Sabtu, 7 November 2026

Bahaya Ghibah yang Sering Diremehkan, Dosa yang Melukai Tanpa Terlihat

Lisan adalah nikmat Allah yang seharusnya digunakan untuk berkata baik, bukan untuk merendahkan kehormatan orang lain.

Namun, tanpa disadari, banyak orang menjadikan keburukan orang lain sebagai bahan obrolan sehari-hari.

Ghibah sering dianggap candaan biasa, padahal Islam memberikan peringatan keras tentang bahaya perbuatan ini.

BACA JUGA: Dosa-Dosa Diampuni pada Hari Senin dan Kamis

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ghibah adalah ketika seseorang membicarakan saudaranya dengan sesuatu yang tidak disukainya.

Para sahabat bertanya, bagaimana jika yang dibicarakan itu benar adanya, lalu beliau menjelaskan bahwa itulah ghibah, sedangkan jika tidak benar, itu adalah dusta terhadapnya. (HR. Muslim)

Allah bahkan mengumpamakan orang yang menggunjing saudaranya seperti orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri dalam Surah Al-Hujurat ayat 12.

Perumpamaan ini mengingatkan kita betapa buruknya ghibah di sisi Allah, meskipun terasa ringan di lidah manusia.

Terkadang, ghibah bermula dari obrolan santai, candaan, atau keinginan untuk membuat orang lain tertawa.

Ada pula yang melakukannya dengan alasan sekadar bercerita, padahal pembicaraan itu merusak kehormatan seseorang.

Kita sering sibuk menilai kekurangan orang lain, tetapi lupa bahwa diri sendiri juga penuh kekurangan yang perlu diperbaiki.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ghibah termasuk perbuatan yang diharamkan, kecuali dalam keadaan tertentu yang dibenarkan oleh syariat.

Karena itu, kita perlu berhati-hati sebelum menceritakan keburukan seseorang, sekalipun cerita tersebut benar.

Jangan sampai lisan kita menjadi sebab pahala berkurang dan hubungan persaudaraan rusak.

Jika sebuah pembicaraan tidak membawa manfaat, lebih baik kita diam daripada menambah dosa.

Ketika teman mulai membicarakan aib orang lain, cobalah mengalihkan pembicaraan kepada hal yang lebih baik.

Jika terlanjur berghibah, segeralah bertobat kepada Allah dan bertekad untuk tidak mengulanginya.

Gunakan lisan untuk berzikir, membaca Al-Qur’an, menyampaikan nasihat, dan menghibur orang yang sedang bersedih.

Ingatlah bahwa setiap ucapan manusia berada dalam pengawasan Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban.

BACA JUGA: Menjaga Diri dari Dosa Besar dan Pentingnya Saling Mengingatkan

Jangan merasa aman hanya karena orang yang kita bicarakan tidak mendengar perkataan kita.

Bisa jadi, orang yang kita rendahkan di hadapan manusia memiliki kedudukan mulia di sisi Allah.

Mari menjaga lisan sebelum penyesalan datang dan memperbaiki diri sebelum sibuk mencari kesalahan orang lain.

Semoga Allah menjaga lisan dan hati kita dari ghibah serta menjadikan kita hamba yang gemar berkata baik dan menutup aib sesama.[]

Tinggalkan komentar