Setiap manusia tentu membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan penghasilan, seseorang dapat memberi makan keluarganya, membayar kebutuhan sehari-hari, membantu orang lain, dan menunaikan kewajibannya.
Namun, Islam tidak hanya mengajarkan berapa banyak penghasilan yang diperoleh, tetapi juga mengajarkan dari mana penghasilan itu berasal dan bagaimana cara mendapatkannya.
Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang penghasilan yang paling baik.
أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ: كَسْبُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ، وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ
“Penghasilan apakah yang terbaik?” Beliau menjawab, “Penghasilan seseorang dari hasil jerih payah tangannya dan setiap jual-beli yang mabrur.” (HR. Al-Baihaqi dalam Ash-Shaghir, 2/237; dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib, no. 1688).
Hadis ini mengajarkan bahwa bekerja dan berusaha mencari rezeki dengan cara yang halal merupakan perkara yang mulia.
BACA JUGA: Hadist: Mendatangi Tukang Ramal, Shalat Tidak Diterima 40 Hari
“Jerih payah tangannya” menunjukkan usaha yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan penghasilan. Ia bekerja, berkarya, berdagang, bertani, membuat sesuatu, atau melakukan pekerjaan yang halal dan bermanfaat.
Ada kehormatan dalam keringat yang keluar ketika seseorang bekerja untuk mendapatkan rezeki halal.
Bukan masalah apakah pekerjaannya terlihat sederhana atau besar di mata manusia.
Yang terpenting adalah halal pekerjaannya dan baik cara mendapatkannya.
Hadis ini juga menyebutkan jual-beli yang mabrur. Artinya, transaksi yang baik dan sesuai dengan ketentuan syariat. Di dalamnya tidak ada penipuan, kecurangan, kezaliman, atau perkara yang diharamkan.
Sebab, penghasilan yang banyak tidak akan menjadi keberkahan apabila diperoleh dengan cara yang salah.
Sebaliknya, penghasilan yang mungkin terlihat sederhana di mata manusia dapat menjadi sangat bernilai ketika diperoleh dengan kejujuran dan usaha yang halal.
Maka, seorang Muslim tidak semestinya hanya bertanya, “Berapa yang saya dapat?”
Ia juga perlu bertanya, “Dari mana saya mendapatkannya?”
Apakah ada hak orang lain yang saya ambil?
Apakah saya pernah menipu?
Apakah saya menyembunyikan cacat barang?
Apakah saya mengurangi timbangan?
Apakah saya mendapatkan keuntungan dengan merugikan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting karena seorang Muslim tidak hanya mengejar penghasilan, tetapi juga mengejar keberkahan.
Rezeki yang halal mungkin tidak selalu membuat seseorang menjadi kaya.
BACA JUGA: Hadist: Jadilah di Dunia Seperti Orang Asing atau Musafir
Namun, rezeki halal memberikan ketenangan karena seseorang tidak perlu takut bahwa makanan yang masuk ke tubuhnya, pakaian yang dikenakannya, atau nafkah yang diberikan kepada keluarganya berasal dari sesuatu yang haram.
Karena itu, jangan pernah meremehkan pekerjaan halal hanya karena hasilnya belum besar.
Teruslah berusaha.
Jaga kejujuran.
Jaga amanah.
Jangan tergoda mengambil jalan pintas yang haram hanya karena ingin memperoleh keuntungan lebih cepat.
Sebab dalam pandangan Islam, keberhasilan bukan hanya tentang banyaknya harta yang terkumpul, tetapi juga tentang halalnya cara memperoleh dan baiknya cara menggunakan harta tersebut. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

