al-Fudhail pun menimpalinya: “Barangsiapa menikahkan putri (anak perempuan)nya dengan seorang laki-laki ahli bid’ah, maka sungguh dia telah memutus hubungan silaturahim dengan anaknya itu. Barangsiapa yang berteman dengan ahli bid’ah, maka dia tidak akan mendapat hikmah (ilmu). Jika Allah mengetahui seseorang membenci ahli bid’ah, maka aku berharap Allah mengampuni dosa-dosanya.”
Ibnul Jauzi menjelaskan; Sebagian perkataan berikut diriwayatkan secara marfu’: dari Aisyah, dia menuturkan; Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang menghormati” ((مَنْ وَقَرَ صَاحِبَ بِدْعَةٍ، فَقَدْ أَعَانَ عَلَى هَدْمِ الْإِسْلَامِ)) ahli bid’ah maka berarti dia telah membantu menghancurkan Islam.” []
Sumber: Al-Muntaqa An-Nafis min Talbîs Iblîs (Talbis Iblis – Tipu Daya dan Perangkap Iblis ddalam Upaya Menjerumuskan Manusia Ke Jurang Kehancuran / Penulis: Ibnul Jauzi / Penerbit: : Dar Ibnul Jauzi Riyadh KSA / Cet. I 1429 Η / Pustaka Imam Syafi’i / Cetakan Keenam Jumadil Ula 1442 H / Desember 2020 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

