Minggu, 8 November 2026

Satu Bangunan

Puasa

Tidak ada manusia yang mampu menjalani kehidupan sendirian. Ada saatnya kita kuat, tetapi ada pula waktu ketika kita lemah dan membutuhkan pertolongan. Dalam kehidupan kaum Muslimin, Allah mengajarkan bahwa sesama Mukmin bukanlah orang asing yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan saudara yang saling menguatkan.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا، وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

“Sesungguhnya seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” Kemudian beliau menganyam jari-jemarinya. (HR. Bukhari, no. 481).

BACA JUGA: Asal Mula Bangunan Sumur Air Zam-Zam

Perumpamaan ini begitu indah. Sebuah bangunan tidak akan berdiri kokoh hanya dengan satu batu. Setiap bagian memiliki fungsi dan saling menopang. Jika satu bagian melemah, bagian lainnya membantu menjaga kekuatan bangunan tersebut.

Demikian pula kaum Muslimin. Ada yang memiliki ilmu, ada yang memiliki harta, ada yang kuat dalam tenaga, dan ada pula yang mampu menguatkan orang lain melalui nasihat serta doa. Perbedaan kemampuan bukan alasan untuk saling merendahkan, tetapi kesempatan untuk saling melengkapi.

Ketika saudara kita mengalami kesulitan, bantulah semampunya. Ketika ia melakukan kesalahan, nasihatilah dengan cara yang baik. Ketika ia memperoleh keberhasilan, ikutlah bergembira tanpa iri hati. Dan ketika ia sedang lemah dalam ketaatan, jangan terburu-buru mencela, tetapi bantulah agar ia kembali mendekat kepada Allah.

Persaudaraan iman juga menuntut kita menjaga lisan dan sikap. Jangan sampai tangan kita membantu seseorang, tetapi ucapan kita justru melukai hatinya. Jangan sampai kita berbicara tentang persatuan, sementara kita mudah menyebarkan prasangka dan memperbesar perselisihan.

BACA JUGA: Tiga Amal yang Terus Mengalir setelah Kematian

Bangunan yang kokoh bukan terbentuk karena setiap bagiannya sama, melainkan karena setiap bagian saling menguatkan.

Begitu pula umat Islam. Kita tidak harus memiliki kemampuan yang sama untuk memberikan manfaat. Yang diperlukan adalah hati yang ikhlas, kepedulian yang nyata, dan kesediaan untuk saling menopang dalam kebaikan.

Mari menjadi saudara yang kehadirannya menguatkan, bukan melemahkan; yang ucapannya menenangkan, bukan menyakiti; dan yang keberadaannya membantu orang lain semakin dekat kepada Allah. []

Tinggalkan komentar