Ada orang yang hatinya selalu gelisah karena dunia yang belum dimiliki. Ia melihat apa yang ada pada orang lain, lalu merasa hidupnya kurang beruntung. Padahal, belum tentu sesuatu yang ia inginkan itu baik bagi dirinya.
Orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama memiliki cara pandang yang berbeda. Ia tetap berusaha mencari rezeki, meraih prestasi, dan memperbaiki kehidupannya. Namun, ia tidak membiarkan dunia menguasai hatinya.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Engkau akan mendapati orang-orang yang mementingkan akhirat tidak memperdulikan apa saja dari dunia yang terluput dari mereka. Jika ada sesuatu dari dunia yang datang kepada mereka, mereka menerimanya. Jika ada sesuatu yang terluput dari mereka, mereka tidak memperdulikannya.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 3/48).
BACA JUGA: Teman Sejati di Kuburan Bukan yang Kita Cintai di Dunia
Perkataan ini bukan ajakan untuk bermalas-malasan atau meninggalkan ikhtiar. Seorang muslim tetap diperintahkan bekerja, berusaha, dan mengambil sebab-sebab yang halal. Namun, ia memahami bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya berada di tangannya.
Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika kehilangan sesuatu, ia bersabar. Ketika harapannya belum terwujud, ia tidak berburuk sangka kepada Allah. Ia meyakini bahwa kehidupan dunia bukanlah satu-satunya tempat untuk memperoleh kebahagiaan.
Allah berfirman, “Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 23).
Ayat ini mengajarkan keseimbangan hati. Bukan berarti seorang mukmin tidak boleh merasa sedih atau bahagia, melainkan ia tidak membiarkan keduanya menjauhkan dirinya dari ketaatan kepada Allah.
BACA JUGA: Hadist: Hina dan Rendahnya Dunia
Betapa melelahkan hidup jika kebahagiaan selalu diukur dengan apa yang berhasil kita kumpulkan. Akan selalu ada orang yang lebih kaya, lebih berhasil, atau lebih beruntung menurut pandangan kita.
Karena itu, jangan habiskan umur untuk meratapi dunia yang tidak menjadi bagian kita. Bisa jadi, sesuatu yang kita tangisi karena kehilangannya justru menyimpan kebaikan yang belum kita pahami.
Teruslah berusaha, tetapi jangan menggantungkan ketenangan hati pada hasilnya. Sebab, tujuan terbesar seorang mukmin bukanlah mendapatkan seluruh yang diinginkan di dunia, melainkan meraih rida Allah dan keselamatan di akhirat. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

