Home KajianMenghidupkan Sunnah, Pahala Terus Mengalir sampai Umur yang Kedua

Menghidupkan Sunnah, Pahala Terus Mengalir sampai Umur yang Kedua

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidak ada amal yang lebih berat bagi jiwa selain ikhlas dan mengikuti sunnah.” Namun justru dari amal inilah lahir pengaruh besar yang mendatangkan pahala berlipat.

by Abu Umar
0 comments 144 views

Islam adalah agama yang tidak hanya mengajarkan kebaikan, tetapi juga mendorong umatnya untuk menjadi pelopor kebaikan. Salah satu prinsip agung dalam ajaran Islam adalah besarnya pahala bagi orang yang menghidupkan sunnah yang baik dan besarnya dosa bagi orang yang memulai keburukan. Prinsip ini ditegaskan langsung oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis yang masyhur.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang menghidupkan sunnah yang baik dalam Islam, kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya, maka dicatat untuknya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan siapa yang menghidupkan tradisi yang buruk di tengah kaum muslimin, kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang melakukannya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi landasan penting dalam memahami tanggung jawab sosial seorang muslim terhadap amal perbuatannya, baik yang berdampak pribadi maupun yang berpengaruh luas di tengah masyarakat.

BACA JUGA:  Berpegang Teguh pada Sunnah di Zaman Fitnah

Makna “Menghidupkan Sunnah” dalam Islam

Para ulama salaf menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “menghidupkan sunnah yang baik” bukanlah menciptakan ibadah baru yang tidak memiliki landasan dalam syariat. Sunnah yang dimaksud adalah ajaran Rasulullah ﷺ yang telah ada, namun ditinggalkan, dilalaikan, atau kurang diamalkan oleh kaum muslimin, lalu seseorang berusaha menghidupkannya kembali dengan teladan nyata.

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna hadis ini adalah memulai suatu kebaikan yang sesuai dengan kaidah syariat, meskipun bentuknya belum banyak diamalkan orang. Selama amal tersebut memiliki dasar dalam Al-Qur’an, sunnah, atau prinsip umum syariat, maka ia termasuk “sunnah hasanah”.

Dengan demikian, menghidupkan sunnah bisa berupa mengajarkan shalat berjamaah di lingkungan yang mulai meninggalkannya, membiasakan sedekah di saat orang mulai kikir, atau menghidupkan majelis ilmu di tengah masyarakat yang lalai dari ilmu agama.

Pahala Berantai yang Tak Terputus

Keutamaan besar dari menghidupkan sunnah adalah pahala yang terus mengalir. Setiap orang yang meniru dan mengamalkan kebaikan tersebut akan menjadi sebab bertambahnya pahala bagi orang yang pertama kali memulainya. Ini sejalan dengan kaidah yang dijelaskan oleh para sahabat dan tabi‘in bahwa orang yang menunjukkan jalan kebaikan, maka ia seperti pelakunya.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang mengamalkan kebaikan karena ditunjukkan oleh orang lain, lalu orang yang menunjukkan itu mendapatkan pahala mereka semuanya.” Ucapan ini mencerminkan pemahaman mendalam generasi salaf tentang luasnya rahmat Allah dan besarnya balasan bagi orang yang menjadi sebab tersebarnya kebaikan.

Bahaya Memulai Keburukan

Sebaliknya, hadis ini juga menjadi peringatan keras bagi siapa saja yang memulai tradisi buruk di tengah kaum muslimin. Dosa perbuatan tersebut tidak berhenti pada pelakunya saja, tetapi terus bertambah selama keburukan itu diikuti oleh orang lain.

Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang menjadi sebab tersebarnya maksiat atau penyimpangan, meskipun ia tidak ikut melakukan setiap kali, tetap memikul dosa karena dialah pintu awalnya dibuka. Inilah mengapa para ulama salaf sangat berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan mereka, khawatir menjadi contoh buruk bagi generasi setelahnya.

Tanggung Jawab Dakwah dan Keteladanan

Hadis ini menanamkan kesadaran bahwa setiap muslim adalah da’i dengan perbuatannya. Keteladanan sering kali lebih kuat daripada nasihat lisan. Ketika seseorang istiqamah di atas sunnah, orang-orang di sekitarnya akan terdorong untuk meniru, dan dari situlah pahala besar mengalir.

BACA JUGA:  Shalat Sunnah di Rumah: JalanMenjaga Keikhlasan

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata, “Tidak ada amal yang lebih berat bagi jiwa selain ikhlas dan mengikuti sunnah.” Namun justru dari amal inilah lahir pengaruh besar yang mendatangkan pahala berlipat.

Penutup

Hadis tentang menghidupkan sunnah yang baik dan tradisi yang buruk adalah cermin keadilan dan keluasan rahmat Allah. Ia mendorong kaum muslimin untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan berhati-hati agar tidak menjadi sebab tersebarnya keburukan. Setiap langkah, sekecil apa pun, bisa menjadi awal pahala yang mengalir tanpa henti atau dosa yang terus membebani.

Karena itu, marilah kita bertanya pada diri sendiri: kebaikan apa yang telah kita hidupkan, dan teladan apa yang telah kita tinggalkan bagi orang-orang setelah kita? Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ dan mendapatkan pahala yang terus mengalir hingga Hari Kiamat. Wallahu a‘lam. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119