Home KajianAkibat dari Kecanduan Menuruti Hawa Nafsu

Akibat dari Kecanduan Menuruti Hawa Nafsu

Kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika seseorang mampu mengendalikan keinginannya.

by Abu Umar
0 comments 31 views

Hawa nafsu adalah bagian dari diri manusia. Islam tidak mengajarkan manusia untuk menghilangkan seluruh keinginan, tetapi mengajarkan agar keinginan tersebut dikendalikan dan diarahkan kepada sesuatu yang halal dan diridhai Allah.

Masalahnya muncul ketika seseorang mulai menjadikan hawa nafsu sebagai pemimpin hidupnya.

Ia selalu mengikuti apa yang diinginkan. Sedikit demi sedikit, ia terbiasa menuruti keinginan tanpa mempertimbangkan halal dan haram, manfaat dan mudarat, serta akibatnya bagi kehidupan akhirat.

Ketika Kenikmatan Berubah Menjadi Kecanduan

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Hendaknya orang yang berakal mengetahui bahwa orang-orang yang kecanduan menuruti hawa nafsu akan sampai pada suatu kondisi di mana mereka tidak lagi merasakan kenikmatan dengannya. Padahal, bersamaan dengan itu mereka juga tidak mampu meninggalkannya.”

(Raudhah al-Muhibbin, 1/470)

BACA JUGA:  Doa: Ya Allah, Jauhkan Kami dari Buruknya Akhlak, Perbuatan, Hawa Nafsu, dan Penyakit

Perkataan ini sangat dalam.

Pada awalnya, seseorang mungkin merasakan kenikmatan ketika mengikuti hawa nafsunya. Ia mengira bahwa semakin banyak dituruti, semakin bahagia hidupnya.

Namun, hawa nafsu memiliki sifat yang tidak pernah merasa cukup.

Apa yang dahulu terasa menyenangkan, lama-kelamaan menjadi sesuatu yang biasa. Akhirnya, ia membutuhkan sesuatu yang lebih besar untuk mendapatkan kenikmatan yang sama.

Tidak Lagi Menikmati, Tetapi Tidak Bisa Meninggalkan

Inilah salah satu bahaya terbesar kecanduan hawa nafsu.

Seseorang bisa sampai pada keadaan ketika ia tidak benar-benar menikmatinya, tetapi juga merasa tidak mampu meninggalkannya.

Ia sudah tahu bahwa kebiasaan tersebut merusak dirinya.

Ia sudah mengetahui bahwa itu mengurangi keberkahan hidupnya.

Bahkan, terkadang hatinya sendiri merasa lelah.

Namun, ia tetap kembali melakukannya.

Inilah keadaan yang sangat memprihatinkan.

Hawa nafsu yang awalnya hanya menjadi keinginan akhirnya berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan berubah menjadi ketergantungan. Dan ketergantungan membuat seseorang sulit melepaskan diri.

Hawa Nafsu Bisa Menguasai Hati

Ketika seseorang terus-menerus mengikuti hawa nafsu, kemampuan untuk mengatakan “tidak” menjadi semakin lemah.

Ia tahu sesuatu itu buruk, tetapi tetap dilakukan.

Ia tahu sesuatu itu berlebihan, tetapi tetap dicari.

Ia tahu sesuatu itu menjauhkan dirinya dari Allah, tetapi tetap dipertahankan.

Pada akhirnya, bukan lagi manusia yang mengendalikan keinginannya.

Keinginannyalah yang mengendalikan dirinya.

Karena itu, jangan menunggu sampai hati benar-benar terikat kepada hawa nafsu.

Lawan dengan Mujahadah

Meninggalkan hawa nafsu memang tidak selalu mudah.

Namun, seorang mukmin harus berusaha melawannya.

Ketika muncul keinginan yang haram, segera tinggalkan.

Ketika hati mengajak kepada kemaksiatan, ingatlah bahwa Allah melihat kita.

Ketika dorongan untuk kembali kepada kebiasaan buruk muncul, mintalah pertolongan kepada Allah.

Jangan memberikan kesempatan kepada hawa nafsu untuk terus berkembang.

Sebab, sesuatu yang kecil jika terus dipelihara bisa menjadi sangat besar.

BACA JUGA:  Mujahadah (Bersungguh-sungguh Melawan Hawa Nafsu)

Jangan Menjadi Budak Keinginan

Kebahagiaan bukanlah ketika seseorang mampu mendapatkan semua yang diinginkannya.

Kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika seseorang mampu mengendalikan keinginannya.

Ia bisa berkata tidak ketika hawa nafsu mengajaknya kepada keburukan.

Ia mampu meninggalkan sesuatu yang disukai karena Allah.

Ia rela kehilangan kenikmatan sesaat demi keselamatan di akhirat.

Maka, mari bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kita yang mengendalikan hawa nafsu, atau justru hawa nafsu yang sedang mengendalikan kita?

Jangan sampai kita menjadi orang yang terus mengejar kenikmatan, tetapi akhirnya tidak lagi merasakan nikmatnya.

Dan lebih buruk lagi, sudah tidak menikmatinya, tetapi tidak mampu meninggalkannya.

Semoga Allah menyucikan hati kita, menguatkan kita dalam melawan hawa nafsu, dan menjadikan kita hamba yang lebih mencintai keridhaan-Nya daripada mengikuti keinginan diri sendiri. []

Sumber: Ibnul Qayyim rahimahullah, Raudhah al-Muhibbin, 1/470.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119