Home RenunganBolehkah Kita Mencari Hikmah di Balik Perintah Allah?

Bolehkah Kita Mencari Hikmah di Balik Perintah Allah?

Jika pertanyaan tersebut diajukan untuk menambah ilmu, memperkuat iman, dan meningkatkan keyakinan, maka hal tersebut tidaklah tercela.

by Abu Umar
0 comments 5 views

Setelah memahami bahwa setiap ketetapan Allah mengandung hikmah, muncul pertanyaan:

Bolehkah seorang Muslim mencari tahu hikmah di balik perintah, larangan, dan takdir Allah?

Jawabannya: boleh. Bahkan, jika dilakukan dengan niat yang benar, hal itu dapat menjadi sebab bertambahnya iman dan keyakinan.

Para ulama sejak dahulu berusaha memahami hikmah di balik sebagian hukum syariat dan ketetapan Allah.

Ketika mereka menemukan petunjuk mengenai hikmah tersebut, mereka menyampaikannya agar iman dan keyakinan kaum Muslimin semakin bertambah.

Namun, apabila mereka tidak menemukan hikmahnya, mereka tetap meyakini bahwa di balik setiap hukum syariat dan ketetapan Allah pasti terdapat hikmah.

Sebab, keterbatasan manusia dalam mengetahui hikmah tidak berarti bahwa hikmah itu tidak ada.

BACA JUGA:  Muliakanlah Perintah Allah di Mana Saja Kamu Berada

Mencari Hikmah untuk Menambah Iman

Seorang Muslim boleh bertanya:

“Kenapa Allah memerintahkan hal ini?”

“Apa hikmah di balik larangan tersebut?”

“Mengapa syariat menetapkan hukum seperti ini?”

Jika pertanyaan tersebut diajukan untuk menambah ilmu, memperkuat iman, dan meningkatkan keyakinan, maka hal tersebut tidaklah tercela.

Bahkan, para sahabat Rasulullah Muhammad ﷺ pernah bertanya kepada beliau tentang hikmah di balik beberapa perkara.

Allah Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan bagi ibadah haji.’” (QS. Al-Baqarah: 189)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa bertanya tentang hikmah suatu perkara dengan tujuan menambah pengetahuan adalah sesuatu yang tidak mengapa.

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum juga bertanya kepada Rasulullah Muhammad ﷺ tentang hikmah di balik beberapa perkara.

Pertanyaan semacam ini merupakan bentuk mencari ilmu.

Dengan ilmu tersebut, seorang mukmin dapat bertambah iman dan pengetahuannya.

(Tafsir Al-‘Utsaimin: Al-Fatihah wal-Baqarah, 1/133)

Tetapi Jangan Jadikan Hikmah sebagai Syarat untuk Taat

Ada perbedaan yang sangat penting antara mencari hikmah dan menjadikan hikmah sebagai syarat untuk menerima syariat.

Mencari hikmah dengan niat memahami dan menambah iman adalah sesuatu yang baik.

Namun, mengatakan:

“Saya tidak mau melaksanakan perintah ini sebelum saya mengetahui alasannya.”

atau:

“Saya tidak mau menerima hukum ini karena saya belum memahami hikmahnya.”

adalah perkara yang berbeda.

Sikap seperti ini merupakan bentuk penyimpangan.

Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa apabila seseorang bertanya tentang hikmah suatu perkara dengan tujuan mencari ilmu, maka tidak ada masalah.

Namun, jika seseorang mengatakan bahwa dirinya tidak akan menerima suatu hukum atau tidak akan melaksanakannya kecuali setelah mengetahui hikmahnya, maka ini merupakan kesesatan dan sikap sombong terhadap kebenaran.

Ini juga merupakan bentuk mengikuti hawa nafsu.

Akibatnya, ajaran Islam seolah-olah dijadikan sesuatu yang harus mengikuti keinginan manusia, bukan sesuatu yang harus diikuti oleh manusia.

(Tafsir Al-‘Utsaimin: Al-Fatihah wal-Baqarah, 1/133)

Ibnul Qayyim: Hikmah Dapat Menambah Semangat untuk Taat

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa apabila dalil-dalil syariat menyebutkan hikmah di balik suatu perintah, atau hikmah tersebut dapat diketahui melalui akal yang sehat, maka hal itu dapat memberikan manfaat besar bagi seorang Muslim.

Mengetahui hikmah dapat membuat seseorang memiliki pemahaman yang lebih mendalam.

Ia juga dapat semakin termotivasi untuk menjalankan perintah tersebut.

Namun, bagaimana jika kita tidak mengetahui hikmahnya?

Apakah ketaatan kita harus berkurang?

Tidak.

Tidak mengetahui hikmah suatu perintah Allah tidak boleh membuat seorang Muslim kehilangan semangat untuk melaksanakannya.

