Home RenunganOrang yang Berakal Sehat

Orang yang Berakal Sehat

Pesannya sederhana, tetapi sangat dalam: orang yang berakal sehat akan menjalani hidup dengan ketakwaan dan kehati-hatian.

by Abu Umar
0 comments 4 views

Dalam pandangan Islam, akal yang sehat bukan hanya terlihat dari kepandaian seseorang berbicara, banyaknya ilmu yang dikuasai, atau kemampuannya menyelesaikan berbagai persoalan.

Akal yang sehat justru tampak dari bagaimana seseorang bersikap, terutama ketika berhadapan dengan manusia dan ketika berada dalam kesendirian bersama Allah.

Sahabat yang mulia, Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, pernah memberikan nasihat yang sangat dalam. Beliau berkata:

“Maukah aku beritahukan kepada kalian bagaimana cara mengenali orang yang berakal sehat?”

Kemudian beliau menyebutkan beberapa cirinya.

BACA JUGA:  Beruntunglah Orang yang Banyak Beristighfar

Pertama, ia tawadhu kepada orang yang berada di atasnya dan tidak merendahkan orang yang berada di bawahnya.

Orang yang benar-benar berakal memahami bahwa kedudukan dunia bukanlah ukuran kemuliaan di sisi Allah. Karena itu, ia tidak sombong kepada orang yang lebih rendah kedudukannya.

Sebaliknya, ia juga mampu menghormati orang yang lebih tinggi ilmu, usia, atau kedudukannya.

Inilah tawadhu yang lahir dari kesadaran bahwa semua kelebihan pada hakikatnya adalah karunia Allah.

Kedua, ia berpegang teguh pada keutamaan.

Ia tidak mudah terbawa oleh kebiasaan buruk lingkungan. Ia memilih kejujuran ketika kebohongan lebih menguntungkan. Ia memilih kesabaran ketika marah terasa lebih mudah.

Ia berusaha mempertahankan akhlak yang baik, sekalipun tidak selalu mendapatkan penghargaan dari manusia.

Ketiga, ia bergaul dengan manusia sesuai dengan tabiat dan akhlak mereka.

Ini bukan berarti menjadi orang yang tidak punya prinsip. Namun, ia memahami bahwa setiap manusia memiliki karakter yang berbeda.

Ada yang perlu dinasihati dengan kelembutan. Ada yang perlu diberikan ruang. Ada pula yang cukup diperlakukan dengan sikap baik tanpa banyak perdebatan.

Orang berakal tidak menjadikan semua perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan.

Keempat, ia menjaga keimanan batinnya sebagai rahasia antara dirinya dengan Rabb-nya.

Ia tidak sibuk mempertontonkan kesalehan. Ia lebih memperhatikan bagaimana keadaan hatinya ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Ia takut jika penampilan baik di hadapan manusia ternyata tidak sejalan dengan keadaan dirinya di hadapan Allah.

BACA JUGA: Tiga Tanda Orang yang Hasad

Ibnul Jauzi mencantumkan perkataan Abu ad-Darda’ ini dalam Akhbaar al-Adzkiyaa’. Pesannya sederhana, tetapi sangat dalam: orang yang berakal sehat akan menjalani hidup dengan ketakwaan dan kehati-hatian.

Sebab, kecerdasan sejati bukan sekadar mampu mengetahui banyak hal.

Kecerdasan sejati adalah ketika ilmu membuat seseorang semakin rendah hati, semakin baik akhlaknya, semakin menjaga hatinya, dan semakin takut kepada Allah.

Itulah akal yang sehat: akal yang menuntun pemiliknya menuju keselamatan, bukan sekadar kemenangan dalam perdebatan. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119