Home Nasihat UlamaBalasan bagi Orang yang Malu kepada Allah

Balasan bagi Orang yang Malu kepada Allah

Allah senantiasa mengawasi setiap lintasan hati, ucapan, dan perbuatannya.

by Abu Umar
0 comments 9 views

Rasa malu kepada Allah merupakan salah satu tanda hidupnya iman di dalam hati. Malu yang dimaksud bukan sekadar perasaan sungkan, tetapi rasa yang lahir karena menyadari bahwa Allah selalu melihat, mendengar, dan mengetahui segala sesuatu yang dilakukan oleh hamba-Nya. Rasa malu inilah yang menahan seorang mukmin dari perbuatan maksiat, meskipun tidak ada seorang manusia pun yang menyaksikannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sebuah kaidah yang sangat menyentuh tentang balasan bagi orang yang memiliki rasa malu kepada Allah. Beliau berkata,

ومن استحى من الله عند معصيته، استحى الله من عقوبته يوم يلقاه، ومن لم يستح من معصيته لم يستح الله من عقوبته.

“Barangsiapa yang merasa malu kepada Allah ketika ia bermaksiat kepada-Nya, niscaya Allah akan malu untuk menghukumnya pada hari ia bertemu dengan-Nya. Dan barangsiapa yang tidak malu bermaksiat kepada-Nya, niscaya Allah tidak akan malu untuk menghukumnya.” (Ad-Da’u wad Dawa’u, hlm. 69).

BACA JUGA: Malu: Mahkota Akhlak Seorang Muslim

Kalimat ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan rasa malu dalam Islam. Ketika seseorang hendak melakukan dosa, lalu ia teringat bahwa Allah sedang melihatnya, kemudian ia mengurungkan niatnya karena malu kepada Rabb-nya, maka rasa malu itu menjadi sebab datangnya rahmat dan ampunan Allah. Ia lebih memilih menahan hawa nafsunya daripada mengundang murka Allah.

Sebaliknya, hati yang telah kehilangan rasa malu akan menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa. Ia berani melanggar perintah Allah secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi tanpa sedikit pun merasa bersalah. Jika keadaan ini terus dibiarkan, hati akan semakin keras hingga sulit menerima nasihat dan petunjuk.

Tentu saja, sifat malu yang disandarkan kepada Allah bukanlah seperti rasa malu pada makhluk. Allah memiliki sifat-sifat yang sempurna sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa diserupakan dengan sifat makhluk. Karena itu, penjelasan Ibnul Qayyim dipahami sesuai dengan akidah Ahlus Sunnah, yaitu menetapkan apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan bagi-Nya tanpa menyerupakan, menolak, ataupun menyelewengkan maknanya.

BACA JUGA: Malu Berasal dari Kata “Hidup”: Tanpa Malu, Hatimu Mati

Seorang mukmin hendaknya selalu menumbuhkan rasa malu kepada Allah dalam setiap keadaan. Saat berada di tengah keramaian, ia malu berbuat maksiat. Saat sendirian, ia lebih malu lagi karena yakin tidak pernah benar-benar sendiri. Allah senantiasa mengawasi setiap lintasan hati, ucapan, dan perbuatannya.

Malu kepada Allah bukanlah beban, melainkan penjaga yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Semakin kuat rasa malu itu, semakin besar pula keinginan untuk memperbaiki diri, memperbanyak taubat, dan mendekatkan diri kepada Allah. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119