Home KajianTalbis Iblis agar Meninggalkan Amalan Sunnah

Talbis Iblis agar Meninggalkan Amalan Sunnah

Talbis Iblis juga berlaku kepada ahli ibadah yang jahil. Sehingga mereka berkeyakinan bahwa ibadah hanya berdiri dan duduk.

by Abu Umar
0 comments 145 views

Iblis melancarkan tipu dayanya kepada sebagian mukmin, sehingga mereka pun meninggalkan banyak amalan sunnah karena keliru dalam memahami hakikatnya:

Di antara mereka itu ada yang tidak mementingkan berada di shaf pertama dengan dalih: “Maksudnya adalah kedekatan hati.” Ada pula yang tidak mau meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri-yakni bersedekap-ketika shalat dengan dalih: “Aku tidak suka menampakkan kekhusyuan yang tak aku rasakan dalam hatiku.”

Kami mendapatkan riwayat mengenai dua perbuatan di atas dari beberapa ulama besar yang shalih, yang demikian itu terjadi lantaran sedikitnya ilmu.

Disebutkan dalam kitab ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda:

(( لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا لَهُمْ فِي النِّدَاءِ وَالصَّفَ الْأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوْا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ، لَاسْتَهَمُوا . ))

Maksudnya, ketika amalan sunnah bertepatan waktunya dengan amalan wajib, bukan meninggalkan sunnah secara mutlak.

“Seandainya manusia mengetahui keutamaan yang akan didapatkan karena memenuhi panggilan adzan dan berada di shaf yang pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan cara kecuali dengan melakukan undian, maka niscaya mereka akan berundi.”

BACA JUGA: Talbis Iblis atas Ahli Ibadah dalam Perkara Thaharah

Adapun pada riwayat Muslim, juga dari Abu Hurairah, disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

(( خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا ؟ ))

“Sebaik-baik shaf laki-laki itu adalah yang paling depan, dan seburuk-buruknya adalah yang paling belakang.”

Sesungguhnya, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri atau bersedekap itu merupakan sunnah Nabi, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, bahwa Ibnu Zubair mengatakan: “Meletakkan tangan di atas tangan itu termasuk sunnah.””

Suatu ketika Abdullah bin Mas’ud shalat dengan meletakkan tangan kiri di atas tangan kanan, lantas Rasulullah melihatnya, maka beliau pun lalu mengubah posisinya dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.”

Ibnul Jauzi menegaskan; jangan Anda mengira kami berlebihan atas pengingkaran terhadap orang yang berkata: “Maksudnya adalah kedekatan hati,” dan nukilan: “Aku tidak meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri,” meski yang mengatakannya seorang ulama besar. Karena syariat Islamlah yang mengingkari perkataan-perkataan tersebut, bukan kami!

Pernah ada seseorang yang mengadu kepada Ahmad bin Hanbal: “Ibnul Mubarak berkata begini dan begitu.” Imam Ahmad menanggapi: “Ketahuilah, Ibnul Mubarak tidak menerima wahyu dari langit.”

Dalam riwayat yang lainnya; terdapat seseorang yang mengatakan padanya: “Ibrahim bin Adham pernah mengatakan demikian.” Maka Imam Ahmad menanggapinya: “Apakah kalian datang kemari serta mengadukan hal tadi padaku sesudah kalian melewati cabang-cabang jalan? Lewatilah jalan utama.”

Maka dari itu, syariat tidak boleh ditinggalkan karena perkataan seseorang yang diagungkan atau kita hormati. Sebab bagaimanapun juga syariat Islam lebih agung daripada dia. Kesalahan manusia dalam penafsiran wajar terjadi, karena mungkin ada hadits-hadits yang belum diketahuinya.”

Iblis juga menyebarkan talbis kepada sebagian orang muslim yang shalat terkait dengan makharijul huruf-nya (kaidah membaca al-Quran al-Karim). Akibat nyata yang tampak yaitu Anda melihatnya mengucap: Al-Hamdu… Al-Hamdu…. Terus-menerus begitu, maka ia telah keluar dari aturan atau tata cara shalat yang sah sesuai dengan syariat. Sebab, dia mengulang-ulang kata al-hamdu tersebut.

