Ada orang yang lisannya begitu ringan mengucapkan laknat. Ketika marah, kecewa, atau kesal, kata-kata buruk segera keluar dari mulutnya. Padahal, seorang mukmin diajarkan untuk menjaga lisannya, karena setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Dari Jamudz al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
“Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat.”
Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Aku wasiatkan kepadamu, jangan menjadi tukang laknat.”
(HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 6858. Hadis ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah).
BACA JUGA: Hadist: Sehat Lebih Berharga daripada Kaya
Perhatikanlah, ketika seorang sahabat meminta nasihat yang paling bermanfaat, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam justru mengingatkan agar tidak menjadi orang yang gemar melaknat. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan melontarkan laknat adalah penyakit lisan yang sangat berbahaya.
Laknat berarti mendoakan agar seseorang dijauhkan dari rahmat Allah. Karena itu, ucapan seperti ini bukanlah perkara ringan. Seorang mukmin tidak pantas menjadikan laknat sebagai kebiasaan, baik kepada sesama manusia, hewan, benda, maupun keadaan yang menimpanya.
Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sebagai sosok yang penuh kasih sayang. Beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan sebagai pelaknat. Bahkan ketika disakiti, dihina, dan dilempari batu, beliau lebih memilih mendoakan hidayah daripada mengutuk orang-orang yang menyakitinya.
Lisan seorang mukmin seharusnya dipenuhi dengan zikir, doa, nasihat, dan ucapan yang membawa kebaikan. Jika melihat kemaksiatan, hendaknya mengingkarinya dengan cara yang benar. Jika melihat kesalahan saudaranya, hendaknya menasihati dengan hikmah. Bukan dengan mudah mengucapkan laknat yang hanya memperkeruh keadaan.
Imam Hasan al-Bashri rahimahullah pernah mengingatkan bahwa seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela dan mengutuk. Hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah, sehingga lisannya pun terjaga dari perkataan yang buruk.
BACA JUGA: Hadist: Hina dan Rendahnya Dunia
Di zaman media sosial seperti sekarang, wasiat Nabi ini menjadi semakin penting. Betapa mudah seseorang menulis komentar yang penuh caci maki, doa keburukan, dan laknat kepada orang lain hanya karena perbedaan pendapat. Padahal satu kalimat yang ditulis dapat menjadi dosa yang terus mengalir jika menyakiti banyak orang.
Saudaraku, marilah kita menjaga lisan dan jemari kita. Biasakan mengucapkan doa, bukan laknat. Tebarkan kasih sayang, bukan kebencian. Sebab, kemuliaan seorang mukmin bukan hanya terlihat dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari lembutnya tutur kata dan bersihnya lisan. Semoga Allah menjaga lisan kita agar senantiasa digunakan untuk mengingat-Nya, mengajak kepada kebaikan, dan menyebarkan rahmat kepada sesama. Aamiin. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

