Home KajianBantahan Tidak Bertentangan dengan Ukhuwah

Bantahan Tidak Bertentangan dengan Ukhuwah

(Dalam Masalah Khilaf yang Masih Ditoleransi)

by Abu Umar
0 comments 75 views

Pendahuluan

Para salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in dahulu pernah berbeda pendapat dalam sejumlah persoalan ilmiah, bahkan dalam sebagian masalah keyakinan. Namun demikian, persatuan, ukhuwah, dan kasih sayang di antara mereka tetap terjaga.

Mereka tetap menjadi orang-orang yang saling mencintai, saling menasihati, dan tetap tegak di atas persaudaraan Islam.

Perbedaan Pendapat adalah Sesuatu yang Pasti Terjadi

Perbedaan adalah sesuatu yang niscaya terjadi dalam kehidupan manusia.

Hal ini karena Allah dengan hikmah-Nya telah menciptakan manusia dalam keadaan beragam dan bertingkat-tingkat:

berbeda rupa dan bentuk,
berbeda suara dan karakter,
berbeda tingkat kecerdasan,
berbeda akal, semangat, keberanian, dan kesabaran,
serta berbagai perbedaan lainnya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Semua perbedaan ini tentu akan melahirkan perbedaan pula dalam:

cara memandang sesuatu,
cara berpikir,
cara memahami,
dan cara memberikan penilaian terhadap berbagai perkara.

Sebagaimana perbedaan itu berpengaruh dalam urusan dunia, maka demikian pula ia berpengaruh dalam masalah-masalah syariat.

Dan ini adalah perkara yang sangat jelas, tidak perlu banyak dalil untuk membuktikannya, karena tidak ada seorang pun yang mengingkarinya.

BACA JUGA: Debat, Melenyapkan Keberkahan Ilmu

Bantahan Tidak Bertentangan dengan Keharmonisan

Allah Ta’ala telah memberikan nikmat yang besar kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dengan mempersatukan hati mereka.

Allah berfirman:

“Dan Allah telah mempersatukan hati mereka. Seandainya engkau menginfakkan semua kekayaan yang ada di bumi, niscaya engkau tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (QS. Al-Anfal: 63)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman:

“Dan ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika dahulu kalian bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian, sehingga dengan nikmat-Nya kalian menjadi bersaudara.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa:

menyatukan hati kaum mukminin,
menjaga keharmonisan di antara mereka,
menyatukan barisan,
dan memperbaiki hubungan sesama muslim,

merupakan tujuan syariat yang sangat agung dan tuntutan agama yang sangat besar.

Inilah salah satu pokok besar dalam agama.

Orang-orang yang menjaga prinsip ini adalah Ahlul Jama’ah, sedangkan orang-orang yang keluar darinya adalah Ahlul Furqah (orang-orang yang suka memecah belah).

Perbedaan Bisa Mengganggu Hubungan, Tapi Tidak Harus Menghancurkannya

Memang tidak dipungkiri bahwa perbedaan pendapat kadang bisa berpengaruh terhadap keakraban dan kasih sayang.

Apalagi jika perbedaan itu disertai dengan:

bantahan,
sanggahan,
diskusi keras,
atau perdebatan ilmiah.

Hal ini kadang dapat memunculkan:

rasa canggung,
jarak hati,
bahkan penolakan dan kejengkelan.

Namun, bila seseorang ikhlas karena Allah dan membersihkan dirinya dari kepentingan hawa nafsu, maka perbedaan pendapat tidak akan merusak persaudaraan.

Jika masing-masing pihak benar-benar bertujuan untuk mencari kebenaran, maka:

perbedaan,
bantahan,
dialog,
bahkan perdebatan ilmiah,

tidak boleh menjadi alasan untuk memutus tali kasih sayang di antara kaum mukminin.

Ia juga tidak boleh menjadi sebab munculnya:

saling membenci,
saling menjauh,
atau saling membelakangi.

Sebagaimana dikatakan:

“Dalam bantahan, yang terusik adalah akal, bukan hati.”

Artinya, yang sedang diuji adalah cara berpikir dan argumentasi, bukan berarti hati harus dipenuhi kebencian.

Loyalitas dan Bara’ Bukan Dibangun di Atas Sekadar Perbedaan

Ahlus Sunnah menetapkan bahwa dasar al-wala’ wal-bara’ (loyalitas dan sikap berlepas diri) adalah:

iman,
ittiba’ kepada sunnah,
dan amal saleh,

bukan semata-mata karena seseorang berbeda pendapat, atau karena adanya bantahan dan diskusi ilmiah.

Oleh sebab itu, tidak setiap orang yang dibantah lalu otomatis harus:

dimusuhi,
dijauhi,
diputus ukhuwahnya,
atau dianggap keluar dari jalan kebenaran.
Salaf Berbeda Pendapat, Tapi Tetap Bersaudara

Para salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in dahulu pernah berbeda pendapat dalam sejumlah persoalan ilmiah, bahkan pada sebagian persoalan i’tiqad (keyakinan), namun tetap menjaga persatuan dan ukhuwah.

Mereka saling berdiskusi dan berdebat dalam suatu masalah dengan semangat:

musyawarah,
nasihat,
dan mencari kebenaran.

Terkadang mereka berbeda pandangan dalam masalah:

ilmiah,
maupun amaliah (praktik keagamaan),

namun semua itu tidak merusak persatuan, kehormatan, dan persaudaraan agama di antara mereka.

Mereka tetap hidup dalam suasana:

saling mencintai,
saling menghormati,
saling menasihati,
dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.

