Pesan dari Ulama Salaf tentang Ramadhan
Ramadhan tidak menunggu kita siap. Ia berjalan terus. Yang cerdas adalah yang memanfaatkannya.
Ramadhan tidak menunggu kita siap. Ia berjalan terus. Yang cerdas adalah yang memanfaatkannya.
Inilah potret Ramadhan yang sebenarnya. Puasa yang melahirkan empati. Ibadah yang melahirkan kepedulian.
Tetapkan target tilawah harian. Luangkan waktu untuk memahami artinya. Renungi pesan-pesannya. Hidupkan malam-malam dengan membaca dan berdoa.
Pada sepuluh hari terakhir, beliau semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah. Malam-malamnya dihidupkan dengan qiyam, doa, dan munajat kepada Allah.
Hukum ini mengajarkan kehati-hatian. Tidak semua perjalanan memberi keringanan. Seorang muslim perlu memahami batas safar dengan benar.
Sebagian ulama berpendapat bahwa keringanan tetap berlaku karena keumuman dalil. Perbedaan pendapat ini menunjukkan keluasan fiqih Islam.
Keringanan ini menunjukkan kasih sayang dalam syariat. Orang sakit tidak dipaksa berpuasa. Yang terpenting adalah tetap menunaikan kewajiban sesuai kemampuan.
Ini adalah wujud kasih sayang dan tanggung jawab anak. Niatkan sebagai amal untuk membantu mereka menunaikan kewajiban syariat.
Bagi yang berpuasa, perbanyaklah doa. Bagi yang bepergian, hidupkan perjalanan dengan dzikir dan permohonan.
Jangan hanya berpuasa secara lahir, tetapi juga hidupkan malam-malamnya dengan ibadah.
Jangan sampai Ramadhan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas dalam kehidupan. Jadikan kebiasaan baik sebagai amalan rutin sepanjang tahun.
Bagi para pekerja di jalan, pahami kondisi diri. Gunakan keringanan jika memang safar.