Wuhaib bin Ward bin Abul Ward adalah seorang ulama salaf dari generasi tabi’ul atba’ yang dikenal luas karena kezuhudan, kelembutan hati, dan nasihat-nasihatnya yang menggugah jiwa. Ia hidup di Mekah dan dikenal bukan hanya sebagai ahli ibadah, tetapi juga sebagai sosok yang banyak mengingatkan manusia tentang pentingnya ikhlas, takut kepada Allah, dan tidak tertipu oleh dunia.
Dalam banyak atsar, Wuhaib bin Ward tampil sebagai figur yang lebih menonjol dalam sisi tazkiyatun nafs dan kelembutan ruhiyah, sehingga perkataannya sering dikutip dalam kitab-kitab tentang zuhud dan raqaiq.
Wuhaib bin Ward wafat pada tahun 153 H, meninggalkan jejak sebagai salah satu tokoh salaf yang ucapannya sarat hikmah dan muhasabah. Ia termasuk ulama yang sangat menekankan bahwa amal tidak cukup hanya banyak, tetapi juga harus bersih dari riya, ujub, dan cinta pujian.
Karena itulah, namanya dikenang di kalangan kaum muslimin sebagai salah satu ulama Mekah yang perkataannya mampu melembutkan hati, menghidupkan rasa takut kepada Allah, dan mendorong seorang hamba untuk lebih bersungguh-sungguh memperbaiki amalnya.
BACA JUGA: Mutiara Nasihat Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib
Berikut beberapa nasihatnya.
وَعَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَزِيدِ بْنِ حُنَيْسٍ قَالَ : قَالَ وُهَيْبٌ : عَجَبًا لِلْعَالِمِ كَيْفَ تُجِيبُهُ دَوَاعِي قَلْبِهِ إِلَى ارْتِيَاحِ الصَّحِكِ وَقَدْ عَلِمَ أَنَّ لَهُ فِي الْقِيَامَةِ رَوْعَاتٍ وَوَقَفَاتٍ وَفَزَعَاتٍ، ثُمَّ غُشِيَ عليه
Dari Muhammad bin Yazid bin Khunais berkata, Wuhaib berkata, “Sungguh mengherankan keadaan orang yang berilmu, bagaimana mungkin kegelisahan dalam hatinya membiarkannya untuk tertawa ria, padahal dia tahu bahwa pada hari kiamat kelak dia akan menghadapi berbagai guncangan, kepanikan, dan ketakutan?” Kemudian beliau pingsan. (11/221).
وَعَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ قَالَ : سَمِعْتُ وَهَيْبَ بْنَ الْوَرْدِ يَقُوْلُ : مَنْ عَدَّ كَلامَهُ مِنْ عَمَلِهِ قُلْ كَلَامُهُ.
Dari Abdurrazzaq berkata, aku mendengar Wuhaib bin Ward berkata, “Barangsiapa yang menganggap perkataannya termasuk bagian dari amalannya niscaya dia akan sedikit bicara.” (11/222).
وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ قَالَ : قِيْلَ لِوُهَيْبِ بْنِ الْوَرْدِ : أَيَجِدُ طَعْمَ الْعِبَادَةِ مَنْ يَعْصِي اللَّهُ ؟ قَالَ : لَا وَلَا مَنْ يَهُمُ بِالْمَعْصِيَّةِ.
Dari Abdullah bin Mubarak berkata, “Dikatakan kepada Wuhaib bin Wardak, “Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah mendapatkan manisnya ibadah?” Beliau menjawab, “Tidak, begitu juga dengan orang yang berkeinginan untuk bermaksiat.” (11/222).
وَعَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ عَنْ وُهَيْبٍ قَالَ : بَلَغَنِي أَنَّ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ : يَا رَبِّ أَخْبِرْنِي عَنْ آيَةِ رِضَاكَ عَنْ عَبْدِكَ فَأَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَيْهِ : إِذَا رَأَيْتَنِي أُهَيِّئُ لَهُ طَاعَتِي وَأَصْرِفُهُ عَنْ مَعْصِيَّتِي فَذَاكَ آيَةُ رِضَايَ عَنْهُ.
Dari Jarir bin Hazim dari Wuhaib berkata, “Telah sampai kepadaku bahwa Musa berkata, ‘Duhai Rabb, beritahukanlah kepadaku tentang pertanda keridhaan-Mu kepada hamba-Mu. Lalu Allah Ta’ala mewahyukan kepada Musa ,Jika kamu melihat Aku mempersiapkannya untuk selalu taat, dan menghindarkannya dari maksiat, itulah pertanda jika Aku ridha kepadanya.” (11/223).
