Saudaraku,
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran: 102)
Betapa dalam dan menggugah seruan ini. Allah memerintahkan kita untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa—bukan sekadar tampak di permukaan, bukan sekadar ungkapan di bibir, tetapi takwa yang meresap hingga ke relung hati, yang menuntun setiap langkah kita agar tetap di jalan-Nya.
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata,
“Kalimat atau wasiat takwa ini banyak disampaikan, namun sedikit sekali yang mengamalkan.”
BACA JUGA: Saudaraku, Dunia Ini Sekadar Sayap Nyamuk dan Menipu
Saudaraku,
Ucapan ini menggugah hati kita, karena diakui atau tidak, sering kali kita mudah menasihati orang lain untuk bertakwa, tetapi kita sendiri lalai mengamalkannya. Kita tahu apa itu takwa, tetapi ketika diuji oleh harta, jabatan, atau kemewahan dunia, takwa sering kali tergeser oleh hawa nafsu.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan tentang sebenar-benar takwa:
“Yaitu ketika seseorang selalu ingat kepada Allah dan tidak lupa, selalu bersyukur kepada Allah dan tidak kufur kepada-Nya, serta selalu taat kepada Allah dan tidak bermaksiat kepada-Nya.”
Saudaraku,
Tiga hal sederhana, tetapi begitu sulit dilakukan secara konsisten: mengingat Allah, bersyukur, dan selalu taat. Ketiga hal ini, jika diamalkan, akan membuat hidup menjadi lebih tenang, langkah terasa lebih ringan, dan hati pun lebih lapang.
Pernahkah kita berpikir, apa yang akan terjadi seandainya Allah memanggil kita saat kita sedang lupa kepada-Nya? Atau saat kita sedang larut dalam kemaksiatan? Bukankah itu hal yang paling kita takutkan? Karena itulah Allah menegaskan: “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” Ini adalah puncak cita-cita setiap mukmin—meninggal dalam keadaan Islam, dalam kondisi hati yang tunduk kepada-Nya.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata:
“Takwa kepada Allah adalah dengan menghindari apa yang diharamkan dan menjalankan apa yang diwajibkan.”
Betapa sering kita meremehkan dosa kecil, padahal dosa kecil yang terus dilakukan bisa menjadi besar di sisi Allah. Begitu juga, betapa sering kita lalai dalam menjalankan perintah-Nya, padahal ketaatan yang terus dijaga dapat menjadi penyebab rahmat Allah turun kepada kita.
Saudaraku,
Renungkanlah sejenak: apa gunanya semua pencapaian dunia, jika kelak kita meninggal dalam keadaan hati yang jauh dari Allah? Apa artinya kemewahan dan sanjungan manusia, jika saat nyawa terlepas, kita tidak membawa takwa sebagai bekal? Bukankah Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Takwa adalah bekal terbaik, bukan hanya untuk akhirat, tetapi juga untuk kehidupan di dunia. Dengan takwa, hati menjadi kuat menghadapi ujian, pikiran lebih tenang, dan doa-doa lebih mudah diijabah. Allah sendiri menjanjikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertakwa:
BACA JUGA: Saudaraku, Sedekah Pagi Itu …
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (QS At-Talaq: 2-3)
Saudaraku,
Mari kita jadikan renungan ini sebagai pengingat untuk diri sendiri. Jangan biarkan umur berlalu sia-sia tanpa diiringi ketakwaan yang sejati. Mari kita perbanyak dzikir, syukur, dan ketaatan, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud. Karena hanya dengan takwa, kita bisa berharap wafat dalam keadaan yang paling mulia: sebagai seorang Muslim yang diridhai Allah. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

