Para ulama menyebutkan bahwa Allah sering menggambarkan dunia seperti air, dan itu bukan tanpa hikmah.
Pertama:
Karena sifat dunia itu mudah lepas.
Seseorang tidak akan pernah benar-benar bisa menggenggam dunia sepenuhnya, sebagaimana seseorang tidak bisa memegang air erat-erat tanpa kehilangannya.
Semakin dikejar, semakin terasa tidak cukup.
BACA JUGA: Nasihat Rasulullah ﷺ yang Cukup untuk Dunia dan Akhirat
Kedua:
Karena orang yang masuk ke dalam dunia, hampir pasti akan terkena pengaruhnya.
Sebagaimana orang yang terkena air pasti akan basah, begitu pula orang yang bergaul dengan dunia pasti akan terkena dampaknya.
Namun ada perbedaan yang sangat besar antara:
“Basah”
Yaitu orang yang masih tersentuh dunia, tetapi hatinya tetap takut kepada akhirat. Ia mungkin bekerja, berkeluarga, mencari rezeki, bergaul, dan menikmati hal-hal mubah, tetapi hatinya tidak tenggelam. Ia cepat sadar, cepat kembali, dan cepat mengering dari “basah” dunia itu.
“Tenggelam”
Yaitu orang yang masuk ke dunia begitu dalam sampai ia lupa tujuan hidupnya. Ia terus sibuk, terus mengejar, terus merancang, terus menghitung, terus ingin menambah, sampai akhirnya ia tidak tersadar kecuali ketika sudah berhadapan dengan:
kematian,
alam kubur,
dan pertanyaan Munkar dan Nakir.
Inilah tragedi yang sesungguhnya.
Hisablah Dirimu Sebelum Dihisab
Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه berkata:
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah amal kalian sebelum amal itu ditimbang atas kalian. Dan bersiaplah untuk hari ditampakkannya seluruh amal,
{يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنكُمْ خَافِيَةٌ}
‘Pada hari itu kalian akan dihadapkan (kepada Allah), tidak ada sesuatu pun dari kalian yang tersembunyi.’
Sesungguhnya hisab pada hari Kiamat akan menjadi ringan bagi orang yang telah menghisab dirinya di dunia.”
Inilah resep keselamatan.
Bukan berarti kita harus meninggalkan dunia seluruhnya. Tetapi kita harus terus memeriksa hati:
Untuk apa aku bekerja?
Apa yang paling sering memenuhi pikiranku?
Apa yang paling aku takutkan: rugi dunia atau rugi akhirat?
Jika malam ini aku mati, apa yang paling aku sesali?
Muhasabah seperti ini bukan untuk membuat hidup muram, tetapi justru untuk menyelamatkan arah hidup kita.
Penutup: Jangan Sampai Umur Habis, Tapi Hati Belum Pulang
Masalah terbesar bukan sekadar umur yang pendek.
Masalah terbesarnya adalah: angan-angan kita terlalu panjang untuk umur yang sangat terbatas.
BACA JUGA: Janganlah Terlalu Disibukkan dengan Dunia
Kita sering hidup seolah-olah dunia ini rumah abadi, padahal ia hanyalah persinggahan yang sangat singkat. Kita sibuk membangun banyak hal, tetapi lupa mempersiapkan tempat tinggal yang paling lama: alam kubur dan akhirat.
Karena itu, orang yang cerdas bukanlah yang paling banyak rencananya, tetapi yang paling sadar ke mana akhirnya ia akan pulang.
Jangan biarkan dunia menguasai hati.
Ambillah darinya secukupnya.
Gunakanlah ia untuk taat.
Dan jadikan akhirat sebagai tujuan utama.
Sebab pada akhirnya, kita semua akan sampai pada satu titik yang sama:
ketika semua angan berhenti, dan yang tersisa hanyalah amal.
Sumber:
HR. Al-Bukhari tentang panjang angan-angan dan cinta harta
HR. Al-Bukhari tentang gambaran ajal dan angan-angan
QS. Al-Qashash: 77
Hadits Al-Bara’ bin ‘Azib رضي الله عنه tentang keadaan di alam kubur
Atsar Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه
AR-ISLAMWAY.NET
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

