Ibnul Jauzia mengatakan; Seseorang menggugurkan kewajiban haji dengan melaksanakannya sekali, kemudian dia kembali berhaji tanpa keridhaan kedua orang tuanya. Ini merupakan perbuatan yang tidak benar!
Ada lagi seseorang yang berhaji dalam keadaan masih menanggung utang, atau dia harus mengembalikan hak orang lain yang dizhaliminya. Kadang juga dia berangkat ke Tanah Suci-kota Makkah dan Madinah-hanya untuk jalan-jalan, atau berangkat haji dengan uang syubhat (dana yang tidak jelas kehalalan perolehannya).
Bahkan, ada yang pergi berhaji dengan harapan dipanggil dengan gelar “haji” saat bertemu orang lain.”
Mayoritas mereka mengabaikan kewajiban-kewajiban manasik yang tetap harus dikerjakan selama di perjalanan, seperti bersuci dan shalat. Mereka berkumpul di Ka’bah dengan hati yang penuh dosa dan batin yang kotor.
BACA JUGA: Talbis Iblis dalam Perkara Membaca Al-Qur-an
Iblis memperlihatkan bentuk ibadah haji kepada mereka tetapi mengaburkan hakikatnya sehingga membuat tertipu. Padahal yang dituju ibadah haji ini tak lain mendekatkan diri kepada Allah dengan hati, bukan dengan tubuh, dan hal tersebut dapat diwujudkan dengan aktivitas takwa.
Berapa banyak orang-orang muslim yang berangkat ke Makkah tapi tujuan sebenarnya hanyalah memperbanyak jumlah ibadah haji yang pernah dilakukan olehnya; supaya dia bisa berseru: “Aku sudah wukuf 20 kali,” misalnya demikian.
Termasuk dalam hal ini apa yang mereka wasiatkan kepada keluarganya sebelum berangkat haji, yaitu supaya keluarganya menghiasi rumah dan menanam pohon di depan pintu rumah saat mereka pulang.
Berapa banyak orang yang menetap di dekat Ka’bah dalam kurun waktu yang lama, akan tetapi dia sama sekali tidak bisa membersihkan hatinya. Dan terkadang tujuannya tinggal di kota suci itu adalah untuk mendapatkan futub. Kadang juga, tujuannya adalah supaya dia dapat mengabarkan: “Hingga pada hari ini, sudah genap 20 tahun aku tinggal di dekat Ka’bah (Masjidil Haram).”
Tidak jarang aku menyaksikan di jalur jalan menuju kota Makkah seorang yang akan melaksanakan ibadah haji namun ia tidak segan memukul rekan-rekannya, atau mempersempit jalan mereka, hanya karena berebut air.
Iblis menipu para ahli ibadah yang berangkat beribadah haji itu, sehingga mereka meninggalkan shalat, serta mengurangi timbangan dan takaran saat berjual beli. Mereka mengira ibadah haji dapat manangkal adzab ilahi.
Tipuan Iblis membuat sebagian mereka mengada-ada sesuatu dalam manasik yang bukan bagian dari amalan haji. Aku melihat sekelompok orang membuat-buat amalan pada saat tengah berihram; yaitu mereka membuka satu pundak”, berjemur di bawah terik matahari berhari-hari hingga kulit mereka berubah gelap dan kepala mereka menjadi bengkak. Mereka menjadikannya perhiasan di depan orang-orang.
Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi Muhammad melihat seorang laki-laki sedang thawaf di Ka’bah dengan berpegangan pada tambang atau benda lainnya. Melihat itu, beliau lantas memotongnya.
Ibnul Jauzi lantas menegaskan: “Hadits ini melarang setiap muslim berbuat bid’ah dalam agama, meski niatnya untuk beribadah.”
Karena itu mengandung sikap berlebih-lebihan dalam ibadah.
Namun, Nabi bersabda: ‘Tidak, demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya jubah (yang digelapkannya) akan membakar dirinya di Neraka. Dia mengambilnya pada Perang Khaibar pada waktu harta rampasan perang belum dibagikan.’
BACA JUGA: Talbis Iblis atas Ahli Ibadah dalam Berwudhu
Mendengar sabda itu, orang-orang sontak ketakutan. Seorang laki-laki datang membawa satu atau dua tali sandal dan berkata: ‘Aku mengambilnya pada Perang Khaibar.’
Maka, Rasulullah bersabda: ‘Itu satu tali sandal dari api Neraka, atau dua tali sandal dari api Neraka.”
Terkadang seorang mujahid sudah tahu pengharaman tersebut, namun pada saat melihat harta rampasan perang yang melimpah ruah di hadapan matanya, dia tidak dapat menahan diri dari mengambilnya.
Dalam kondisi lain, boleh jadi karena dia menyangka bahwa jihad yang dilakukannya dapat melindunginya dari hukuman akibat perbuatan tersebut.
Di sinilah terlihat jelas sejauh mana pengaruh keimanan dan ilmu terhadap pribadi muslim. []
Sumber: Al-Muntaqa An-Nafis min Talbîs Iblîs (Talbis Iblis – Tipu Daya dan Perangkap Iblis ddalam Upaya Menjerumuskan Manusia Ke Jurang Kehancuran / Penulis: Ibnul Jauzi / Penerbit: : Dar Ibnul Jauzi Riyadh KSA / Cet. I 1429 Η / Pustaka Imam Syafi’i / Cetakan Keenam Jumadil Ula 1442 H / Desember 2020 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

