Saudaraku,
Setiap amal yang kita kerjakan bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, tetapi menjadi tangga yang membawa kita semakin dekat kepada Allah. Salah satu tanda bahwa amal kita diterima adalah hati yang semakin rindu pada kebaikan, dan langkah yang semakin ringan untuk menapaki jalan ketaatan. Amal yang diterima akan menjadi pintu bagi amal berikutnya, bagaikan mata air yang terus mengalir tanpa henti.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata: “Sesungguhnya di antara balasan amalan kebaikan ialah melaksanakan kebaikan setelahnya. Dan di antara hukuman atas perbuatan buruk ialah melakukan keburukan setelahnya. Maka, apabila Allah telah menerima (amalan) seorang hamba, niscaya Allah akan memberinya taufik untuk melaksanakan ketaatan, dan memalingkannya dari perbuatan maksiat.”
Inilah sunnatullah dalam kehidupan seorang mukmin. Kebaikan akan melahirkan kebaikan lain, sebagaimana dosa akan menyeret kepada dosa yang lain. Saudaraku, janganlah merasa cukup hanya karena telah mengerjakan satu amal. Amal yang diterima akan mendorong kita untuk terus berbuat, bukan berhenti di tengah jalan.
BACA JUGA: Saudaraku, Agar Hidup Kita Selamat, Bertakwalah
Beliau juga berkata: “Wahai anak Adam, jika engkau tidak dalam keadaan bertambah (kebaikanmu), maka engkau akan berada dalam keadaan berkurang.”
Kalimat ini mengandung peringatan yang sangat dalam. Seorang mukmin ibarat seorang petani yang mengelola ladangnya. Jika ladang itu disiram, dipupuk, dan dirawat dengan baik, ia akan subur dan menghasilkan buah yang banyak. Namun jika dibiarkan, ia akan gersang dan tidak menghasilkan apa-apa. Begitu pula hati kita, Saudaraku. Jika ia terus diberi siraman ketaatan dan dzikir, ia akan melahirkan ibadah yang indah, akhlak yang mulia, dan muamalah yang baik. Sebaliknya, jika hati dibiarkan, lalai dari ketaatan, ia akan mengeras dan jauh dari rahmat Allah.
Ulama salaf sering mengingatkan bahwa istiqamah adalah tanda diterimanya amal. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Amalan itu diterima jika disertai ikhlas dan sesuai sunnah.”
Ikhlas membuat amal kita murni karena Allah, dan mengikuti sunnah membuat amal kita benar. Dua syarat ini menjadi fondasi agar amal yang kita kerjakan bukan sekadar lelah di dunia, tetapi juga menjadi cahaya di akhirat.
Saudaraku,
Marilah kita bercermin. Apakah setelah shalat kita menjadi lebih semangat untuk shalat berikutnya? Apakah setelah sedekah hati kita semakin ringan memberi? Atau justru sebaliknya, setelah beramal kita menjadi lalai dan merasa cukup? Jika yang terjadi adalah yang pertama, maka itu kabar gembira bahwa Allah memberi taufik untuk melanjutkan kebaikan. Namun jika yang kedua, itu tanda bahwa kita perlu memperbaiki niat, memperbanyak istighfar, dan memohon agar Allah menerima amal kita.
BACA JUGA: Saudaraku, Jangan Biarkan Waktumu Hilang Sia-Sia
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)
Maka, janganlah kita hanya berfokus pada banyaknya amal, tetapi perhatikan pula kualitasnya. Terimalah peringatan para ulama salaf, bahwa amal yang diterima akan melahirkan amal berikutnya, sedangkan amal yang tertolak akan memadamkan semangat kebaikan.
Saudaraku, mari kita rawat ladang hati kita dengan siraman ketaatan setiap hari. Jangan biarkan ia kering. Semoga Allah menerima amal kita, memberi taufik untuk terus istiqamah, dan menjauhkan kita dari segala keburukan. []
Sumber:
Hasan Al-Bashri, Al-Hilyah (Abu Nu’aim, 2/148)
Al-Fudhail bin ‘Iyadh, Jami’ al-‘Ulum wal-Hikam
Al-Qur’an, QS. Al-Ma’idah: 27
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

