Nafisah bergegas pergi untuk menyampaikan kabar gembira kepada Khadijah. Beliau sendiri mengutarakan niat untuk menikahi Khadijah kepada para paman beliau.
Abu Thalib. Hamzah, dan lainnya kemudian pergi menemui paman Khadijah, Amr bin Asad, untuk meminang keponakannya sambil membawa mahar.
Pada pertemuan ini, Abu Thalib menyampaikan pinangan. Abul Abbas Al-Mubarrid is dan lainnya menuturkan bahwa Abu Bakar menyampaikan khotbah penyerahan. Ia mengatakan:
BACA JUGA: Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah dan Khadijah: Kepada Siapa Kalian Bersujud?
“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita sebagai keturunan Ibrahim. Isma’il, Ma’ad, dan Mudhar. Yang telah menjadikan kitab pengurus rumah-Nya, pemimpin tanah suci-Nya, menjadikan untuk kita sebuah rumah yang dijaga, tanah suci yang aman, dan menjadikan kita sebagai para penguasa manusia.
“Selanjutnya, keponakan saya ini. Muhammad bin Abdullah, jika dibandingkan dengan lelaki mana pun, pasti lebih unggul dari sisi kebaikan, keutamaan, kemuliaan, akal, keluhuran dan keagungan.
Meski ia kurang dalam hal harta benda. Harta adalah bayangan yang pasti akan lenyap, sesuatu yang pasti berlalu, dan barang pinjaman yang pasti akan diminta kembali. Muhammad sendiri sudah kalian ketahui kerabatnya. Ia meminang Khadijah binti Khuwailid dan menyerahkan (mahar) sebanyak dua puluh ekor unta milik saya untuknya-riwayat lain menyebut; ia menyerahkan mahar sebanyak dua belas setengah uqiyah untuknya.” Abu Thalib berkata, “Demi Allah, setelah itu ia-Rasulullah -punya berita besar dan kepentingan agung. Maka nikahkan dia dengan (Khadijah).””
Setelah akad selesai, hewan-hewan kurban disembelih lalu dibagi-bagikan kepada orang-orang fakir. Walimah juga diadakan di rumah Khadijah untuk para keluarga dan kerabat.
BACA JUGA: 4 Pelajaran dari Khadijah, Istri Pertama Nabi
Ath-Thahirah, Khadijah kala itu berusia empat puluh tahun, usia keibuan yang sudah matang. Sementara Muhammad berusia dua puluh lima tahun, usia kematangan seorang pemuda.
Dalam pernikahan yang diberkahi ini, Ath-Thahirah Khadijah menjadi seorang istri yang setia dalam cinta, sekaligus seorang ibu penuh kasih sayang dan baik. []
Sumber : Khadijah Binti Khuwailid (Kebijaksanaan dan Kekuatan Akal Khadijah )/Karya : Syaikh Muhmud Al-Mishri/Penerbit : Ummul Qura/Cetakan : III.Agustus 2016 M / Dzulqo’dah 1437 H
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

