Home NasihatMutiara Nasihat Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib

Mutiara Nasihat Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib

(Tabi'in, Madinah, w. 117/118 Η)

by Abu Umar
0 comments 91 views

Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib rahimahullah — yang dikenal dengan Imam Muhammad Al-Baqir — adalah seorang ulama agung dari kalangan Ahlul Bait dan termasuk generasi tabi’in yang mulia. Beliau lahir di Madinah sekitar tahun 57 H dan tumbuh dalam rumah yang dipenuhi ilmu, takwa, dan kehormatan.

Ibunya, Fathimah binti Hasan bin Ali, menjadikan beliau keturunan dari Hasan dan Husain sekaligus, dua cucu Rasulullah ﷺ. Julukan “Al-Baqir” (الباقر) diberikan karena beliau dikenal mampu “membelah” ilmu, menyingkap rahasia dan kedalaman makna syariat dengan pemahaman yang jernih dan mendalam.

Beliau terkenal dengan ketekunan dalam ibadah, keluasan ilmu, dan kesantunan dalam berdakwah. Banyak ulama besar dari kalangan tabi’in dan sesudahnya yang berguru kepadanya, seperti Imam Az-Zuhri dan Jabir bin Yazid. Dalam majelisnya, ilmu fikih, tafsir, dan hadits berkembang pesat di Madinah.

Imam Al-Baqir dikenal sangat zuhud terhadap dunia dan banyak menasihati umat agar meneladani akhlak Rasulullah ﷺ serta berhati-hati dalam berbicara dan beramal. Beliau wafat pada tahun 114 H di Madinah dan dimakamkan di Baqi’ — meninggalkan jejak ilmu dan keteladanan yang tetap harum di kalangan umat hingga hari ini.

Berikut adalah beberapa mutiara nasihat dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib:

BACA JUGA:  Mutiara Nasihat Muhammad bin Ali bin Abi Thalib

Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain

 

وَعَنْ زِيَادِ بْنِ خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي جَعْفَرَ قَالَ : الصَّوَاعِقُ تُصِيبُ الْمُؤْمِنَ وَغَيْرَ الْمُؤْمِنِ وَلَا تُصِيبُ الذَّاكِرَ.

Dari Ziyad bin Khaitsamah dari Abu Ja’far berkata, “Petir itu bisa menyambar orang mukmin dan orang kafir, tetapi tidak bisa menimpa orang yang tengah berdzikir.” (11/108).

وَعَنْ عُمَرَ مَوْلَى غَفْرَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيَّ أَنَّهُ قَالَ : مَا دَخَلَ قَلْبَ امْرِئٍ شَيْءٌ مِنَ الْكِبْرِ إِلَّا نَقَصَ مِنْ عَقْلِهِ مِثْلُ مَا دَخَلَهُ مِنْ ذَلِكَ، قَلَّ أَوْ كَثُرَ.

Dari Umar, budak Ghafrah, dari Muhammad bin Ali berkata, “Tidaklah hati seorang hamba terasuki kesombongan kecuali akalnya akan berkurang sesuai kadar kesombongannya, sedikit atau banyak.” (11/108).

قَالَ : وَاللَّهِ لَمَوْتُ عَالِمٍ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنْ مَوْتِ سَبْعِينَ عابداً.

Muhammad bin Ali kematian pernah berkata, “Demi Allah, sungguh atian satu orang alim itu lebih disukai iblis daripada kematian tujuh puluh ahli ibadah.” (11/109).

وَعَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي الْهَيْثَمِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ قَالَ : مَا اغْرَوْرَقَتْ عَيْنُ بِمَائِهَا إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَ صَاحِبِهَا عَلَى النَّارِ، فَإِنْ سَالَتْ عَلَى الْخَدَّيْنِ لَمْ يَرْهَقُ وَجْهَهُ فَتَرُ وَلَا ذِلَّةٌ، وَمَا مِنْ شَيْءٍ إِلَّا لَهُ جَزَاءً إِلَّا الدَّمْعَةُ فَإِنَّ اللَّهَ يُكَفِّرُ بِهَا بُحُورَ الْخَطَايَا، وَلَوْ أَنَّ بَاكِيًا بَكَى فِي أُمَّةٍ لَخَرَّمَ اللَّهُ تِلْكَ الْأُمَّةَ عَلَى النَّارِ.

Dari Khalid bin Abu Haitsam, dari Muhammad bin Ali bin Husain berkata, “Tidaklah ada mata yang menangis kecuali Allah mengharamkan wajah pemiliknya dari neraka. Jika air mata itu mengalir di atas kedua pipinya, wajahnya tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Semua amalan memiliki balasan kecuali air mata karena Allah menghapuskan lautan dosa dengan air mata tersebut. Seandainya ada orang yang menangis di tengah-tengah sebuah umat, Allah pasti mengharamkan neraka atas umat tersebut.” (11/109).

banner

وَعَنِ الْأَصْمَعِي قَالَ : قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلَيَّ لِابْنِهِ : يَا بُنَيَّ إِيَّاكَ وَالْكَسَلَ وَالشَّجَرَ فَإِنَّهُمَا مِفْتَاحُ كُلَّ شَرَّ إِنَّكَ إِنْ كَسَلْتَ لَمْ تُؤَدِّ حَقًّا وَإِنْ ضَجِرْتَ لَمْ تَصْبِرْ عَلَى حَقٌّ.

