Home IbadahBekal Menuju Surga: Keutamaan Memperbanyak Sujud

Bekal Menuju Surga: Keutamaan Memperbanyak Sujud

Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk kembali bersujud, menenggelamkan segala keluh kesah kepada Allah. Karena hanya di hadapan-Nya kita menemukan kelegaan sejati.

by Abu Umar
0 comments 246 views

Diriwayatkan dari Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami, ia berkata, “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah ﷺ, lalu aku mendatangi beliau sambil membawa air untuk wudhu’ beliau. Kemudian beliau berkata kepadaku, ‘Mintalah.’ Aku berkata, ‘Aku minta untuk dapat menemanimu di surga.’ Kemudian beliau berkata, ‘Atau selain itu?’ Aku berkata, ‘Itu saja.’ Lalu beliau ﷺ bersabda, ‘Tolonglah aku atas dirimu dengan banyak bersujud’,” (HR. Muslim, no. 489).

Kisah sederhana ini memuat pelajaran mendalam. Permintaan Rabi’ah bukanlah sesuatu yang bersifat duniawi, tetapi permintaan untuk menemani Nabi ﷺ di surga. Nabi pun memberikan satu nasihat: memperbanyak sujud. Nasihat ini bukan hanya sekadar isyarat untuk memperbanyak shalat, tetapi juga sebagai tanda ketaatan, kerendahan hati, dan keikhlasan kepada Allah.

Sujud adalah posisi terendah seorang hamba di hadapan Allah, sekaligus yang paling mulia. Dalam sujud, manusia benar-benar menanggalkan kesombongan dan merasa lemah di hadapan Rabb-nya. Sujud menjadi lambang penghambaan total, di mana hati tunduk dan lidah bertasbih.

BACA JUGA:  Keutamaan Wudhu: Jalan Menuju Surga

Dalam sebuah hadis shahih yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang hamba bersujud sekali sujud karena Allah, melainkan Allah akan mengangkatnya satu derajat dan menghapus darinya satu kesalahan,” (HR. Muslim, no. 488). Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan memperbanyak sujud. Sujud bukan hanya bentuk ibadah fisik, melainkan juga menjadi sebab diangkatnya derajat seorang hamba di sisi Allah.

Lebih jauh, orang-orang yang gemar bersujud juga mendapatkan keistimewaan di akhirat. Dalam hadis Shahihain, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa pada hari kiamat, Allah memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan dari neraka siapa saja yang pernah bersujud kepada-Nya. Para malaikat mengenali mereka dari bekas sujud di anggota tubuh mereka. Api neraka diharamkan membakar bekas sujud tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim).

Bekas sujud yang dimaksud bukan hanya bekas fisik yang tampak di dahi, tetapi lebih dari itu adalah bekas ketaatan, ketundukan, dan kedekatan seorang hamba kepada Rabb-nya. Inilah yang menjadi tanda istimewa yang Allah muliakan di hari kiamat.

Para ulama salaf pun sangat memperhatikan anjuran ini. Imam Hasan Al-Bashri berkata, “Perbanyaklah sujud kepada Allah di rumahmu, karena tidaklah ada suatu waktu yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya kecuali ketika ia sedang bersujud.” Sujud menjadi saat paling mulia untuk memanjatkan doa dan curahan hati, karena saat itu seorang hamba benar-benar dekat dengan Allah.

Dalam Al-Qur’an, Allah juga menegaskan keutamaan sujud. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu, mereka menyungkur sujud dan bertasbih memuji Tuhan mereka, dan mereka tidak menyombongkan diri,” (QS. As-Sajdah: 15).

Orang-orang yang bersujud karena Allah adalah mereka yang tidak menyombongkan diri, selalu tunduk dan patuh kepada perintah-Nya. Mereka adalah hamba-hamba pilihan yang dijanjikan pahala besar dan syafa’at kelak di hari pembalasan.

BACA JUGA:  Keutamaan Sujud Tilawah

Sujud juga menjadi penyejuk hati dalam menghadapi ujian hidup. Setiap kali dada terasa sempit, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk kembali bersujud, menenggelamkan segala keluh kesah kepada Allah. Karena hanya di hadapan-Nya kita menemukan kelegaan sejati.

Menutup tulisan ini, renungkanlah nasihat Nabi ﷺ kepada Rabi’ah bin Ka’ab: “Tolonglah aku atas dirimu dengan banyak bersujud.” Jadikan sujud sebagai amalan yang memperkuat hubungan kita dengan Allah, sebagai bekal menuju surga, dan sebagai perisai dari api neraka.

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk senantiasa memperbanyak sujud, mengikhlaskan hati dalam beribadah, dan kelak dikumpulkan bersama Rasulullah ﷺ di surga. []

Referensi:
Shahih Muslim no. 489, no. 488
Shahih Bukhari dan Muslim (Bab Syafa’at)
QS. As-Sajdah: 15
Kitab Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim
Sarh Riyadhus Shalihin karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119