Tidak pula boleh melemahkan ketundukannya kepada syariat.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Jika dalil-dalil syariat menunjukkan hikmah di balik suatu perintah, atau hikmah tersebut dapat diketahui melalui akal, maka hal itu dapat menambah pemahaman seorang Muslim dan meningkatkan motivasinya untuk menaati perintah tersebut.”

Namun, apabila seorang Muslim tidak menemukan petunjuk mengenai hikmah suatu perintah Allah, hal itu tidak boleh melemahkan tekadnya untuk melaksanakan perintah tersebut.

Orang yang benar-benar mengagungkan perintah Allah akan menerima perintah dan larangan-Nya sebagaimana adanya.

Ia tidak menjadikan ketidaktahuannya terhadap hikmah sebagai alasan untuk memperdebatkan syariat.

Apalagi sampai mencari-cari alasan yang dapat merusak keyakinannya terhadap perintah Allah atau mengurangi keindahan syariat.

(As-Sawa’iq al-Mursalah, 2/1131)

Jangan Sampai Akal Menjadi Hakim atas Wahyu

Di sinilah seorang Muslim perlu berhati-hati.

Islam tidak melarang manusia menggunakan akalnya.

Sebaliknya, banyak ayat Al-Qur’an yang mengajak manusia berpikir dan merenungkan ciptaan Allah.

Namun, akal manusia memiliki keterbatasan.

Tidak semua hikmah yang Allah tetapkan mampu kita jangkau.

Karena itu, ketika kita menemukan hikmah di balik suatu hukum, kita bersyukur.

Kita jadikan pengetahuan tersebut sebagai tambahan iman.

Namun, ketika kita belum menemukan hikmahnya, kita tetap tunduk.

Kita tetap melaksanakan perintah Allah.

Kita tetap meninggalkan larangan-Nya.

Sebab, kita menyembah Allah, bukan menyembah pemahaman kita sendiri terhadap hikmah syariat.

Seorang hamba tidak berkata:

“Jika saya memahami, saya akan taat.”

Tetapi ia berkata:

“Allah telah memerintahkan, maka saya taat.”

Jika kemudian Allah memberikan pemahaman tentang hikmah di balik perintah tersebut, itu menjadi nikmat tambahan.

Dua Sikap yang Harus Dibedakan

Maka, ada dua sikap yang perlu kita bedakan.

Pertama, bertanya untuk mencari ilmu.

Seseorang ingin memahami hikmah di balik suatu hukum agar iman dan keyakinannya bertambah.

Ini adalah sikap yang baik.

Kedua, bertanya untuk menolak dan membantah.

Seseorang tidak mau menerima perintah Allah sebelum hikmahnya sesuai dengan akal atau keinginannya.

Ini merupakan sikap yang berbahaya.

Bahkan, mempertanyakan hikmah dengan tujuan membantah dapat menjadi salah satu sebab kesesatan dan berburuk sangka kepada Allah Ta’ala.

Seorang mukmin harus berhati-hati agar pencarian terhadap hikmah tidak berubah menjadi keberatan terhadap syariat.

BACA JUGA: Hikmah Diutusnya Para Rasul

Taat Tidak Harus Menunggu Kita Memahami Semuanya

Ada banyak perkara dalam syariat yang hikmahnya mungkin dapat kita pahami.

Namun, ada pula perkara yang hikmahnya tidak kita ketahui.

Dan itu bukan masalah.

Kita tidak harus mengetahui seluruh alasan di balik perintah Allah untuk dapat menaati-Nya.

Ketika dokter yang terpercaya memberikan obat kepada seseorang, terkadang pasien tidak memahami seluruh proses bagaimana obat tersebut bekerja.

Namun, ia tetap meminumnya karena percaya kepada keahlian dokter tersebut.

Lalu bagaimana dengan Rabb Yang Maha Mengetahui segala sesuatu?

Allah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui.

Allah melihat apa yang tidak mampu kita lihat.

Allah mengetahui akibat dari setiap perkara.

Karena itu, seorang mukmin belajar untuk berkata:

“Aku belum memahami hikmahnya, tetapi aku yakin Allah Mahabijaksana.”

Inilah sikap yang benar.

Carilah hikmah untuk menambah iman.

Pelajarilah syariat untuk menambah ilmu.

Renungkanlah perintah Allah untuk semakin mencintai-Nya.

Namun, jangan pernah menjadikan ketidaktahuan terhadap hikmah sebagai alasan untuk menolak ketaatan.

Sebab, kesempurnaan iman bukanlah ketika kita memahami segala sesuatu yang Allah perintahkan, tetapi ketika kita tetap tunduk kepada-Nya meskipun tidak memahami semuanya.

Wallahu a’lam. []

SUMBER: ISLAMQA

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119