Dari Al-Ashma’i berkata, Muhammad bin Ali menasehati anaknya, “Wahai anakku, jauhilah rasa malas dan berkeluh kesah karena keduanya kunci semua kejelekan. Sesungguhnya jika kamu malas, kamu tidak akan menunaikan hak, dan jika kamu berkeluh kesah maka kamu tidak akan bersabar di atas kebenaran.” (11/109).

وَعَنْ خَالِدِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ أَنَّهُ كَانَ إِذَا ضَحِكَ قَالَ: اللَّهُمَّ لَا تَمْقُتُنِي

Dari Khalid bin Dinar dari Abu Ja’far bahwa apabila Muhammad bin Ali tertawa, beliau berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau membenciku.” (11/110).

وَعَنْ أَحْمَدِ بْنِ يَحْيَى قَالَ : قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيَّ : كَانَ لِي أَخُ فِي عَيْنِي عَظِيمٌ، وَكَانَ الَّذِي عَظَمَهُ فِي عَيْنِي صِغَرُ الدُّنْيَا فِي عَيْنِهِ.

Dari Ahmad bin Yahya berkata, Muhammad bin Ali berkata, “Aku memiliki saudara yang menurutku mulia. Satu hal membuatnya mulia di mataku adalah karena dunia itu kecil di pelupuk matanya.” (II/111).

وَعَنْ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيَّ قَالَ : مَا مِنْ عِبَادَةٍ أَفْضَلُ مِنْ عِفَةِ بَطْنٍ أَوْ فَرْجٍ، وَمَا مِنْ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَنْ يُسْأَلَ، وَمَا يَدْفَعُ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَإِنَّ أَسْرَعَ الْخَيْرِ ثَوَابًا الْبِرُّ وَأَسْرَعَ الشَّرَّ عُقُوْبَةُ الْبَغْيِ، وَكَفَى بِالْمَرْءِ عَيْبًا أَنْ يُبْصِرَ مِنَ النَّاسِ مَا يَعْمَى عَلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ،
وَأَنْ يَأْمُرَ النَّاسَ بِمَا لَا يَسْتَطِيعُ التَّحَوُّلَ عَنْهُ، وَأَنْ يُؤْذِيَ جَلِيسَهُ بِمَالَا يَعْنِيهِ.

Dari Abu Hamzah dari Abu Ja’far, Muhammad bin Ali berkata, “Tidak ada ibadah yang lebih utama daripada menjaga perut atau kemaluan. Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah selain meminta kepada-Nya, dan tidak ada yang menolak qadha’ kecuali doa. Sesungguhnya kebaikan yang paling cepat mendatangkan pahala adalah berbuat baik (kepada orang lain), dan kejelekan yang paling cepat mendatangkan balasan adalah kezhaliman. Cukuplah menjadi aib jika seseorang itu selalu mengorek kesalahan-kesalahan orang lain, namun buta terhadap kesalahan-kesalahannya sendiri, dan memerintahkan manusia (untuk meninggalkan sesuatu) namun dia sendiri tidak mampu berpaling darinya, dan mengganggu temannya dengan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (11/111).

BACA JUGA:  Mutiara Nasihat Urwah bin Zubair

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْوَلِيدِ قَالَ : قَالَ لَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَلَى: يَدْخُلُ أَحَدُكُمْ يَدَهُ كِيْسَ صَاحِبِهِ فَيَأْخُذُ مَا يُرِيدُ؟ قَالَ قُلْنَا: لَا ، قَالَ: فَلَسْتُمْ إِخْوَانًا كَمَا تَزْعَمُوْنَ.

Dari Abdullah bin Walid berkata, Abu Ja’far Muhammad bin Ali pernah bertanya kepada kami, “Apakah salah seorang di antara kalian boleh memasukkan tangannya ke dalam kantong saku sahabatnya, lalu dia mengambil sesukanya?” Kami menjawab, “Tidak.” Beliau menjawab, “Berarti kalian bukanlah saudara sebagaimana yang kalian kira.” (II/111-112).

وَعَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ كَثِيرٍ قَالَ : شَكَوْتُ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيَّ الْحَاجَةَ وَجَفَاءَ الْإِخْوَانِ فَقَالَ : بِئْسَ الْأَخُ أَخٌ يَرْعَاكَ غَنِيًّا وَيَقْطَعُكَ فَقِيرًا ثُمَّ أَمَرَ غُلَامَهُ فَأَخْرَجَ كِيْسًا فِيْهِ سَبْعُ مِائَةِ دِرْهَم فَقَالَ : اسْتَنْفِقُ هَذِهِ فَإِذَا نَفَدَتْ فَأَعْلِمْنِي

Dari Aswad bin Katsir berkata, “Aku mengadu kepada Muhammad bin Ali perihal kebutuhanku dan saudara-saudaraku yang berwatak kasar. Maka beliau berkata, “Seburuk-buruk saudara adalah saudara yang menjagamu ketika sedang kaya dan memutuskan hubungan denganmu ketika miskin.” Kemudian beliau memerintahkan anaknya untuk mengeluarkan satu kantong berisi 700 Dirham dan berpesan, “Belanjakanlah uang ini. Jika sudah habis, beritahukan aku.” (II/112). []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119