Home NasihatJangan Menunda Kebaikan: At-Taswif, Senjata Halus Iblis

Jangan Menunda Kebaikan: At-Taswif, Senjata Halus Iblis

Umur adalah modal yang terus berkurang, sementara kematian bisa tiba kapan saja. Karena itu, jangan biarkan penyakit taswif merenggut kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah.

by Abu Umar
0 comments 312 views

Berbuat kebaikan adalah salah satu pintu terbesar menuju keridhaan Allah. Bahkan sebelum kebaikan itu terlaksana, niat yang tulus saja sudah dicatat sebagai amal. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits qudsi yang agung:

“Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan kebaikan lalu Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan melakukannya, maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang banyak.” (HR. Bukhari no. 6491, Muslim no. 130)

Betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Niat yang tulus saja sudah bernilai pahala, apalagi bila terlaksana dengan amal nyata. Namun, betapa sering manusia justru terjebak dalam menunda-nunda kebaikan. Kata-kata “nanti saja” atau “besok saja” seolah menjadi penghalang terbesar untuk segera melangkah di jalan ketaatan.

BACA JUGA:  5 Kebaikan bagi Orang yang Berdoa

Penyakit Menunda Kebaikan (At-Taswif)

Dalam istilah para ulama, penyakit ini dikenal sebagai at-taswif, yaitu menunda-nunda melakukan kebaikan. Ia adalah senjata halus yang dipakai Iblis untuk melemahkan manusia. Abu Al-Jald rahimahullah berkata: “Aku mendapati bahwa at-taswif (menunda-munda kebaikan) adalah salah satu dari tentara Iblis, ia telah membinasakan banyak makhluk-makhluk Allah.” (Hilyat Al-Awliya’ wa Thabaqat Al-Ashfiya’, 6/54)

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah pun pernah mengingatkan: “Janganlah engkau menunda amal hari ini untuk esok. Sungguh, jika engkau masih hidup esok hari, maka beramallah untuk esok. Jika engkau mati, maka engkau tidak akan menyesal karena telah menyegerakan amal hari ini.”

Ucapan para ulama salaf ini menunjukkan betapa bahayanya penyakit taswif. Ia menipu manusia dengan harapan panjang, hingga seseorang meninggalkan amal-amal shalih yang mestinya ia tunaikan.

Penyesalan yang Terlambat

Allah ﷻ mengingatkan manusia tentang penyesalan yang datang terlambat, yaitu ketika manusia menyaksikan neraka dengan mata kepala mereka. Allah berfirman:

“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam, pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Dia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.’” (QS. Al-Fajr: 23-24)

Ayat ini menegaskan bahwa kesadaran tanpa amal hanya akan berubah menjadi penyesalan. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali, karena waktu sudah habis.

Menyegerakan Kebaikan

Karena itu, seorang mukmin sejati akan selalu bersegera dalam kebaikan. Allah ﷻ berfirman: “Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menasihati: “Jika engkau mampu untuk tidak menunda-nunda kebaikan, maka lakukanlah. Karena bisa jadi engkau tidak akan sempat mengulanginya lagi.”

BACA JUGA:  Kedengkian: Api yang Membakar Kebaikan

Kebaikan adalah peluang yang tidak selalu datang dua kali. Umur adalah modal yang terus berkurang, sementara kematian bisa tiba kapan saja. Karena itu, jangan biarkan penyakit taswif merenggut kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Penutup

Menunda kebaikan adalah jalan menuju penyesalan. Padahal, Allah telah memuliakan niat hamba dengan pahala bahkan sebelum amal dilakukan. Maka seyogianya seorang muslim senantiasa bersegera dalam amal shalih, menjauhi jebakan taswif, dan meneladani ulama salaf yang selalu menjaga waktunya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang ringan melangkah menuju kebaikan, dan terhindar dari penyesalan di hari akhir.

SUMBER:
Shahih Bukhari no. 6491
Shahih Muslim no. 130
QS. Al-Fajr: 23-24
QS. Ali Imran: 133
Abu Nu’aim, Hilyat Al-Awliya’ wa Thabaqat Al-Ashfiya’, 6/54
Perkataan Hasan Al-Bashri dalam Az-Zuhd karya Imam Ahmad
Perkataan Sufyan Ats-Tsauri dalam Siyar A’lam An-Nubala

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119