Rezeki adalah salah satu perkara yang sering membuat manusia merasa khawatir.
Takut tidak punya uang.
Takut kehilangan pekerjaan.
Takut kebutuhan keluarga tidak terpenuhi.
Takut masa depan menjadi sulit.
Kekhawatiran itu terkadang membuat seseorang lupa bahwa rezeki berada di tangan Allah. Manusia diperintahkan untuk berusaha, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam ketetapan-Nya.
Selama Allah masih memberikan kita kehidupan, selama itu pula kita masih memiliki jatah rezeki yang telah Allah tetapkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لو أن ابن آدم هرب من رزقه كما يهرب من الموت لأدركه رزقه كما يدركه الموت
“Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” (As-Silsilah Ash-Shahihah no. 952)
BACA JUGA: Hidup Ini Hanya Menunggu Tiga Tamu: Rezeki, Takdir, dan Kematian
Hadis ini memberikan ketenangan kepada seorang mukmin.
Rezeki kita tidak akan tertukar.
Apa yang telah Allah tetapkan untuk kita tidak akan jatuh kepada orang lain.
Dan apa yang bukan bagian kita tidak akan pernah menjadi milik kita, meskipun kita mengejarnya dengan seluruh kekuatan.
Namun, keyakinan terhadap jaminan rezeki bukan berarti kita boleh bermalas-malasan.
Allah tetap memerintahkan manusia untuk berusaha.
Pergilah bekerja.
Berdaganglah.
Bertanilah.
Carilah pekerjaan yang halal.
Kembangkan kemampuan.
Berikhtiarlah dengan sungguh-sungguh.
Tetapi setelah berusaha, jangan gantungkan hati kepada usaha. Gantungkan hati kepada Allah.
Sebab pekerjaan hanyalah sebab.
Perusahaan hanyalah sebab.
Pelanggan hanyalah sebab.
Gaji hanyalah sebab.
Adapun yang sebenarnya memberikan rezeki adalah Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (Hud: 6)
Ayat ini semestinya membuat hati seorang mukmin lebih tenang.
Lihatlah burung.
Ia keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, kemudian kembali dalam keadaan kenyang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344)
Perhatikan, burung tidak tinggal diam di sarangnya. Ia keluar mencari rezeki.
Inilah hakikat tawakal.
Berusaha dengan anggota badan, tetapi bersandar dengan hati kepada Allah.
Maka, jika hari ini rezeki terasa sempit, jangan berputus asa.
Jika usaha belum berhasil, jangan berhenti berharap.
Jika pekerjaan belum ditemukan, teruslah berikhtiar.
Jika penghasilan belum sesuai harapan, tetaplah bersyukur dan mencari jalan yang halal.
Jangan sampai kekhawatiran terhadap rezeki membuat kita mengambil jalan haram.
Jangan mencuri.
Jangan menipu.
Jangan berbuat curang.
Jangan mengambil riba.
BACA JUGA:
Empat Perkara yang Menghalangi Rezeki
Jangan menghalalkan segala cara hanya karena takut kekurangan.
Rezeki yang halal mungkin terasa sedikit, tetapi di dalamnya ada keberkahan. Sedangkan rezeki yang diperoleh dengan cara haram tidak akan membawa ketenangan.
Saudaraku, yakinlah.
Kita tidak akan mati sebelum seluruh rezeki yang Allah tetapkan untuk kita sampai kepada kita.
Maka, teruslah berusaha.
Perbanyak doa.
Perbanyak istighfar.
Bertawakallah kepada Allah.
Dan jangan biarkan rasa takut kehilangan rezeki membuat kita kehilangan ketaatan kepada Allah.
Rezeki sudah Allah atur. Tugas kita adalah menjemputnya dengan cara yang halal dan hati yang penuh tawakal. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