عَنْ وُهَيْبٍ قَالَ : بَلَغَنَا أَنَّ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مَرَّ هُوَ وَرَجُلٌ مِنْ حَوَارِيِّيْهِ بِلِضٌ فِي قَلْعَةٍ لَهُ فَلَمَّا رَآهُمَا اللَّقُ أَلْقَى اللَّهُ فِي قَلْبِهِ التَّوْبَةَ قَالَ فَقَالَ فِي نَفْسِهِ : هَذَا عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ
السَّلَامُ رُوْحُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ وَهَذَا فُلَانٌ حَوَارِيُّهُ وَمَنْ أَنْتَ يَا شَقِي لِقُ بَنِي إِسْرَائِيلَ قَطَعْتَ الطَّرِيقَ وَأَخَذْتَ الْأَمْوَالَ وَسَفَكْتَ الدَّمَاءَ ثُمَّ هَبَطَ إِلَيْهِمَا تَائِبًا نَادِمًا عَلَى مَا كَانَ مِنْهُ، فَلَمَّا لَحِقَهُمَا قَالَ لِنَفْسِهِ : تُرِيدُ أَنْ تَمْشِيَ مَعَهُمَا لَسْتَ لِذَلِكَ بِأَهْلِ إِمْشِ خَلْفَهُمَا كَمَا يَمْشِي الْخَطَاءُ الْمُذْنِبُ مِثْلَكَ، قَالَ فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ الْحَوَارِيُّ فَعَرَفَهُ فَقَالَ فِي نَفْسِهِ : أَنْظُرْ إِلَى هَذَا الْخَبِيْثِ الشَّقِيَ وَمَشْيِهُ وَرَاءَنَا، قَالَ : فَاطَّلَعَ اللَّهُ عَلَى مَا فِي قُلُوبِهِمَا مِنْ نَدَامَتِهِ وَتَوْبَتِهِ وَمِن ازْدِرَاءِ الْحَوَارِي إِيَّاهُ وَتَفْضِيْلِهِ نَفْسَهُ عَلَيْهِ، قَالَ فَأَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ أَنْ مُرِ الْحَوَارِي وَلِضَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يَأْتَنِفَا الْعَمَلَ جَمِيعًا أَمَّا اللَّصُّ فَقَدْ غَفَرْتُ لَهُ مَا قَدْ مَضَى لِنَدَامَتِهِ وَتَوْبَتِهِ وَأَمَّا الْحَوَارِيُّ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ لِعُجْبِهِ بِنَفْسِهِ وَازْدِرَائِهِ هَذَا التَّوَّابِ.
Dari Wuhaib berkata, “Telah sampai kabar kepada kami bahwa Isa bersama seorang hawarinya (pengikut setia) melewati tempat persembunyian seorang pencuri. Ketika pencuri itu melihat mereka berdua, Allah membuka hatinya untuk bertaubat, lalu dia berkata kepada diri sendiri, “Inilah Isa bin Maryam, ruh Allah dan kalimat-Nya, dan ini adalah fulan, salah satu hawarinya, sedangkan kamu, siapa kamu wahai orang yang celaka? Kamu seorang pencuri bani Israil, perampok jalanan, perampas harta dan penumpah darah.” Kemudian dia turun untuk menemui mereka berdua dalam keadaan bertaubat, menyesali apa yang pernah dia lakukan.
BACA JUGA: Mutiara Nasihat Abdullah bin Abdul Aziz Al-Umari
Ketika si pencuri bani Israil itu berhasil menyusul mereka, dia berkata kepada dirinya sendiri, “Kamu ingin berjalan bersama mereka? Kamu tidak pantas. Berjalanlah di belakang mereka sebagaimana berjalannya seorang bersalah yang banyak dosa sepertimu.” Wuhaib melanjutkan, “Lalu hawari yang bersama nabi Isa menoleh dan mengenalinya. Dia berkata dalam hati, “Lihatlah orang yang jahat lagi sengsara ini, dan lihat pula cara dia berjalan di belakang kita.”
Allah menampakkan apa yang terdetik dalam hati keduanya berupa penyesalan dan taubat si pencuri, dan kesombongan si hawari dan anggapannya bahwa dirinya lebih utama.
Lalu Allah mewahyukan kepada Isa bin Maryam, “Perintahkanlah kepada orang hawari dan pencuri bani Israil itu untuk sama-sama memulai amalnya, karena Aku telah mengampuni kesalahan yang dilakukan si pencuri karena taubat dan penyesalannya, dan Aku menghapus amalan si hawari karena ujub dan penghinaannya kepada orang yang bertaubat ini.” (11/223-224).
وَعَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ عَنْ وُهَيْبٍ قَالَ : إِنَّقِ أَنْ نَسُبَ إِبْلِيسَ فِي الْعَلانِيَّةِ وَأَنْتَ صَدِيقُهُ فِي السَّرِّ.
Dari Ibnu Mubarak dari Wuhaib berkata, “Jagalah dirimu dari mencela iblis di tengah keramaian, namun justru menjadi temannya tatkala sendirian.” (11/227). []
Sumber: Ensklopedia Hikmah / Penulis: Ibnul Andil Bari El-“Afifi / Penerbit: Kuttab / Cetakan 1, 2021
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

