Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam kehidupan seorang muslim adalah menganggap bahwa harapan kepada Allah cukup diwujudkan dengan angan-angan dan ucapan semata. Sebagian orang berharap masuk surga, mendapatkan ampunan, memperoleh keberkahan hidup, dan meraih kemuliaan di sisi Allah, namun mereka tidak bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan yang mengantarkan kepada tujuan tersebut.
Padahal dalam ajaran Islam, harapan yang benar (raja’) selalu berjalan beriringan dengan amal saleh. Harapan tanpa usaha bukanlah raja’, melainkan angan-angan kosong yang dapat menipu seseorang hingga ia merasa aman dari hukuman Allah.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
الرجاء وحسن الظن إنما يكون مع الإتيان بالأسباب التي اقتضتها حكمة الله في شرعه وقدره وثوابه وكرامته، فيأتي العبد بها ثم يحسن ظنه بربه، ويرجوه أن لا يكله إليها، وأن يجعلها موصلة إلى ما ينفعه، ويصرف ما يعارضها ويبطل أثرها
“Harapan (raja’) dan berbaik sangka kepada Allah hanya benar apabila disertai dengan melakukan sebab-sebab yang telah ditetapkan oleh hikmah Allah dalam syariat-Nya, ketetapan-Nya, pahala-Nya, dan kemuliaan-Nya.
BACA JUGA: Ajal, Angan-angan dan Amal Shaleh
Seorang hamba mengerjakan sebab-sebab tersebut, kemudian ia berbaik sangka kepada Rabbnya, berharap agar Allah tidak menyerahkannya kepada amal itu semata, tetapi menjadikannya sebagai jalan yang mengantarkan kepada apa yang bermanfaat baginya, serta memalingkan darinya segala yang menghalangi dan merusak pengaruhnya.”
Ad-Da’u wad Dawa’u, hlm. 39
Perkataan yang berharga ini menjelaskan bahwa seorang muslim harus menggabungkan dua perkara: melakukan sebab dan bertawakal kepada Allah. Ia tidak hanya berharap mendapatkan hasil, tetapi juga berusaha menempuh jalan yang Allah syariatkan untuk meraih hasil tersebut.
Seseorang yang berharap memperoleh ampunan Allah harus memperbanyak istighfar dan taubat. Orang yang berharap surga harus beriman dan beramal saleh. Orang yang menginginkan keberkahan rezeki harus berusaha dengan cara yang halal dan menjauhi kemaksiatan. Inilah hakikat harapan yang benar.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218)
Perhatikanlah bagaimana Allah menyebutkan amal-amal besar seperti iman, hijrah, dan jihad sebelum menyebut harapan mereka terhadap rahmat-Nya. Ini menunjukkan bahwa harapan yang dipuji adalah harapan yang dibangun di atas amal.
Para ulama sering memberikan perumpamaan seorang petani. Ia berharap mendapatkan panen yang melimpah, tetapi sebelumnya ia harus mengolah tanah, menanam benih, menyiram tanaman, dan menjaganya dari berbagai gangguan. Setelah itu, barulah ia berharap kepada Allah agar tanaman tersebut tumbuh dengan baik dan menghasilkan panen yang bermanfaat.
BACA JUGA: Maksiat Membuat Semua Urusan Dipersulit
Demikian pula seorang mukmin. Ia melaksanakan shalat, berpuasa, bersedekah, membaca Al-Qur’an, menjauhi maksiat, dan memperbanyak taubat. Setelah itu ia berharap kepada Allah agar menerima amal-amalnya, mengampuni kekurangannya, dan memasukkannya ke dalam surga-Nya.
Maka janganlah kita menjadi orang yang hanya memiliki harapan tanpa amal. Sebab harapan yang benar adalah harapan yang mendorong seseorang untuk semakin taat kepada Allah. Semakin besar harapannya kepada rahmat Allah, semakin besar pula kesungguhannya dalam beribadah. Dengan demikian, ia menggabungkan antara usaha, tawakal, dan husnuzhan kepada Rabb semesta alam. []
Refrensi: Ad-Daa’ wad Dawaa’, Macam-macam Penyakit hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Imam As-Syafi’i, Cetakan ke-10 November 2016 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

