Home Baiti JannatiVisi dan Misi Pernikahan

Visi dan Misi Pernikahan

Ada kisah menarik yang mungkin bisa kita ambil hikmahnya Kisah tersebut dialami oleh salah satu ulama terkemuka, Ibnu Mubarak.

by Abu Umar
0 comments 163 views

Ayah dan Bunda, Allah telah menciptakan dorongan biologis dalam diri kita. Manusia biasa pasti tidak sanggup untuk mengekang dorongan tersebut. Solusinya pun hanya satu, yakni menikah.

Nah, setelah dorongan tadi terpenuhi dan terkendalikan, kita akan sadar bahwa dorongan tersebut hanyalah perantara yang Allah ciptakan agar manusia mempunyai keturunan, Jika tidak ada dorongan tersebut, pasti banyak di antara kita yang akan menghindari pernikahan Sebab, diakui atau tidak, kita pasti merasakan bahwa pernikahan mengandung konsekuensi dan tanggung jawab yang besar.

Jadi, bisa kita katakan bahwa tujuan utama pernikahan adalah untuk kelangsungan hidup manusia. Dengan bahasa yang islami, tujuannya adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana yang telah Allah firmankan. Kita dan generasi penerus kita akan merawat bumi ini dengan amalan-amalan saleh yang jauh dari kesyirikan dan kemaksiatan.

BACA JUGA:  Pernikahan Khadijah dan Nabi

Bahkan, saking pentingnya tujuan tersebut, orang-orang non-Islam sekarang ini gencar dalam mempropagandakan program pembatasan keturunan (KB) Padahal pada saat yang sama, mereka memotivasi kelompoknya untuk mempunyai banyak anak.

Kalau kita mau lebih jell, tujuannya adalah agar jumlah mereka bertambah dan jumlah kaum muslimin berkurang. Oleh karena itulah, Rasulullah menganjur-kan kita untuk mempunyai banyak keturunan demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

“Suatu hari, ada laki-laki menemui Rasulullah Kemudian ia berkata ‘Aku bertemu wanita yang baik dan cantik, tapi ia tidak bisa mempunyai anak. Apakah aku layak menikahinya?’ Rasulullah menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian, ia menemui Rasulullah untuk kedua kalinya dan beliau masih melarangnya. la pun menemui Rasulullah untuk ketiga kalinya lalu beliau bersabda, ‘Nikahilah wanita yang penyayang dan dapat melahirkan banyak anak. Sebab, aku akan membanggakan jumlah kalian nanti di hadapan umat-umat lain.” (HR. Abu Daud)

“Jika manusia mati, terputuslah amalnya kecuali tiga hal sedekah yang kebaikannya selalu mengalir, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang senantiasa mendoakannya” (HR. Muslim)

“Jangan sampal di antara kalian ada yang tidak berusaha mempunyai anak lika seorang laki-laki meninggal dan tidak mempunyai anak namanya akan terputus” (HR. Thabrani)

Akan tetapi, kita perlu ingat bahwa keutamaan memiliki anak tidak didapat dengan melahirkan saja Sebab melahirkan adalah naluri yang tidak hanya dimiliki oleh manusia, tetapi juga dimiliki oleh hewan. Keutamaan memiliki anak akan didapat ketika kita mendidik buah hati dengan cara islami. Nantinya, anak-anak kita diharapkan akan menjadi hamba-hamba Allah yang saleh

Pendidikan Islami tersebut dimulai sejak fase pencarian pasangan yang balk agamanya. Kemudian, berlanjut hingga pascapernikahan sampal anak kita lulus kuliah atau sampai umur mereka 25 tahun

Ayah dan Bunda, menafkahi dan mendidik buah hati adalah amalan yang mulla. Perjuangan dan pengorbanan tersebut tidak mungkin bisa dibalas dengan apapun dan oleh siapapun kecuali pahala dari Allah Dengan amalan tersebut, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita dan bahkan meninggikan derajat kita di sisi-Nya

“Jika seorang muslim menafkahi keluarganya dan mengharap pahala dari Allah, la akan mendapatkan pahala sedekah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada kisah menarik yang mungkin bisa kita ambil hikmahnya Kisah tersebut dialami oleh salah satu ulama terkemuka, Ibnu Mubarak.

Suatu hari, Ibnu Mubarak sedang berada dalam perjalanan jihad bersama para sahabatnya. Beliau berkata, “Apakah kalian tahu amalan apa yang lebih baik daripada amalan yang sedang kita lakukan ini?”

BACA JUGA:  Pernikahan Itu Setengah dari Agama?

“Kami tidak tahu,” jawab mereka.

Ibnu Mubarak berkata lagi, “Aku tahu”

“Amalan apakah itu?” tanya mereka.

Ibnu Mubarak menjawab, “Seorang laki-laki mulla (menjaga diri dari perbuatan dosa, mencari nafkah yang halal, yang memiliki anak. la bangun pada malam hari dan melihat anak-anaknya sedang tidur tanpa selimut. Kemudian, la menyelimuti mereka dengan kain yang ia miliki, Itulah amalan yang lebih baik daripada amalan kita saat ini.” []

Sumber: Rumahku Madrasah Pertamaku / Penulis: Dr. Khalid Ahmad Syantut / Penerbit: Maskana Media / Cetakan Kedua, Januai 2009

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119