Sabarnya Rasulullah
Beliau juga senantiasa memaafkannya meski orang tersebut tidak meminta maaf.
Beliau juga senantiasa memaafkannya meski orang tersebut tidak meminta maaf.
Kemudian Abu Bakar mulai membangun sebuah masjid di halaman rumahnya, beliau shalat dan membaca Al Quran di masjid itu.
Oleh karena itu, beliau menolak untuk menaiki kuda gagah sebagai tanda kemenangan ketika akan memasuki Syam.
Dalam kitab Bidayah Wa An-Nihayah, Ibnu Katsir menjelaskan tentang sandal yang digunakan Rasulullah ﷺ.
Kadang, ia merasa sangat terpukul atau marah dengan kejadian yang menurut Nabi baik, tetapi menurutnya tidak.
Sampai suatu ketika terlontar dari mulutnya kata-kata, “Menurutku Tuhanmu hanya menyeriusi keinginanmu.”
Pernah suatu saat ketika Rasulullah sedang shalat, terdengar suara tangisan bayi seorang ibu yang turut shalat berjamaah.
Umar kemudian berkata, “Angkatlah aku.” Maka seseorang pun segera menyandarkannya.
Oleh karena itu, Maimunah hidup bersama Rasulullah tidak begitu lama, sekitar tiga tahun.
Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, ayahku lebih pantas berjalan menemuimu daripada engkau datang menemuinya.”
Ia tampak sangat gelisah, mondar-mandir dengan mata tetap nyalang memandang ke ufuk jauh.
Nabi pun bertanya kepada sang Ibu, “Wahai Ibunda, bagaimanakah keadaan Alqomah selama ini?”