Suatu pagi, saya pergi ke Masjid Rushafah untuk sejenak berkhalwat. Saya lalu membuka lembaran-lembaran masa lalu dalam ingatan tentang sejarah para ulama dan orang saleh. Saya melihat banyak juga orang yang berdiam di sekitar masjid itu, lalu saya bertanya kepada mereka, “Sejak kapan engkau berdiam di tempat ini?” Ia lalu mengisyaratkan sekitar 40 tahun. Saya mendapati mereka tinggal dalam rumah yang sangat kumuh dan kotor. Hal ini membuat saya semakin berpikir, bagaimana mereka bisa bertahan hidup seperti itu?
Tiba-tiba jiwa saya menganggap hal itu sangat baik, tetapi lalu ia mengutuk dunia dan tipu dayanya yang sering menjerumuskan. Pikiran saya lalu memberontak dan mengingkari apa yang dibisikkan jiwa tadi. Pengetahuan ini pun bangkit untuk menyelidiki hakikat persoalan yang sebenarnya. Ternyata, syariat menguatkan apa yang dibisikkan ilmu pada hati saya.
Saat itulah saya katakan pada jiwa, “Ketahuilah, bahwa mereka itu terbagi dua.
Pertama, ada orang-orang yang melawan nafsunya dengan kesabaran. Namun, mereka kehilangan kesempatan dan maslahat bergaul dengan manusia dan orang-orang alim. Mereka juga menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal dan mendapat anak, memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi manusia dan dirinya sendiri saat bergaul dengan orang-orang cendekia.
BACA JUGA: Doa Orang yang Bersedih
Akhirnya mereka menderita kesendirian yang dalam. Tabiatnya menjadi kering-kerontang dan akhlaknya pun rapuh. Mungkin juga mereka akan didera penyakit akibat tidak tersalurkannya sperma pada tempat yang seharusnya. Rusaklah badan dan akalnya. Bahkan, kesendiriannya itu bisa memunculkan gangguan jiwa, hingga menganggap dirinya saat ini berada di barisan para wali dan tak lagi punya rasa peduli yang tinggi. Bisa juga muncul setan yang membuatnya mengkhayalkan lahirnya karamah dari dalam dirinya sebagai buah kedekatannya dengan Allah.
Apa yang mereka lakukan bukanlah taqarub, tetapi justru dibenci Allah. Rasulullah melarang orang hidup sendirian, namun mereka menyendiri tanpa teman sehingga setan makin mendekat. Rasulullah juga melarang umatnya hidup membujang. Dia juga melarang gaya hidup kependetaan. Karena melanggar larangan Rasulullah, akhirnya mereka jatuh dalam perangkap Iblis yang samar dan menghanyutkan.
Kedua, golongan orang-orang tua yang memisahkan diri dari kehidupan nyata. Mereka dituntut keadaan dan kondisi, tidak lagi mendapatkan tempat tinggal. Mereka adalah orang-orang yang termakan zaman dan orang-orang yang lemah.
Golongan pertama telah menjauhkan dirinya dari ilmu dan amal, tidak mencari nafkah, dan selalu menggantungkan diri pada orang-orang yang membuka pintu untuk memberi makan. Mereka bagaikan orang buta, padahal sebelumnya mampu melihat. Seperti orang yang terbelenggu setelah sebelumnya bebas dan merdeka.
Berkatalah jiwa saya, “Aku tidak rela dengan semua yang engkau katakan. Engkau selalu mengutamakan nikah dengan wanita-wanita cantik dan menikmati makanan-makanan yang lezat.” Jika Anda bukan termasuk golongan orang-orang yang ahli ibadah, janganlah mencela mereka.
Saya katakan kepadanya, “Jika engkau, wahai jiwaku, memahami, aku akan berbicara denganmu. Namun, jika engkau hanya ikut-ikutan, aku tegaskan bahwa engkau tak paham persoalan. Ketahuilah, menikah dengan wanita-wanita cantik itu sangat banyak tujuannya, di antaranya agar kita mendapat keturunan yang baik dan agar sehat karena mengeluarkan kelebihan sari makanan yang tersimpan di dalam tubuh. Kesempurnaan penyalurannya tidak mungkin terjadi jika kita tidak melakukannya kepada orang-orang yang kita sukai. Lihatlah bagaimana perbedaan keluarnya mani pada tempat yang tidak semestinya dengan penyaluran pada tempatnya. Dengan tersalurkannya hasrat biologis secara wajar, saat itulah nafsu akan terbebas dari keresahan.
Jiwa kita memiliki hak yang harus dipenuhi. Orang-orang yang bodoh, makan atas dasar selera pada kelezatan makanannya. Semestinya, lebih dari itu, makanan berfungsi memberikan nutrisi demi kekuatan kita sendiri.
Jika Anda ingin menyalurkan hajat, atau menghindari kemiringan nafsu, atau untuk kebahagiaan dunia-akhirat, semua uraian di atas saya landasi dengan tujuan yang benar. Bagi saya, memberikan hak kepada diri sendiri lebih baik daripada mereka yang berdiri dalam rakaat-rakaat shalat namun tak mengerti hakikat dan tujuannya serta tidak memahami setiap ungkapan yang mungkin saja keliru dan tak bermakna.
BACA JUGA: Orang-orang Fasik
Ketahuilah, sebaik-baik sifat adalah ilmu dan sebaik-baik ibadah adalah ilmu juga. Dialah yang mengarahkan manusia pada kemaslahatan dan selalu memberi nasihat.
Lebih dari itu, manfaat ilmu telah kita maklumi, sedangkan zuhudnya seorang zahid tak akan melebihinya. Rasulullah bersabda, Jika engkau dapat menjadikan orang mendapat hidayah lewat tanganmu, hal itu lebih baik daripada bersinarnya matahari.
Ambillah pelajaran dari keutamaan yang dimiliki para rasul dahulu.
Ulama dengan ilmunya haruslah berorientasi pada tujuan yang Allah halalkan. Betapa banyak ilmu yang hilang percuma akibat uzlah yang sebenarnya sangat berguna untuk kebaikan agama. Banyak pula mereka yang jatuh dalam bala yang merusak agama.
Uzlah dan pengasingan orang yang alim dilakukan untuk menghindari kejahatan dan kemungkaran. Semoga Allah memberi kita taufik dan petunjuk. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