Kadang-kadang Iblis melancarkan talbis serupa dalam memastikan harakat tasydid-huruf yang dibaca ganda.

Terkadang juga dalam mengucapkan huruf dhad pada kata: الْمَغْضُوب Aku pernah menyaksikan seseorang yang mengucapkan kata tersebut sampai mengeluarkan ludah lantaran terlalu keras mengeja huruf dhad. Padahal cukuplah baginya memastikan keakuratan dalam pengucapan huruf dhad ini.

Demikian pula, dengan menjadikan orang berlebihan di dalam mengucapkan suatu huruf, maka Iblis pun mengeluarkan mereka dari batas-batas keakuratan pengucapan yang jauh dari kaidah-kaidah tajwid (makharijul huruf), bahkan ia menyibukkan mereka dari memahami makna bacaan tersebut.

Ini merupakan pembelaan Ibnul Jauzi bagi orang yang beliau nyatakan tersalah.

Sebenarnya menyalahkan seseorang tidak berkonsekuensi bahwa orang itu telah berdosa. sebagaimana sering disalahpahami banyak orang. Maka renungkanlah! Silakan lihat mukadimah kitab saya yang berjudul Taufiqul Barı fi Hukmish Shalab Bainas Sawari, terbitan Dar Ibnul Qayyim-Dammam. Dinukilkan dalam riwayat Muslim dari hadits riwayat Utsman bin Abil Ash, bahwa dia berkata:

قُلْتُ لِرَسُولِ اللهِ صَل لَهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي يُلَبِّسُهَا عَلَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَ : (( ذَاكَ الشَّيْطَانُ يُقَالُ لَهُ خِنْزَبُ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ ثَلَاثًا، وَاتَّقِلْ عَلَى يَسَارِكَ. فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللهُ عَنِّي ))

“Aku berkata kepada Rasulullah: ‘Sungguh syaitan menghalangiku dari shalatku dan mengacaukan bacaanku. Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Itu adalah syaitan yang bernama Khinzab. Apabila kamu merasakan (godaan)nya, maka mohon perlindungan kepada Allah dari gangguannya sebanyak tiga kali, dan meludahlah ke sebelah kirimu.” Utsman bertutur: “Maka aku melaksanakan perintah Nabi, sehingga Allah menghilangkan gangguan syaitan dariku.”

Talbis Iblis juga berlaku kepada ahli ibadah yang jahil. Sehingga mereka berkeyakinan bahwa ibadah hanya berdiri dan duduk. Mereka sungguh-sungguh dalam melakukannya. namun mereka meninggalkan sebagian kewajiban selainnya tanpa mereka sadari.

BACA JUGA:  

banner

Talbis Iblis yang Samar

Aku pernah memperhatikan jamaah shalat yang segera mengucapkan salam seusai imam memberi salam, padahal mereka masih diwajibkan membaca sedikit lafazh dari bacaan tasyahudnya, dan bacaan ini tidak ditanggung oleh imam.

Di antara mereka ada pula yang telah tertipu oleh talbis Iblis sampai memperpanjang shalat dan memperbanyak bacaan, namun mereka meninggalkan apa-apa yang disunnahkan dalam shalat dan melakukan apa-apa yang dimakruhkan.

Aku pernah menemui seorang ahli ibadah yang shalat sunnah pada siang hari dengan cara mengeraskan bacaannya. Aku berkata padanya:

“Mengeraskan bacaan pada shalat siang itu makruh.” Dia berkilah: “Aku sedang mengusir rasa kantuk dengan membaca lantang.” Maka aku katakan: “Sesungguhnya yang sunnah itu tidak boleh ditinggalkan karena kamu bergadang. Jika kamu mengantuk, tidurlah! Ingat, dirimu juga punya hak yang harus dipenuhi.” []

Sumber: Al-Muntaqa An-Nafis min Talbîs Iblîs (Talbis Iblis – Tipu Daya dan Perangkap Iblis ddalam Upaya Menjerumuskan Manusia Ke Jurang Kehancuran / Penulis: Ibnul Jauzi / Penerbit: : Dar Ibnul Jauzi Riyadh KSA / Cet. I 1429 Η / Pustaka Imam Syafi’i / Cetakan Keenam Jumadil Ula 1442 H / Desember 2020 M

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119