Kisah-kisah mereka dalam hal ini sangat banyak dan masyhur.

Namun Tidak Semua Perbedaan Ditoleransi

Tentu perlu dipahami, bahwa tidak semua bentuk penyelisihan bisa ditoleransi.

Adapun orang yang menyelisihi:

Al-Qur’an yang jelas,
Sunnah Nabi yang shahih dan tersebar luas,
atau ijma’ (kesepakatan) salaf umat ini,

dengan bentuk penyelisihan yang tidak ada udzur syar’i padanya, maka orang seperti ini diperlakukan sebagaimana Ahlul Bid’ah diperlakukan.

Jadi, pembahasan ini berlaku dalam khilaf yang mu’tabar (masih bisa ditoleransi), bukan dalam penyimpangan yang jelas dan nyata.

Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata dalam pembahasan tentang masalah apakah orang-orang kafir akan melihat Allah di padang mahsyar pada hari kiamat:

“Masalah ini—sepanjang yang aku ketahui—bukanlah termasuk masalah yang mengharuskan saling menjauhi dan saling memutus hubungan. Karena orang-orang yang membicarakannya sebelum kita, kebanyakan mereka adalah Ahlus Sunnah dan pengikut kebenaran. Dan mereka telah berbeda pendapat dalam masalah ini, namun mereka tidak saling memboikot dan tidak saling memutus hubungan.”

Ucapan ini menunjukkan bahwa tidak semua perbedaan harus berujung pada permusuhan.

Contoh Indah dari Ulama Salaf

1. Kisah Imam Asy-Syafi’i

Yunus Ash-Shadafi رحمه الله berkata:

“Aku tidak pernah melihat orang yang lebih berakal daripada Asy-Syafi’i. Suatu hari aku berdebat dengannya dalam suatu masalah, lalu kami berpisah. Kemudian beliau menemuiku, memegang tanganku, lalu berkata:
‘Wahai Abu Musa, tidakkah pantas kita tetap menjadi saudara, meskipun kita tidak sepakat dalam satu masalah?’”

Lihatlah adab yang agung ini.

Berbeda pendapat, tapi tidak kehilangan persaudaraan.
Berdebat, tapi tidak kehilangan kasih sayang.

2. Kisah Imam Ahmad dan Ali bin Al-Madini

Diriwayatkan dari Al-‘Abbas bin ‘Abdul ‘Azhim Al-‘Anbari, beliau berkata:

“Aku pernah berada di sisi Imam Ahmad bin Hanbal, lalu datanglah Ali bin Al-Madini dengan menunggang kendaraan. Kemudian keduanya berdiskusi tentang masalah persaksian, dan suara mereka sampai meninggi. Aku sampai khawatir akan terjadi ketegangan di antara keduanya.
Imam Ahmad berpendapat menetapkan persaksian tersebut, sedangkan Ali menolaknya.
Namun ketika Ali hendak pulang, Imam Ahmad berdiri dan memegang tali kekang tunggangannya.”

MasyaAllah…

Mereka bisa berdebat dengan keras dalam ilmu, namun tetap menjaga adab dan penghormatan.

3. Ucapan Imam Ahmad tentang Ishaq bin Rahuyah

Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata tentang Ishaq bin Rahuyah:

“Tidak ada yang menyeberangi jembatan menuju Khurasan yang sebanding dengan Ishaq. Meskipun ia berbeda pendapat dengan kami dalam beberapa hal, manusia memang sejak dahulu senantiasa berbeda satu sama lain.”

Ini menunjukkan keluasan ilmu dan kelapangan dada para imam Ahlus Sunnah.

Pelajaran Penting dari Tulisan Ini

Dari pembahasan ini, kita bisa mengambil beberapa pelajaran besar:

1. Tidak semua perbedaan adalah permusuhan

Selama perbedaan itu berada dalam ranah khilaf yang mu’tabar, maka ia tidak boleh dijadikan alasan untuk saling membenci.

2. Bantahan ilmiah bukan berarti kebencian pribadi

Membantah pendapat tidak selalu berarti menjatuhkan kehormatan orangnya.

BACA JUGA: 5 Hak yang Mengikat Hati Sesama Muslim

3. Ikhlas adalah kuncinya

Jika tujuan kita benar-benar untuk mencari kebenaran, maka bantahan akan tetap berada dalam koridor ilmu dan adab.

4. Ukhuwah harus tetap dijaga

Selama saudara kita masih berada di atas Islam dan Sunnah, maka ukhuwah tidak boleh mudah diputus hanya karena perbedaan pandangan.

5. Adab salaf harus diteladani

Salafush shalih mengajarkan kepada kita bahwa tegas dalam kebenaran bisa berjalan beriringan dengan lembut dalam persaudaraan.

Penutup

Betapa banyak kerusakan hari ini muncul bukan semata karena adanya perbedaan, tetapi karena hilangnya adab dalam menyikapi perbedaan.

Padahal para ulama salaf telah memberi contoh yang sangat indah:

mereka berbeda, tapi tidak bermusuhan,
mereka membantah, tapi tidak memutus ukhuwah,
mereka berdiskusi keras, tapi hati mereka tetap bersih.

Maka hendaknya kita belajar untuk:

mencintai kebenaran,
membela sunnah,
menjelaskan kesalahan,
namun tetap menjaga adab, keikhlasan, dan persaudaraan Islam.

Karena tidak semua yang dibantah harus dimusuhi, dan tidak semua yang berbeda harus dijauhi. ‘[]

Sumber: Fiqih Membantah Orang yang Menyelisihi | Sumber: ar.islamway.net

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119