Home NasihatMutiara Nasihat Ali bin Abi Thalib

Mutiara Nasihat Ali bin Abi Thalib

(Sahabat, Madinah, w. 40 H)

by Abu Umar
0 comments 346 views

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah ﷺ. Ia termasuk orang pertama yang memeluk Islam dari kalangan anak-anak, bahkan disebut dalam banyak riwayat bahwa ia masuk Islam pada usia 10 tahun. Ali tumbuh dalam asuhan Nabi ﷺ, sehingga kepribadian dan akhlaknya sangat dipengaruhi oleh bimbingan kenabian.

Dalam kitab-kitab sirah seperti Sirah Ibn Hisham dan Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, disebutkan bahwa Ali memiliki keberanian yang luar biasa, ilmu yang mendalam, serta zuhud terhadap dunia. Ia turut serta dalam banyak peperangan besar seperti Badar, Uhud, dan Khandaq, dan dikenal sebagai pendekar yang tidak gentar dalam membela agama Allah.

Setelah wafatnya Utsman bin ‘Affan, Ali diangkat sebagai khalifah keempat dari Khulafaur Rasyidin. Masa kekhalifahannya dipenuhi dengan ujian berat, termasuk fitnah internal umat Islam yang menyebabkan pecahnya Perang Jamal dan Perang Shiffin. Meskipun begitu, Ali tetap memegang teguh prinsip keadilan dan kebenaran, sebagaimana dituturkan dalam Tarikh al-Tabari dan Sirah al-Khulafa karya Imam as-Suyuthi.

BACA JUGA:  Mutiara Nasihat dari Hudzaifah bin Yaman

Ia dikenal sebagai sosok yang fasih dalam berbicara dan sangat luas ilmunya; banyak ulama setelahnya yang mengutip ucapan-ucapannya. Ali wafat pada tahun 40 Hijriyah setelah ditikam oleh kaum Khawarij saat hendak shalat Subuh. Warisannya yang paling agung adalah keteladanan dalam keberanian, keilmuan, dan keteguhan dalam kebenaran.

Berikut adalah beberapa nasihatnya.

عَنْ عَبْدِ خَيْرٍ عَنْ عَلِيَّ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ : لَيْسَ الْخَيْرُ أَنْ يَكْثُرَ مَالُكَ وَوَلَدُكَ وَلَكِنَّ الْخَيْرُ أَنْ يَكْثُرَ عَمَلُكَ وَيَعْظُمَ حِلْمُكَ، وَلَا خَيْرَ فِي الدُّنْيَا إِلَّا لِأَحَدٍ رَجُلَيْنِ رَجُلُ أَذْنَبَ ذُنُوبًا فَهُوَ يَتَدَارَكُ ذَكَ بِتَوْبَةٍ أَوْ رَجُلٌ يُسَارِعُ فِي الْخَيْرَاتِ، وَلَا يَقِلُّ عَمَلُ فِي تَقْوَى وَكَيْفَ يَقِلُّ مَا يُتَقَبَّلُ.

Dari Abdu Khair dari Ali berkata, “Kebaikan itu bukan dengan bertambahnya harta dan anak tetapi kebaikan itu adalah bertambah banyaknya amal dan besarnya belas kasih. Tidak ada kebaikan di dunia kecuali milik salah satu dari dua orang, yaitu orang yang berbuat dosa lalu dia mengiringinya dengan taubat, atau orang yang bersegera dalam kebaikan-kebaikan. Amal yang disertai takwa tidaklah (berpahala) sedikit, bagaimana mungkin amalan yang pasti diterima itu (berpahala) sedikit?.” (1/321).

وَعَنْ مُهَاجِرِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ : قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ : إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ اتَّبَاعُ الْهَوَى وَطُوْلُ الْأَمَلِ، فَأَمَّا اتَّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ

عَنِ الحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ، أَلَا وَإِنَّ الدُّنْيَا قَدْ تَرَخَّلَتْ مُدْبِرَةً، أَلَا وَإِنَّ الْآخِرَةَ قَدْ تَرَحْلَتْ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُوْنُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ، وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ اليَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابُ وَلا عَمَلُ.

Dari Muhajir bin Umair berkata, Ali bin Abi Thalib berkata, “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu bisa menghalangi kebenaran, sedangkan panjang angan-angan bisa melupakan seseorang dari akhirat. Ketahuilah bahwa dunia berpaling menjauh dan akhirat kian mendekat, dan masing. masing memiliki pengikut maka jadilah kalian pengikut akhirat, dan jangan menjadi pengikut dunia. Sesungguhnya hari ini adalah waktu untuk beramal tanpa ada hisab, dan esok (di akhirat) adalah waktu hisab bukan waktu untuk beramal.” (1/321-322).

BACA JUGA: 

banner

8 Nasihat Lukman Al-Hakim pada Anaknya

وَعَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ عَنْ عَلِيَّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَلَا إِنَّ الْفَقِيْهَ الَّذِي لَا يُقَنَّطُ النَّاسَ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ، وَلَا يُؤَمِّنُهُمْ مِنْ عَذَابٍ اللهِ، وَلَا يُرَخَّصُ لَهُمْ فِي مَعَاصِي اللَّهِ وَلَا يَدَعُ الْقُرْآنَ رَغْبَةً عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ، وَلَا خَيْرَ فِي عِبَادَةٍ لَا عِلْمَ فِيهَا وَلَا خَيْرَ فِي عِلْمٍ لا فَهُمَ فِيْهِ وَلَا خَيْرَ فِي قِرَاءَةٍ لَا تَدَبُّرَ فِيهَا.

Dari Ashim bin Dhamrah, dari Ali berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya orang fakih adalah orang yang tidak membuat manusia putus asa dari rahmat Allah, tidak membuat mereka merasa aman dari adzab-Nya dan tidak terlalu memudahkan mereka untuk bermaksiat kepada-Nya serta tidak meninggalkan Al-Qur’an karena benci dengan mencari selain Al-Qur’an. Tidak ada kebaikan di dalam ibadah yang tidak disertai dengan ilmu. Tidak ada kebaikan pada ilmu yang tidak disertai dengan pemahaman dan tidak ada kebaikan di dalam membaca yang tidak disertai dengan tadabbur.” (1/325-326). []

Sumber: Ensklopedia Hikmah / Penulis: Ibnul Andil Bari El-“Afifi / Penerbit: Kuttab / Cetakan 1, 2021

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119