Saya merenungkan tujuan penciptaan alam ini. Sungguh alam semesta ini sarat dengan kerendahdirian dan pengakuan akan kekurangan dan kelemahan makhluk di hadapan Khaliq-Nya.
Ada dua golongan ulama dan ahli zuhud yang beramal. Di dalam barisan ulama ada Imam Malik, Sufyan ats-Tsauri, Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad. Saya mengisi barisan ahli ibadah dengan nama-nama Malik bin Dinar, Rabiah al-Adawiyah, Ma’ruf al-Karkhi, dan Bisyr al-Hafi.
BACA JUGA: Hati adalah Perisai
Ketika para ahli ibadah tenggelam dalam ritualnya, maka lingkungan akan mengecam bahwa ibadah itu hanya berguna bagi diri mereka semata. Sebaliknya, amal yang dilakukan para ulama jauh lebih berguna. Merekalah pewaris para rasul sekaligus khalifah Allah di muka bumi. Merekalah yang bisa dijadikan sandaran. Merekalah yang sesungguhnya memiliki banyak keutamaan.
Para ulama beranggapan, tujuan ilmu ialah untuk diamalkan. Mereka tahu bahwa ilmu adalah alat. Oleh karena itu, mereka selalu belajar dan mengakui segala kekurangan dan kealpaan.
Suatu ketika, Malik bin Dinar datang kepada al-Hasan al-Bashry untuk belajar tentang suatu ilmu. Dia berkata, “Al-Hasan adalah guruku.”
Di saat ulama melihat bahwa ilmu telah memberi mereka keutamaan, lin-kungan akan berteriak, “Tidakkah ilmu dikaruniakan untuk diamalkan?” Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Bukankah ilmu itu seperti apa yang telah dicapai Ma’ruf al-Karkhi? (Ma’ruf adalah seorang wali yang sangat masyhur). Allah berfirman, Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak ber-ilmu? (az-Zumar [39]: 9).
BACA JUGA: Yang Dilarang Biasanya Menarik
Suatu saat, Sufyan ats-Tsauri datang menemui Rabiah al-Adawiyah untuk berguru kepadanya. Para ulama beranggapan, tujuan ilmu ialah untuk diamalkan. Mereka tahu bahwa ilmu adalah alat. Oleh karena itu, mereka selalu belajar dan mengakui segala kekurangan dan kealpaan. Mereka sampai pada pengakuan, bahwa diri mereka amatlah rendah dan hina di hadapan Sang Khaliq. Pada akhirnya, mereka mendapat hakikat sebagai buah pengakuan mereka. Itulah yang d-maksud dengan taklif. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

